Loved The Darkest Past

Loved The Darkest Past
Chapter 15 - Pertemuan dengan Shigeo



"Hati-hati dijalan" ujar Seika yang ikut mengantar kepergian Kenichi sampai ke pagar depan rumah.


"Aku berangkat" ujar Kenichi sambil mencoba mengecup kening Seika namun gadis itu segera menghindarinya.


"Biarkan aku melakukannya, anggap saja sebagai nutrisiku selama tidak melihatmu untuk beberapa hari ke depan" ujar Kenichi dengan nada manja


"Kau berlebihan, sudah pergi sana" ujar Seika kesal.


Mereka bahkan tidak menjalin hubungan asmara apapun, apa-apaan dengan sikap yang sudah seperti suami istri itu.


Kenichi mendecak kesal, Seika hanya menghela napas namun beberapa detik kemudian matanya melotot ketika merasakan bibir Kenichi di keningnya.


"I got it" ujar Kenichi sambil terkekeh pelan.


Seika mengerang kesal. "You pervert bastard" ujar Seika setengah berteriak. Ia menatap para anak buah Kenichi yang hanya mengulum senyum melihat keharmonisan mereka.


...&&&...


Seika tersenyum ke arah seorang ibu yang menggendong anaknya, gadis itu berdiri dan membungkukkan badannya.


"Terima kasih sudah berkunjung, semoga lekas sembuh" ujar Seika tersenyum.


"Terima kasih juga sensei, anda dokter yang sangat berkualitas" puji sang ibu tersebut.


"Anda terlalu berlebihan nyonya" jawab Seika merendah.


"Kalau begitu saya permisi sensei" ujar ibu itu sambil menggendong yang masih berusia dua tahun.


Seika kembali membungkuk hormat. ia menggerakkan badannya ke kanan dan kiri untuk melemaskan otot-ototnya yang kaku.


"Aoi apa masih ada pasien yang aku akan periksa?" tanya Seika yang sudah berada di luar ruangan.


"Tidak ada lagi sensei" jawab Aoi tersenyum.


Seika mengangguk lalu masuk kembali ke ruangannya.


"Sensei" panggil Aoi dengan pelan.


Seika menoleh dan menatap Aoi dengan tatapan bertanya.


Aoi menatap ke arah luar yang sedang dijaga oleh kedua pengawal baru Seika.


"Apa aku boleh bertanya sesuatu?" tanya Aoi berbisik.


Seika menganggukkan kepalanya dan menunggu pertanyaan Aoi. Gadis itu menarik Seika untuk masuk ke dalam ruang kerja lalu mengunci pintu dengan hati-hati.


"Mengapa sensei kembali kesini? Maksudku mengapa sensei kembali dikawal oleh mereka?" tanya Aoi dengan suara pelan.


Seika menghela napas panjang.


"Mereka menemukanku, dan sepertinya aku tidak akan mencoba kabur lagi. Belum mungkin" jelas Seika dengan nada kecewa.


"Apa sensei betah berada di kelompok Yamaguchi-gumi?" tanya Aoi penasaran.


"Awalnya tidak tapi sekarang aku sudah mulai sedikit bisa beradaptasi, mereka tidak mengerikan seperti yang kita bayangkan selama ini" jelas Seika tersenyum.


Aoi megerutkan keningnya. Apa yang telah sensei alami sampai bisa tersenyum tanpa beban seperti ini bukan wajah cemas dan takut yang sensei perlihatkan beberapa minggu yang lalu, benak Aoi


"Apa sensei mulai jatuh cinta kepada Kenichi-san?" tebak Aoi.


Seika terkejut akan pertanyaan Aoi, ia menjadi gugup tanpa bisa ia tutupi.


"Aku tidak jatuh cinta kepada laki-laki itu" bantah Seika memalingkan pandangannya.


"Ya, anda telah jatuh cinta kepada Kenichi-san" kali ini bukan nada pertanyaan namun pernyataan yang keluar dari mulut Aoi.


"Apa yang kau bicarakan, ayo kita harus membereskan pekerjaan kita, sudah waktunya untuk pulang" ujar Seika mengalihkan pembicaraan.


Aoi hanya tersenyum, walaupun tidak mengerti bagaimana bisa Seika jatuh cinta kepada pria yang paling ia takuti itu, namun melihat kegugupan yang tersirat senang dari wajah Seika membuat Aoi tersenyum memaklumi.


...&&&...


"Okaeri nasai anee-san (Selamat datang kakak)" ujar Michio yang berdiri di depan pintu rumah.


"Kapan kau tiba di rumah Michio?" tanya Seika senang.


"Semua baik-baik saja, ohya aku harus mengecek tangan Ke..." ujar Seika terputus ketika ia tersadar bahwa Kenichi sedang berada di luar negeri. Ia hanya menghela napas.


"Anee-san merindukan kumicho-san?" tebak Michio.


"Tidak, aku seorang dokter jadi wajar aku memeriksa pasienku sendiri" bantah Seika dengan cepat.


Michio tertawa pelan akan sikap gugup Seika, sangat jelas bahwa kakak perempuannya itu merindukan kumicho-san, mengapa mencoba menutupinya?, tanyanya dengan heran bercampur lucu dalam hati.


"Aku benar-benar tidak merindukannya, mengapa kau tidak mempercayainya?" tanya Seika dengan kesal.


"Aku tidak mengatakan apapun anee-san" jawab Michio tersenyum lebar.


Seika semakin kesal dengan perkataan Michio yang sangat mengena di hatinya.


"Ya sudah, aku ke kamar dulu" ujar Seika berlalu dari hadapan Michio. Sang adik hanya terkekeh pelan, sangat terhibur dengan ekspresi yang ia perlihatkan.


...&&&...


"Kalian tidak perlu mengikutiku, aku hanya makan di kafe tidak jauh dari sini" ujar Seika kesal kepada dua pengawal barunya.


"Maaf anee-san kami cuma melakukan perintah kumicho" ujar salah satu dari mereka.


"Aku tidak akan kabur, kalian pikir aku bisa makan dengan tenang jika kalian berdiri dengan wajah garang di belakangku?" tanya Seika kesal.


"Tapi kami hanya melaksanakan perintah kumicho" ujar mereka tidak tahu harus berkata apa-apa lagi.


"Pokoknya kalian tunggu disini atau kalian pergi membeli makan siang, aku tau kalian lapar" ujar Seika mencoba bersikap keras kepala.


"Tapi anee-san"


"Tidak ada tapi tapian, ini perintah" perintah Seika memotong perkataan salah satu pengawalnya.


Mereka membungkukkan badan sejenak, walaupun ragu untuk menuruti perintah Seika.


Seika berjalan menuju trotoar kemudian menyeberang jalan ketika lampu lalu lintas untuk pejalan kaki berwarna hijau.


Sesampai di kafe yang tidak jauh dari kliniknya, Seika tersenyum ketika memasuki kafe tersebut. Orang-orang berpakaian kerja yang sudah lebih dahulu duduk di tempat tersebut.


Seika langsung duduk di samping jendela yang berhadapan dengan jalan raya, tempat favoritnya.


"Silahkan menikmati" ujar sang pelayan sambil meletakkan makan siang yang dipesan Seika di atas meja.


"Terima kasih" ujar Seika tersenyum.


"Selamat makan" gumam Seika sambi memenjam matanya sejenak lalu mulai menyantap makan siangnya.


"Seika Aiko?"


Suara seorang laki-laki itu membuat gerakan tangan Seika yang memegang sumpit terhenti, ia menoleh ke arah sumber suara dan melihat seorang pria tampan yang sedang tersenyum kepadanya.


"Ya, saya sendiri. Anda siapa?" tanya Seika bingung.


Bukannya menjawab laki-laki itu malah duduk di depan Seika kemudian menatap intens ke arahnya sambil menopang dagu.


"Anda siapa? Dan ada perlu apa anda mencari saya?" tanya Seika yang terganggu dengan tatapan sang pria di depannya.


"Namaku Shigeo Nishiguchi" ujar Shigeo tersenyum perkenalkan dirinya tanpa mengubah gaya duduknya.


Seika mematung mendengar nama pria tersebut. Shigeo Nishiguchi? Bukankah dia adalah pemimpin Sumiyoshi-kai? Ya. Tidak salah lagi. Laki-laki ini adalah musuhnya Kenichi, ucap Seika dalam hati ketakutan.


Shigeo memiring wajahnya ketika melihat wajah pucat Seika lalu tersenyum menyeringai.


"Sepertinya kau sudah mengenalku? Wow, suatu kehormatan bisa dikenal oleh gadis Kenichi" ujar Shigeo semakin tersenyum lebar.


Seika berdiri dengan tergesa menyebabkan kursi tempat duduknya bergeser kuat membuat bunyi keras.


"Santai sayang, aku bahkan belum memulai permainannya" ujar Shigeo sambil menggenggam pergelangan tangan Seika.


"Bisa ikut aku dengan tenang? Aku tidak ingin membuat kacau tempat ini" pinta Shigeo sambil tersenyum lebar berbanding terbalik kata-katanya yang penuh cekaman.


Seika menelan ludahnya dengan takut.