
Seika melihat kertas berisi sebuah alamat dan memandang pintu pagar yang tertutup, wanita itu melihat nama yang tertempel di kayu memanjang ke bawah bertuliskan ‘Yamaguchi-gumi’, memastikan bahwa ia berada di alamat yang tepat.
“Ya. Alamatnya benar seperti yang Michio berikan” gumam Seika.
Beberapa detik kemudian pintu pagar di buka dari dalam dan tampak dua orang laki-laki memakai setelan jas menyambutnya. Mereka adalah Kenzo dan Botan.
Botan tampak terkejut dengan kehadiran Seika, ia segera membungkukkan badannya. “An...”
Sapaan Botan terputus ketika Kenzo memukul kepala laki-laki bertubuh buntal itu. Seika terkejut melihat adegan tidak terduga tersebut.
“Anda mencari siapa nona?” tanya Kenzo dengan wajah tenang namun suara laki-laki itu sedikit bergetar.
Seika terdiam sejenak, ia merasa familiar dengan kedua laki-laki di depannya. “Aku mencari Kenichi-san”.
Kenzo memasang wajah ceria agar terlihat ramah namun wajahnya yang tegang dan keningnya yang mengernyit dalam terlihat sebaliknya. “Apa anda sudah membuat janji bertemu dengan Kumicho?”.
“Baka(bodo), kenapa dia harus membuat janji, dia an..”
“Damare(diamlah) ” Sela Kenzo kembali memukul kepala Botan lalu menoleh kembali kepada Seika dengan senyuman yang lebar.
Seika semakin kebingungan dengan tingkah kedua laki-laki di depannya. “Aku belum membuat janji” Suara wanita itu sarat akan perasaan kecewa.
“Kalau begitu anda tidak bisa menemui Kumicho nona” ujar Kenzo.
“Oi oi, apa hakmu...”
Untuk sekian kalinya ujaran Botan terputus karena hantaman kuat Kenzo di kepalanya, laki-laki itu kembali meringis menahan sakit. Ia sama sekali tidak mengerti mengapa temannya berusaha sekuat tenaga melarang Seika bertemu dengan bos mereka.
Seika mengangguk mengerti, tentu saja ia tahu Kenichi bukan orang yang mudah untuk ditemui. Ia membalik badan dengan kecewa.
“Aiko-san” Panggil Akira yang baru saja tiba di depan pintu pagar.
Seika menoleh dan menatap Akira yang tersenyum pelan ke arahnya.
Kenzo dan Botan segera membungkukkan badan mereka. “ANIKI”.
“Kumicho sudah menunggu anda Aiko-san” Akira mempersilahkan Seika untuk masuk dengan gerakan tubuh yang sopan.
Seika berterimakasih lalu masuk ke dalam markas yakuza terbesar di Jepang itu. Wanita itu menghela napas beberapa kali, ia sangat gugup ketika memasuki daerah yang notabene adalah daerah paling berbahaya untuknya.
Namun ketika mengingat bahwa ia akan bertemu dengan Kenichi, kegugupan Seika perlahan-lahan menghilang.
Akira menuntun Seika ke ruang kerja Kenichi. Mereka masuk ke dalam rumah melewati genka lalu menyusuri lorong dan melewati roka bagian halaman samping dan berhenti di sebuah pintu yang cukup lebar.
“Silahkan masuk” Akira membungkuk hormat kepada Seika sebelum meninggalkan wanita itu di depan pintu.
Seika menelan ludah dengan susah payah lalu mengambil napas dalam-dalam dan mengeluarkannya dengan perlahan beberapa kali hingga menjadi tenant. Setelah mengumpulkan keberaniannya, wanita itu pun mengetuk pelan pintu fusuma.
“Masuklah”
Kenichi duduk di atas tatami, membaca berkas di tangannya sambil meminum sake. Laki-laki itu tidak memperhatikan Seika yang masuk ke ruangan washitu.
“Ada apa Akira?” tanya Kenichi tanpa mengalihkan tatapannya dari berkas di tangannya.
Seika sedikit gugup dan bingung karena Kenichi tidak memperdulikannya.
“Apa kabar Kenichi-san?” Seika membungkuk rendah badannya.
Kenichi masih terkejut dengan keberadaan Seika yang sama sekali tidak ia duga. “Kenapa kau ada di sini?”. Laki-laki itu menatap ke belakang Seika mencari sesosok Akira namun tidak ada seorang pun di luar pintu.
“Aku.. Akira-san mengatakan bahwa kau sudah menungguku” Seika berdiri dengan canggung, ia pikir Akira menyuruhnya masuk atas perintah Kenichi namun melihat laki-laki itu juga ikut bingung membuatnya tidak nyaman.
Kenichi menghela napas mengerti bahwa ini semua adalah hasil kerja Akira. Laki-laki itu menggerakkan wajahnya menatap ke arah tatami. “Duduklah"
Seika mengangguk kemudian duduk sedikit jauh dari Kenichi.
Kenichi menatap wanita yang ia cintai sesaat, berkas di tangannya sedikit kusut karena laki-laki itu mengepalkan tangannya, menahan hasrat untuk memeluk Seika dan mencumbu nya “Untuk apa kau kemari?”.
Seika memegang kuat tangannya, ia melupakan satu hal tersebut. Tidak mungkin ia mengatakan bahwa aku ingin menemuinya. Kalau Kenichi bertanya kenapa ia harus jawab apa?.
Seika merutuki dirinya sendiri tanpa sadar ia memeluk lengannya karena gugup dan salah tingkah, ia merasa begitu bodoh karena melupakan hal yang sangat penting.
“Bagaimana kabar Michio?” Kenichi mengubah pertanyaan. Melihat Seika begitu gugup dan dilema membuat Kenichi tidak ingin bertanya lebih lanjut walaupun ia sangat penasaran dengan tujuan kedatangan kekasihnya.
Raut wajah berubah Seika ketika mendengar nama ‘Michio’. “Dia baik-baik saja”. Rasa gugup dan salah tingkahnya menguap begitu saja.
Kenichi mengangguk. “Baguslah. Apa Michio yang memberikan alamat rumahku kepadamu?”.
Seika mengangguk pelan. “Maaf karena sudah menganggu waktumu” Wanita itu menundukkan wajahnya yang malu.
“Tidak apa-apa. Dan untuk apa kau menemuiku?” tanya Kenichi kembali ke inti pembicaraan.
Seika kembali gugup, ia menghela napas berkali-kali mencoba mengumpulkan keberaniannya. “Apa aku pernah bertemu denganmu beberapa minggu yang lalu? Kita bertemu di dekat restoran di jalan Sinnomiya” wanita itu bertanya dengan hati-hati. Bagaimana pun ia harus menanyakan hal tersebut.
Kenichi mengedip matanya, ia tampak sedikit terkejut mendengar pertanyaan Seika. “Tidak”.
“Benarkah? Tapi aku yakin, hari itu aku bertemu denganmu dan memanggilmu Ken” Jelas Seika.
Kenichi terdiam sejenak. Jantungnya berdegup kencang, keinginan untuk memeluk hampir tidak bisa ia tahan lagi.
“Kau salah orang Aiko-san” Laki-laki itu membuang pandangannya ke arah taman samping rumah.
“Tapi aku yakin melihatmu waktu itu Kenichi” Ucap Seika sangat yakin.
Kenichi memejamkan matanya, menghirup napas dalam-dalam lalu kembali menatap wanita yang ia cintai. Laki-laki itu sengaja memperlihatkan wajah tidak suka. “Tolong panggil aku Shinoda. Aku tidak nyaman di panggil Kenichi sama orang yang belum aku kenal”.
“Tapi memanggilmu Shinoda membuat hubungan kita seperti menjauh” Gumam Seika tanpa sadar.
“Apa?” tanya Kenichi terkejut.
Seika juga terkejut dengan gumamannya. Ia menggelengkan kepalanya, ia berpikir bahwa Kenichi pasti akan marah karena dia seenaknya mengatakan hal tersebut.
“Tidak. Maksudku tentu saja aku akan memanggilmu Shinoda-san”
Wanita itu segera berdiri, ingin keluar ruangan. Ia membungkuk badan sekilas dan melangkah keluar ruangan. “Ka.. kalau begitu aku permisi Shinoda-san”.
Kenichi segera mencekal lengan Seika kemudian menarik dan memeluk wanita itu dengan erat, walaupun ia tahu akan menyesal melakukan hal tersebut tetapi saat ini ia hanya ingin memeluk Seika dengan erat, ia sangat ingin wanita itu berada di dalam lengannya.