
"SE..." ucapan para anak buah Kenichi terputus ketika melihat pimpinan mereka berjalan sembari menggendong Seika ala bridal style yang tertidur karena kelelahan.
"Kalian sudah bekerja keras, segera istirahat" perintah Kenichi pelan.
Para anak buah Kenichi membungkuk hormat secara serentak lalu tersenyum melihat raut wajah bos mereka yang senang. Anee-san adalah memang gadis yang tepat untuk kumicho, pikir mereka.
Kenichi berjalan menuju kamarnya, Akira yang sudah berada di rumah segera membukakan pintu kamar dan menggelar futon. Kenichi meletakkan Seika dengan hati hati, takut membangunnya.
Ia melepas sepatu dan kedua sarung tangan Seika kemudian menyelimutinya.
Kenichi tersenyum lembut menatap Seika, ia membelai pipi gadis yang sangat ia cintai dengan lembut lalu mengambil tangan Seika dan mengecupnya dengan penuh cinta.
Seika terisak pelan dalam tidurnya, airmata menetes menuju telinga membuat aliran sungai kecil. Kenichi terkejut. Mimpi buruk apa yang sedang malaikat penolongnya alami sampai menangis dalam mimpi.
"Kenichi" panggil Seika dalam tidurnya.
Mata Kenichi membesar mendengar panggilan Seika.
"Jangan menangis, kau akan menjadi pemimpin yang baik melebihi ayahmu" gumam Seika dalam tidur, airmatanya kembali mengalir.
Kenichi tercengang, Seika pasti melihat masa lalunya, masa lalu tentang kematian ayahnya beberapa tahun yang lalu yang membuatnya mau tidak mau menjadi pemimpin berikutnya kelompok Yamaguchi-gumi, ia pernah menangis dalam diam karena kehilangan satu satunya keluarga yang ada di dunia.
"Demi tuhan, jangan membuatku semakin mencintaimu Seika" gumam Kenichi sambil memeluk Seika.
"Jangan menangis" gumam Seika kembali.
Kenichi tersenyum haru, ia sangat bersyukur bisa bertemu dengan Seika, walaupun dalam kejadian yang tidak ia duga.
Terima kasih sudah menyelamatkanku waktu itu, ucap Kenichi dalam hati.
...&&&...
Seika membuka mata perlahan pemandangan pertama yang ia lihat adalah dada telanjang Kenichi yang memeluknya, ia terkejut dan melepaskan diri dari pelukan dan menjauh beberapa langkah.
Kenich ikut terbangun karena gerakannya.
"Ohayo uchi no yome (Selamat pagi sayang)" ujar Kenichi tersenyum.
"Me.. Mengapa kau tidur disini?" tanya Seika waspada.
Ia menghela napas lega ketika melihat ia masih memakai baju dan Kenichi yang hanya bertelanjang dada. Syukurlah mereka tidak berbuat apapun semalam, ucap Seika dalam hati.
"Kau sangat manis ketika tidur membuatku ingin memelukmu sepanjang malam" ujar Kenichi tersenyum lebar.
"Keluar dari kamarku" ujar Seika setengah berteriak.
"Tsk, padahal aku berharap mendapat morning kiss darimu" ujar Kenichi sedikit memayunkn bibirnya kecewa.
Kenichi berdiri dan keluar dari kamar. Seika melihat tatto bergambar naga yang memenuhi punggung laki-laki itu membuatnya tertegun, akan sangat indah jika dilukis di kanvas bukan ditubuh seperti itu, pikir Seika.
...&&&...
Seika mengunyah sarapan dengan kesal ia masih mengingat kejadian tadi pagi yang membuat jantungnya kembali berdegup kencang ia melihat Kenichi yang tersenyum senang disampingnya.
Raut wajah Akira datar seperti biasanya, walaupun dalam hati ia sangat bersyukur melihat raut wajah Kenichi terlihat sangat bahagia, Michio dan para anak buah Kenichi hanya tersenyum melihat raut wajah senang yang sangat jarang bos mereka perlihatkan.
"Anee-san, aku dengar kau jago Aikido?" tanya Michio memulai percakapan pagi mereka.
"Aku bisa tetapi tidak ahli, memangnya kenapa?" tanya Seika yang sudah lupa akan kekesalannya.
"Kami akan berlatih di dojo, Apa anee-san ingin melihatnya? Daripada terus menyendiri di kamar" ajak Michio antusias. Para anak buah Kenichi mengangguk.
"Ide bagus, aku juga akan berlatih sekalian menguji kemampuan kalian" celetuk Kenichi.
Antusias yang mereka rasakan sirna seketika, mereka tau setinggi apa ilmu beladiri bos mereka.
Seika mengangguk tersenyum. Ini akan menjadi sangat menarik sepertinya, pikirnya.
...&&&...
Dojo yang sering digunakan untuk melatih beladiri mempunyai ruangan yang cukup luas, seperti dojo yang diperuntukkan untuk umum bukan pribadi.
Napas Seika tercekat ketika melihat Kenichi dalam balutan seragan karate dan sabuk hitam yang melekat di pinggangnya, gadis itu memalingkan wajah dan merutuki jantungnya yang kembali berdegup kencang.
Sial, dia benar benar keren dalam baju itu, benak Seika kesal namun senang pada saat bersamaan.
"Kau mulai jatuh cinta kepadaku" ujar Kenichi terlihat bangga.
Seika mencoba bersikap datar dan menatap Kenichi dengan kesal.
"Tentu saja tidak, darimana datangnya kepercayaan dirimu itu?" tanya Seika santai walaupun jantung semakin berdegup kencang.
"Dari wajahku, aku sangat percaya diri karena memiliki wajah tampan seperti ini" ujar Kenichi dengan serius.
Seika speechless akan perkataan narsis Kenichi. Baik. Ia tarik kembali perkatannya, dia tidak keren, ya walaupun sangat tampan, pikir Seika.
Latihan beladiri pun dimulai, dua anak buah yang juga berpakaian putih dengan sabuk hitam membungkukkan memberi hormat dan mulai membentuk kuda-kuda penyerangan.
Laki-laki berkulit putih mulai serangan, maju dengan langkah waspada kemudian mencoba menangkap tangan lawannya yang berkulit sawo matang namun tidak kalah cepat dengan sang lawan, pria yang berkulit sawo matang mengunci gerakannya lalu menikung kaki untuk mengacaukan pertahanannya dan segera membanting tubuhnya ke atas tatami hitam.
Kini Michio yang berdiri, diikuti oleh anak buah Kenichi yang berbadan tinggi tegap, laki-laki itu tersenyum, Michio juga membalasnya dengan senyuman.
Mereka mengbungkuk hormat dan membentuk kuda-kuda untuk menyerang.
"Aku harap aku tidak melukaimu Michi-chan" ujar laki-laki berbadan tegap dengan nada tidak enak hati.
Senyum Michio menghilang mendengar perkataan remeh seniornya, pemuda itu memulai serangannya mencoba menangkap lengan seniornya namun sang senior dengan mudah menghindari dan memegang lengan Michio, ekspresinya masih tersenyum dan tidak langsung membanting tubuh Michio ke lantai.
Michio juga tersenyum misterius lalu mengubah serangan dengan menggeser badannya kesamping dan menumpukan tubuhnya dengan sebelah tangan dengan kaki yang diapit ke kaki seniornya lalu mulai menjatuhkannya ke belakang, Michio menggunakan beladiri judo dengan gaya kanibasami.
Seika terpaku melihat gerakan yang terjadi begitu cepat. Ia menatap Michio takjub akan beladiri yang diperlihatkannya.
Michio menatap tajam kepada senior yang terbaring dilantai lalu merendahkan badannya.
"Senpai, kau akan kalah kalau kau meremehkan lawanmu, selemah apapun lawanmu itu" ujar Michio pelan namun nadanya sangat serius.
"Sekarang berdiri dengan tegak!!" teriak Michio memberi perintah.
"Baik!!" Laki-laki berbadan tegap segera berdiri.
Mereka kembali membungkuk untuk mengakhiri duel.
Selanjutnya Kenichi berdiri yang diikuti oleh seorang anak buahnya dengan ragu. Mereka memberi hormat dan memulai duel. Mengambil ancang-ancang serangan. Kenichi menatap serius ke arah anak buahnya.
Lawannya menyerang Kenichi terlebih dahulu dengan menendang tinggi ke arah kepala Kenichi namun dapat ditahan dengan mudah kemudian Kenichi memasukkan lengannya ke dalam lengan anak buahnya lalu membantingkannya ke lantai dengan sebelah tangan.
Seika menutup mulutnya tidak percaya, sekuat apa Kenichi sampai bisa membanting seorang laki-laki dewasa dengan sebelah tangannya. Michio tersenyum bangga ke arah Kenichi, laki laki itu adalah kakak sekaligus pemimpinnya yang paling Michio hormati dalam hidupnya.
"Selanjutnya" ujar Kenichi
Seorang laki laki berambut gerondong yang diikat melangkah maju. Ia menelan ludah penuh waspada, ini akan menjadi sangat sakit, pikir laki-laki itu pasrah.
Mereka membungkuk memberi hormat lalu membentuk kuda kuda untuk menyerang, laki-laki berambut gerondong imemulai serangan dengan mencoba menangkap lengan Kenichi dengan kedua tangannya namun kalah cepat oleh Kenichi yang kembali menyelip lengan ke lengan bagian dalam anak buahnya lalu membantingnya dengan keras.
"Selanjutnya" ujar Kenichi dengan semangat, sudah lama ia tidak melemaskan otot-otonya dengan latihan seperti ini.
Kenichi terus membanting lawannya satu persatu dengan mudah, tidak ada satu pun pukulan pun yang mengenainya. Seika menatap sangat takjub.
"Kumicho" ujar laki-laki yang berbaring dilantai sambil terbatuk-batuk menahan sakit di punggungnya.
"Mengapa anda tidak menunjuk Akira-san saja untuk menjadi lawan anda, kami semua tidak ada yang mampu melawan anda, ini seperti penyerangan sepihak" jelas sang lelaki dengan susah payah.
"Apa saja yang kalian pelajari sampai menahan seranganku saja tidak bisa!!" ujar Kenichi dengan suara keras dan tegas.
"Kami tidak bisa berbuat apa-apa karena anda memang sangat kuat kumicho" jawabnya.
Kenichi menghela napas kecewa lalu menoleh ke arah Akira dan mengisyaratkannya untuk maju.
Akira melangkah maju lalu melepaskan kacamatanya dan memberikan kepada seorang junior yang duduk tidak jauh darinya.
"Kalian harus belajar dari duel ini, kalian mengerti?" Perintah Kenichi.
"KAMI MENGERTI KUMICHO" jawab mereka serentak.
Kenichi dan Akira membungkuk memberi hormat satu sama lain lalu mulai mundur beberapa langkah untuk memikirkan strategi yang tepat untuk menyeran.
Akira lebih dahulu melangkah maju dan menyerang Kenichi dengan tendangan tinggi lalu meninju perut pimpinannya kemudian berbalik badan dan menghantam dada Kenichi dengan sikunya, semua serangan bisa diatasi oleh atasannya.
Kenichi dan Akira saling menatap satu sama lain untuk beberapa detik dan kini giliran Kenichi yang menyerang, meninju wajah Akira namun dapat dihindari menggunakan tangannya, tidak hanya itu Kenichi menyelipkan lengan ke dalam lengan Akira. Dengan cepat Akira memutar badan untuk keluar dari kuncian Kenichi namun gerakannya sudah dapat diprediksi oleh Kenichi
Kenichi merendahkan badannya dan mengayunkan kaki menikung kaki Akira yang menyebab pertahanan laki-qlaki itu runtuh dan terjatuh ke lantai, tidak berakhir disitu, Kenichi mengunci tubuh bagian atas Akira dengan kaki dan menangkap lengan Akira kemudian menariknya dan membantingnya melewati tubuhnya, suara punggung Akira yang terhantam lantai dengan kuat membuat para anak buah Kenichi dan juga Seika menyerngit kening mereka seperti menahan sakit.
itu pasti sangat sakit, batin Seika sambil menatap Akira yang bernapas tersengal sengal.
"Anda memang tidak terkalahkan kumicho" ujar Akira yang berbaring dilantai.
"Beladirimu juga ada kemajuan" puji Kenichi.
Kenichi tersenyum samar lalu mengulurkan tangan kepada Akira dan menariknya untuk berdiri. Mereka kembali membungkuk memberi hormat untuk mengakhiri latihan.
Seika tersenyum kagum kepada Kenichi, laki laki itu tidak hanya kuat namun tampak berwibawa secara bersaman, Seika terus menatap Kenichi dengan tatapan penuh kekaguman.
Sepertinya aku mulai jatuh cinta dengannya, pikir Seika tanpa sadar.
Kalimat tersebut berhasil membuat senyum Seika menghilang, ia terkejut dengan pikirannya sendiri.
Tidak mungkin ia mencintai laki-laki itu, bantah Seika dalam hati.
Namun untuk ke sekian kalinya, hati Seika kembali mengkhianatinya dengan berdegup cepat dan keras,
Shit, gerutu Seika.
Walau beberapa kali ia mencoba menyengah pikiran tersebut namun ia tau dan sadar, jauh dalam hatinya Seika sudah mulai jatuh cinta kepada Kenichi. Jatuh cinta kepada orang yang sebenarnya sangat ingin ia hindari dalam hidupnya.
Kenichi menatap dan tersenyum kepada Seika yang membuatnya reflek memalingkan wajahnya. Pipinya memerah.