Loved The Darkest Past

Loved The Darkest Past
Penculikan kembali terjadi



“Kau mau kemana onee-san?” Tanya Michio ketika melihat Seika berpakaian rapi.


“Bekerja” Jawab Seika bingung dengan pertanyaan retoris adiknya. 


“Bukankah ini masih masa cuti mu?” Tanya Michio bingunh.


Seika tertawa canggung. “Aku sudah sering meminta cuti, aku tidak ingin pasien ku kabur semuanya karena tingkah kekanakan ku”.


“Tapi kau …”


“Aku tidak apa-apa Michio, tenang saja” Seika mengacak pelan rambut adiknya, tiba-tiba sekelebat memori tentang Michio yang melapor tentang keadaannya kepada Kenichi masuk ke dalam pikiran wanita itu, membuat sang wanita tertegun dan segera memindahkan tangannya dari kepala Michio, ia menatap tangannya dengan bingung.


“Kenapa onee-san?” Tanya Michio.


Seika hanya menatap Michio dengan tatapan berpikir, ia kembali menyentuh kepala Michio dengan perlahan, namun kali ini tidak ada kejadian apapun yang masuk ke dalam kepalanya.


Michio semakin bingung dengan tingkah Seika. 


“Tidak apa-apa, Aku pergi Michio” Ucap Seika. 


“Hati-hati di jalan onee-san” Ucap Michio.


Seika melangkah di jalan setapak dengan langkah pelan, ia kembali melihat tangannya yang tidak di balut apapun.


Sepertinya ini hanya khayalanku saja, pikir Seika.


&&&


“Selamat pagi sensei, kau sudah baikan?”  Sapa Aoi tersenyum. 


Seika juga ikut tersenyum senang. “Selamat pagi Aoi, Aku sudah tidak apa-apa, maaf membuatmu cemas”.


Aoi menggelengkan kepalanya seakan mengatakan bahwa itu bukan masalah besar untuknya. 


Seika menganggukkan kepalanya dan masuk ke ruang kerja, memakai jas putih dan duduk di kursi menunggu pasiennya.


“Ada yang bisa di bantu adik kecil?” Tanya Seika tersenyum cerah.


Sang anak laki-laki yang ditemani oleh ibunya hanya menundukkan kepalanya. Seika menoleh kepada ibu pasien meminta penjelasan.


“Ia terjatuh di jalan ketika berlari. Perlihatkan sikumu Ken-chan” ujar sang Ibu.


Senyuman Seika semakin merekah ketika mendengar nama ‘Ken’. “Coba perlihatkan siku mu kepada kakak, adik kecil”.


Anak laki-laki itu mendongak dan menatap Seika sejenak lalu perlahan-lahan mengulurkan lengannya.


“Tidak apa-apa, ini tidak akan sakit karena kakak bisa melakukan magic” Ucap Seika menenangkan anak laki-laki itu.


“Benarkah?” tanya Ken mulai tertarik.


“Kau ingin kakak membuktikannya?” Tanya Seika tersenyum lebar.


Ken mengangguk antusias. Seika memegang pelan siku Ken.


“Sakit sakit terbanglah menjauh” Seika menggerakkan tangannya seperti menangkap sesuatu di atas siku sang anak lalu berlari ke arah jendela dan membuka tangannya seperti membuang sesuatu.


“Sekarang sudah tidak sakit lagi” Ucap Seika tersenyum cerah.


Sang anak laki-laki tersenyum lalu menatap ibunya yang juga ikut tersenyum. Seika duduk dan mulai mengobati siku anak laki-laki itu.


&&&


Seika menggerakkan badannya ke kiri dan kanan untuk melemaskan otot yang kaku karena hampir satu hari hanya duduk melayani pasien-pasiennya, beberapa detik kemudian ia berdiri dan melangkah keluar ruang kerjanya.


Mata Aoi bersinar. “Benarkah?”.


Seika tertawa pelan sambil mengangguk.


Mereka pun melangkah keluar dari klinik menuju restoran tempat biasanya Seika makan siang.


“Wah, restoran yang bagus” komentar Aoi sambil melihat ke sekeliling restoran.


Seika tersenyum dan mengangguk membenarkan. Mereka mulai memesan makan siang. 


“Kalau boleh aku tahu, sebenarnya kemarin sensei kenapa?” Tanya Aoi memulai pembicaraan.


Seika berpikir sejenak. “Sepertinya aku takut dengan pisau yang mengarah ke arahku, aku juga tidak tahu kenapa” wanita itu mengangkat bahunya. 


Aoi hanya mengangguk walaupun masih penasaran dengan penjelasan Seika.


“Apa sensei mengalami trauma setelah kecelakaan mobil? Tapi jika sensei mengalami trauma seharusnya sensei takut menaiki mobil bukannya pisau kan?” Tanya Aoi tidak mengerti.


Seika mengangguk setuju. “Itu juga yang membuatku bingung, trauma ku tidak ada hubungannya dengan kecelakaan mobil yang membuatku hilang ingatan, tapi baik sensei yang merawatku maupun Michio mengatakan bahwa aku kecelakaan mobil bukan karena penculikan atau apa pun selain itu” 


Aoi berpikir sesaat lalu terkejut dengan pikirannya sendiri.


Apa sebenarnya sensei hilang ingatan karena trauma di culik bukannya kecelakaan mobil? Shinoda-san tidak ingin sensei mengetahui dan kembali mengalami hal yang sama, makanya…, Terkait Aoi dalam hati. 


Aoi kembali menatap Seika, tatapan gadis itu begitu misterius. 


“Ada apa?” Tanya Seika.


Aoi tersenyum dan menggelengkan kepala. “Tidak apa apa”.


Pesanan makan siang mereka pun datang, Seika dan Aoi langsung menyantap makan siang mereka dengan senang. 


&&&


Seika membungkukkan badan kepada seorang wanita paruh baya yang berjalan memakai tongkat. “Ada yang bisa saya bantu obaa-san?” Seika mempersilahkan sang nenek untuk duduk di hadapannya.


“Obat saya sudah habis sensei, saya ingin mengambil resepnya kembali” Jawab sang nenek.


Seika tersenyum dan mengangguk mengerti, ia membuka sebuah buku besar dan menanyakan nama kepada sang nenek dan mulai mencari obat apa yang di cari oleh sang nenek untuk beberapa saat kemudian ia menemukannya dan menuliskannya di kertas kecil lalu menyerahkannya kepada nenek tersebut.


“Terima kasih ona-chan” Ucap sang nenek.


Seika tersenyum lalu berdiri dan membantu sang nenek untuk berjalan keluar klinik, di luar klinik ia segera menyetop taksi dan mempersilahkan sang nenek untuk masuk ke dalamnya. 


“Terima kasih sekali lagi ona-chan” Ucap sang nenek sebelum menutup pintu mobil. 


“Semoga obaa-san cepat sembuh” Seika melambaikan tangannya. Setelah memastikan bahwa mobil itu sudah menjauh, wanita itu kembali masuk ke dalam klinik dan mempersilahkan pasien berikutnya untuk masuk ke dalam ruangannya.


&&&


Seika menggerakkan tangannya ke atas mencoba melemaskan otot kakunya, seharian ini ia kedatangan banyak pasien dan membuatnya harus lembur, ia sudah mengabari Michio akan lembur malam ini, walaupun susah payah menenangkan adiknya agar tidak mengkhawatirkannya.


Seika berjalan di lorong kecil menuju rumahnya lalu menghela napas lelah. Walaupun kelelahan, ia senang karena kesibukan membuatnya lupa akan Kenichi dan mimpi buruknya.


Teringat akan Kenichi, Seika hanya mengulum senyum. Ia sangat ingin bertemu dengan laki-laki itu kembali, namun sepertinya hanya dirinya yang ingin bertemu sedangkan Kenichi tidak. Wanita itu takut jika ia memaksa bertemu dengan Kenichi, laki-laki itu akan semakin bersikap kasar karena tidak ingin hal yang buruk terjadi karena bertemu dengannya.


“Apa maksudnya kau akan menjadi nasib sial untukku kalau aku bertemu denganmu? Huh, apa-apaan dengan sikap egois itu” gerutu Seika di jalan yang sunyi.


“Bilang saja kau tidak bisa melupakan kekasihmu itu, dasar brengsek” Seika kembali menggerutu kesal mengingat Kenichi sudah memiliki kekasih, hatinya memanas ketika mengingat perkataan Kenichi yang mengatakan ia hanya pengganti wanita itu.


Seika mempercepat langkahnya untuk segera sampai di rumah. Namun sebuah tangan membekap mulutnya dari belakang membuatnya terkejut. Wanita itu memberontak sesaat namun bau alkohol yang menyengat membuat kesadarannya perlahan-lahan menghilang. Ia pingsan di pelukan laki-laki yang memakai jaket dan topi hitam.