
Seika menatap pintu shogi dengan tatapan nanar, ia berbaring diatas futon dengan posisi menyamping menghadap pintu teras. Ia masih memikirkan kata-kata Michio, lelah dengan pikirannya, Seika menghela napas berkali-kali untuk mengenyahkan pemikirannya.
Pintu digeser dengan kasar membuat mata Seika terbelalak tanpa berani untuk menoleh ke belakang.
"Kumicho, Anda salah kamar" ujar Akira mencegah Kenichi untuk masuk kamar.
"Aku tau" ujar Kenichi yang sedang mabuk. Ia cekukuan sambil mengerjap matanya yang tidak fokus.
"Kumicho, kumohon sadarlah" ujar Akira pelan, takut membangunkan Seika.
"Minggir, tinggalkan aku. Ini perintah Akira" ujar Kenichi menepis tangan Akira.
Akira menghela napas panjang lalu keluar dari kamar.
Tubuh Seika bergetar ketika Akira keluar kamar meninggalkannya bersama Kenichi, ia mengepalkan tangannya mencoba menahan rasa takut.
"Seika" panggil serak Kenichi.
Ia sudah duduk di belakang Seika lalu membelai lembut kepalanya.
"Sumanakatta (aku minta maaf) aku benar benar minta maaf" ujar Kenichi lemah.
Ia memeluk tubuh Seika.
"Aku tidak bermaksud menyakitimu, aku hanya kesal karena aku tidak bisa menyentuh gadis yang aku cintai" ujar Kenichi kembali.
Seika menahan napas agar Kenichi tidak menyadari bahwa ia masih terbangun. Namun ia tidak menyangka atas permintaan maaf dari Kenichi.
"Sumanakata" ujar Kenichi berulang kali sampai ia tertidur dengan posisi masih memeluk Seika.
Mengetahui tidak ada gerakan dari Kenichi membuat Seika mencoba menggerakkan badannya dan menoleh ke belakang, melihat Kenichi yang tertidur pulas.
...&&&...
Kenichi membuka perlahan matanya, sakit menyerang kepalanya dengan tiba-tiba ketika ia mencoba untuk duduk, ia memegang kepala dengan ekspresi menahan sakit dan sekelebat memori tentang kejadian tadi malam membuat Kenichi membelalakkan matanya dan beranjak keluar kamar dengan cepat.
"Dimana Seika?" tanya Kenichi kepada Botan yang sedang berjalan dari arah dapur.
"Anee-san ada di kamarnya kumicho" jawab Botan dengan suara tertahan, terkejut ekspresi cemas pimpinannya.
Kenichi berjalan cepat menuju kamar Seika, gerakan tangannya terhenti ketika ia hendak membuka pintu, berbagai pikiran buruk masuk ke pikirannya.
Bagaimana jika Seika bertambah takut kepadanya?, tanya Kenichi dalam hati.
Akhirnya Kenichi memutuskan untuk kembali ke kamarnya.
Seika sedang duduk di teras kamar seraya menatap menerawang, memikiran permintaan maaf Kenichi yang terdengar sangat tulus.
Matanya menangkap sosok Akira yang berdiri tidak jauh. Akira tersenyum samar kepadanya.
"Boleh saya duduk disini anee-san?" tanya Akira meminta izin.
Seika mengangguk mengizinkan.
"Apa anda baik baik saja anee-san?" tanya Akira memulai percakapan.
"Aku baik dan jangan memanggilku dengan sebutan anee-san" ujar Seika sambil menatap pohon sakura di depannya.
Akira tersenyum kecil.
"Anda memang anee-san jadi saya harus memanggil anda dengan sebutan itu" ujar Akira kembali.
Seika hanya diam, tidak ingin memperpanjangan masalah.
"Anee-san boleh saya menceritakan sesuatu?" tanya Akira kembali meminta izin.
Seika diam beberapa saat lalu menganggukkan kepalanya walaupun ia tahu apa yang akan Akira ceritakan.
"Kumicho orang baik yang pernah saya temui dalam hidup saya" ujar Akira memulai ceritanya.
Mengapa semua orang mengatakan kalau laki-laki itu baik?, Tanya Seika dalam hati.
"Ia hanya tidak terkontrol karena masalah serius yang menimpa organisasi" ujar Akira menatap jauh ke depan.
Seika menoleh, dugaannya salah. Ia mengira bahwa Akira akan menceritakan tentang pengalaman hidupnya.
"Ada sesuatu milik organisasi yang berharga dicuri oleh orang lain" ujar Akira kembali.
Apa tentang koper itu? Tanya Seika dalam hati.
"Jika barang itu jatuh ke dalam kelompok lain, maka sebagian anak buah kumicho akan menjadi milik kelompok lain dan jika itu terjadi maka anak buah kumicho akan mati karena beberapa kelompok sangat membenci kumicho. Oleh karena itu ini menjadi masalah yang sangat serius" jelas Akira tanpa ekspresi.
Seika menatap Akira dengan tatapan terkejut.
"Karena pusing dengan masalah itu kumicho tanpa sengaja melampiaskannya kepada anda karena anda seperti jijik kepada kumicho, dan itu membuat kumicho menjadi emosi tanpa bisa ia kontrol" jelas Akira lalu menghela napas panjang. Ia tau bagaimana pun Seika tidak bisa disalahkan karena hal itu, gadis itu mengidap penyakit OCD jadi wajar kalau ia tidak nyaman disentuh oleh orang lain. Ini adalah masalah yang rumit.
"Saya mohon maafkan kumicho, hidupnya berantakan semenjak kejadian dua minggu yang lalu" ujar Akira berdiri lalu membungkuk rendah badannya kepada Seika.
"Saya mohon anee-san, maafkanlah kumicho" ujar Akira sambil membungkukkan kembali badannya lalu pamit dari hadapan Seika.
Seika terpaku, satu persatu ia mulai mengetahui sisi baik Kenichi membuatnya menjadi ragu untuk membenci laki-laki itu.
...&&&...
Kenichi dan para anak buahnya yang sedang menikmati makan malam menatap terkejut ke arah Seika yang sedang berdiri di ambang pintu.
"Selesai makan, aku ingin membicarakan sesuatu denganmu" ujar Seika lalu beranjak pergi.
Kenichi menatap Michio heran bercampur senang yang dibalas adikknya dengan mengangkat bahu tidak tau. Kenichi mempercepat proses makannya dan mengikuti Seika.
Sesampainya di depan pintu kamar, Ia menelan ludah sejenak, membersihkan tenggorokannya kemudian menggeser pelan pintu shogi.
"Tetap di situ" ujar Seika sangat cepat. Ia masih takut berduaan dengan Kenichi.
Kenichi menuruti perkataan Seika dan tetap berdiri di ambang pintu. Ia menatap Seika penuh kelembutan.
"Bagaimana kabarmu beberapa minggu ini? Sepertinya kau tidak cukup istirahat?" ujar Seika secara asal. Ia menjadi gugup tanpa sebab.
"Kabarku baik" jawab Kenichi dengan nada lembut, ia senang Seika sudah menjadi Seika yang dulu.
Seika membuka tas kerjanya, kalau tidak salah ia menyimpan botol vitamin di dalam tasnya. Ia mengambil sebuah botol kecil berisi beberapa tablet obat dan meletakkannya di lantai.
"Itu adalah vitamin, kau harus meminumnya jika kau tidak ingin tumbang suatu hari" ujar Seika memberi nasehat, naluri dokternya keluar tanpa bisa ia cegah.
"Terima kasih, Seika" ujar Kenichi sambil duduk di ambang pintu dan mengambil botol kecil yang diberikan oleh Seika.
"Apa yang ingin kau bicarakan?" tanya Kenichi penasaran.
Seika berdeham beberapa kali lalu melirik ke arah Kenichi.
"Aku bisa membantumu mencari koper yang hilang itu" ujar Seika langsung ke inti pembicaran.
Kenichi terkejut dengan ujaran Seika dan menatap gadis itu dengan mata terbelalak.
...&&&...
"Apa maksudmu? Mengapa kau tau aku sedang kehilangan sebuah koper?" tanya Kenichi dengan suara rendah, sedikit mengancam Seika, ia menatap gadis itu dengan tajam.
"Itu... itu karena..." ujar Seika terbata bata. Ia menjadi ketakutan dengan tatapan tajam Kenichi.
"Itu karena apa?" tanya Kenichi mengulang perkataan Seika dengan tidak sabar. Bagaimana gadis ini tau? Apa Seika mata-mata dari kelompok lain? Tidak. Tidak mungkin, ia sudah menyuruh anak buahnya untuk terus mengawasi Seika selama dua tahun ini, jadi ia tahu betul kalau Seika hanyalah gadis biasa. Tapi bagaimana...?
"Aku bisa melihat masa lalu orang lain jika menyentuhnya ataupun menatap tepat di matanya" jelas Seika.
Seika menatap ke arah Kenichi dengan ragu, sebenarnya ia tidak ingin melibatkan diri dengan masalah Kenichi namun mengingat perkataan Akira yang mengatakan bahwa koper itu menjamin hidup orang lain membuat Seika ingin membantu Kenichi.
"Aku tidak mengerti apa maksudmu mengatakan kalau kau bisa melihat masa lalu orang lain?" tanya Kenichi dengan kening berkerut.
"Percuma menjelaskannya" gumam Seika menghela napas panjang. Ini pasti akan jadi hari yang melelahkan untuknya.
Seika melangkah menghampiri Kenichi, wajahnya masih tetap menunduk perlahan ia melepaskan sarung tangan lalu menyentuh tangan Kenichi dengan hati-hati.
Seika berdecak pelan lalu menatap kesal kepada Kenichi.
"Beberapa hari ini kau selalu melakukan one night stand, dan ya ampun kau bahkan threesome dengan mereka" ujar Seika sambil menutup mulutnya menatap tidak percaya.
Kenichi terkejut dan dahi semakin mengerut dalam.
"Bagaimana kau tahu?" tanya Kenichi dengan cepat.
"Aku sudah bilang kalau aku bisa melihat masa lalu orang lain jika menyentuh atau pun menatap tepat dimatanya, itu berlaku hanya untuk tangan dan mata saja, makanya aku memakai sarung tangan atau menundukkan kepalaku" jelas Seika.
Kenichi masih tidak mengerti.
"Itu tidak masuk akal" ujar Kenichi.
Seika mengangguk membenarkan.
"Memang, tidak akan ada yang percaya padaku makanya aku tidak mengatakannya kepada orang lain" jelas Seika kembali.
"Lalu bagaimana dengan penyakit OCD-mu, bukankah kau memakai sarung tangan karena penggila kebersihan?" tanya Kenichi yang masih tidak percaya.
Seika kembali menghela napas.
Harus berapa lama kita melakukan interogasi ini?, pikir Seika lelah.
"Tentu saja itu hanya alasanku saja. aku tidak mungkin mengatakan kalau aku bisa melihat masa lalu orang yang aku pegang, aku tidak ingin disebut perempuan gila" jelas Seika.
Kenichi menatap tangan kanan Seika yang tanpa sarung tangan dan mencoba menyentuhnya.
"Jangan menyentuhku, aku tidak ingin melihat lagi adegan bercintamu" ujar Seika menjauhkan tangannya.
Kenichi sangat susah untuk mempercayai perkataan Seika. Seseorang bisa melihat masa lalu orang lain? Itu tidak masuk akal. Itulah yang terlintas dalam benak Kenichi.
Seika menjadi kesal akan ketidakpercayaan Kenichi. Harus bagaimana ia jelaskan agar laki-laki ini bisa mengerti, benak Seika.
"Hampir tiga minggu yang lalu ketika kau menyentuhku, aku..." Seika menelan ludah, ia sungguh tidak ingin lagi mengingat kejadian mengerikan tersebut.
"Aku melihat kau membunuh tiga orang laki-laki di sebuah apartemen dan..." suara Seika tercekat, bayangan memori kelam tersebut kembali menghantuinya.
Kenichi memeluk Seika yang mulai ketakutan, mendekapnya dengan lembut, sekarang ia mempercayai kata-kata Seika.
"Aku percaya, sudah jangan di ingat lagi" ujar Kenichi sambil membelai pelan kepala Seika.
Seika membiarkan Kenichi memeluknya, pelukannya begitu hangat, sudah sangat lama ia tidak dipeluk sehangat ini.
"Jadi bagaimana? Apa kau ingin aku membantumu mencari kopermu?" tanya Seika kembali ke permasalahan awal.
"Aku sangat ingin malah tapi apakah kekuatanmu dapat berefek buruk untukmu? " tanya Kenichi khawatir.
Seika terkejut mendengar Kenichi lebih mengkhawatirkannya daripada mengambil keuntungan dari kekuatannya. Hatinya menjadi hangat dan terharu.
"Aku tidak apa-apa. Tidak ada pengaruh apapun terhadapku jika aku menggunakan kekuataan ku.
Kau punya seseorang yang melihat koper itu terakhir kalinya?" jelas Seika.
Kenichi berpikir sesaat.
"Aku sudah menangkap orang yang mencuri koper itu, apa itu bisa membantumu dalam menyelesaikan masalah ini?" tanya Kenichi.
Seika tercengang akan perkataan Kenichi.
"Jadi kenapa kau masih uring-uringan seperti orang gila? Marah-marah tidak jelas" ujar Seika kesal.
Kenichi tersenyum kaku. Gadis ini bahkan tau sampai sedetil itu.
"Karena orang itu tidak mau membuka mulutnya" jawab Kenichi mengangkat bahunya acuh tak acuh.
"Kalau begitu pertemukan aku dengannya" ujar Seika.