
"Kau sedang apa?" tanya Shigeo yang berdiri menyandar di dinding samping pintu.
Seika terkejut dan menoleh ke arah sumber suara lalu mendecak kesal ketika menemukan Shigeo yang berdiri tenang tanpa bersalah.
"Aku tau ini rumahmu, tapi bisakah kau tidak masuk seenaknya ke kamar orang lain?" gerutu Seika.
Ia bernapas lega karena laki-laki itu masuk ketika ia sudah selesai memakai bajunya, entah apa yang terjadi jika Shigeo melihatnya yang hanya memakai bathrobe.
"Aku minta maaf" ujar Shigeo
Seika menoleh ke arah Shigeo dan menatap bingung. Laki-laki itu berubah dengan sangat cepat, baru dua hari yang lalu ia mencoba menciumnya paksa dan melecehkannya namun sekarang tatapan pria itu menjadi lembut ketika menatapnya.
Sekelebat tentang Shigeo mabuk tadi malam masuk ke dalam pikirannya membuat Seika buru-buru memalingkan pandangannya, takut akan ada kejadian buruk yang masuk ke dalam pikirannya.
"Apa kau tidak merindukan kekasihmu?" tanya Shigeo walaupun pertanyaan tersebut menyakiti dirinya sendiri.
"Sudah ku bilang aku tidak ada hubungan apapun dengan Kenichi, aku hanya dokter pribadinya. Mengapa kau menanyakannya lagi?" tanya Seika bernada lelah.
Tapi kau mencintainya bukan? Tanya Shigeo dalam hati.
"Kalau begitu kau jadi dokter pribadiku saja" tawar Shigeo.
"Aku tidak bisa" tolak Seika.
"Kenapa?" tanya Shigeo.
"Karena aku tinggal di Kobe" jawab Seika
"Aku bisa memindahkanmu ke sini" ujar Shigeo tenang.
Seika menatap jengah kepaa Shigeo. Mengapa semua pimpinan kelompok besar yakuza sangat senang mengucapkan apa yang mereka inginkan tanpa meminta pendapatnya atau izinnya, gerutu Seika jengkel dalam hati.
"Aku tidak bisa, tempatku di Kobe bukan Osaka" tolak Seika kembali.
Disisi Kenichi, itu yang kau ingin katakan bukan?, ujar Shigeo dalam hatinya.
Shigeo mengangkat bahunya acuh tak acuh.
"Sayang kali, padahal aku akan membayar dua kali lipat dari yang klinikmu tawarkan" ujar Shigeo tenang.
"Uang bukan satu satunya yang aku cari" ujar Seika.
"Baiklah" ujar Shigeo lalu berbalik badan sejenak, teringat sesuatu laki-laki itu kembali berbalik badan dan menatap Seika.
"Makan malam nanti kau harus bergabung dengan kami, itu sudah tradisi. Di tempat Kenichi juga seperti kan?" tanya Shigeo
Seika mengangguk.
"Untuk sarapan dan makan siang kau boleh makan di kamar tapi tidak dengan makan malam, kau mengerti?" ujar Shigeo tegas.
Seika melirik Shigeo sejenak kemudian menganggukkan kepalanya. Setelah mengucapkan apa yang ia inginkan Shigeo meninggalkan Seika sendirian dikamarnya.
...&&&...
Akira dan Daiki memapah Kenichi yang sedang mabuk masuk ke dalam rumah, sepanjang perjalanan dari salah satu bar yang berada di Kabukicho milik kelompok mereka, Kenichi terus meracau tidak jelas dan menyebut nyebut nama Seika.
"Kenapa dengan kumicho-san?" tanya Michio yang baru keluar dari dapur.
"Kumicho mabuk berat lagi" jawab Akira.
Michio menggeser pintu kamar Kenichi dan langsung membentang futon, Akira dan Daiki merebahkan Kenichi diatasnya, melepaskan sepatu dan merenggangkan dasi bos mereka.
"Seika, kau selalu memikirkan orang lain lalu bagaimana dengan perasaanku? Apa kau pernah memikirkanku walaupun hanya sedikit saja? Kau tidak adil Seika" racau Kenichi lalu berbalik badannya menyamping ke kanan.
"Ikenaide! Kimi wo itteru yo (Jangan pergi! Aku membutuhkanmu)" ujar Kenichi kembali.
Michio menghela napasnya lalu memperbaiki posisi tidur Kenichi dan menyelimutinya sampai dada. Sudah beberapa hari ini mood Kenichi tidak terkendali, marah tanpa alasan yang jelas atau pulang dalam keadaan mabuk.
Daiki lebih dahulu keluar dari kamar Kenichi, sedangkan Michio dan Akira masih duduk menghadap Kenichi yang sedang tertidur.
"Aitakata uchi no yome (Aku merindukanmu sayang)" gumam Kenichi dalam tidurnya.
Akira menatap Kenichi dengan perasaan sedih dan kecewa, ia belum pernah melihat Kenichi seberantakan ini, dan ia tidak menyukainya. Seorang pemimpin yang terlihat lemah hanya karena seorang perempuan.
Namun Akira memakluminya, Kenichi yang sekarang jauh lebih baik dari pada Kenichi yang belum bertemu dengan Seika. Semenjak kematian ayahnya, Kenichi berubah menjadi laki-laki dingin yang tidak segan membunuh orang lain bahkan orang kepercayaannya sekali pun dan ketika bertemu dengan Seika, perlahan-lahan Kenichi kembali ke dirinya yang semula dan bahkan menjadi lebih baik sebelum ayah laki laki itu meninggalkannya.
"Oyasumi Onii-sama (Selamat tidur kakak)" gumam Michio setelah memastikan bahwa Kenichi sudah tertidur pulas.
Akira mengangguk memberi sapa kepada Michio dan mereka keluar dari kamar Kenichi membiarkannya tidur melepas lelah dihatinya.
...&&&...
Seika lebih memilih untuk berada dikamarnya sepanjang hari dari pada harus berlalu lalang di rumah Shigeo, karena ia sangat tidak nyaman dengan tatapan anak buah Shigeo yang seperti melecehkannya, melihatnya seperti sedang melihat seorang pelacur. Oleh karena itu, sudah beberapa hari ini ia mendekam di kamarnya seharian penuh, ia keluar hanya ketika makan malam tiba. Itupun karena paksaan Shigeo.
Suasana di rumah Shigeo begitu berbeda dengan rumah Kenichi. Anak buah Kenichi semuanya memperlakukannya dengan sangat baik, mereka bersikap kepadanya sama seperti mereka bersikap kepada Kenichi, sangat menjunjung tinggi kesopanan walaupun antusias mereka dalam bersuara sering membuat Seika mengusap dada.
"Kau serius sekali membacanya" ujar Shigeo yang sudah duduk di kursi di depan sebuah tempat tidur.
Seika hampir menjatuhkan bukunya karena melamun tentang Kenichi, gadis itu menoleh dan melototkan matanya ke arah Shigeo, memarahi laki laki itu dengan isyarat matanya, Shigeo hanya tersenyum jail menanggapinya.
"Kalian selalu berbuat sesuka hati kalian" komentar Seika menggelengkan kepalanya.
"Aku dan Kenichi maksudmu?" tanya Shigeo memastikan.
Seika menganggukkan kepalanya. Shigeo menghela napas pelan. Lagi-lagi Kenichi.
"Kau tidak ingin keluar rumah? Apa tidak bosan seharian di kamar terus?" tanya Shigeo
Seika mengembangkan senyumnya.
"Bolehkah?" tanya Seika antusias.
"Tentu saja boleh, selama kau dikawal oleh anak buahku" ujar Shigeo.
Senyum Seika menghilang ketika mendengar jawaban Shigeo.
"No. Thanks" ujar Seika kesal.
"Kenapa?" tanya Shigeo
"Aku kira kau mengatakan keluar rumah berarti aku bebas pulang ke Kobe, kalau tetap dalam pengawasanmu aku tidak tertarik untuk keluar dari kamar ini" ujar Seika lalu kembali melanjutkan bacaannya.
"Tidak bisakah kau melupakan tentang Kobe?" tanya Shigeo pelan.
"Tidak, itu tempat kelahiranku. Bagaimana mungkin aku melupakannya" jawab Seika tanpa pikir panjang.
"Aku yakin Itu bukan satu satunya alasanmu" gumam Shigeo pelan.
Shigeo menghela napas lelah lalu berdiri dan beranjak keluar kamar.
"Baiklah, teruskan bacaanmu, aku akan keluar sebentar" ujar Shigeo sebelum menghilang di balik pintu.
Seika mengangkat bahunya acuh tak acuh kemudian melanjutkan kembali bacaannya.
...&&&...
Kenichi berjalan memasuki sebuah gedung miliknya di daerah Kabukicho bersama dengan Akira. Selain menggeluti bisnis perjudian dan obat-obatan, ia juga mengembangkan bisnis keuangan di beberapa daerah di Jepang.
Beberapa anak buah yang berjaga dan bertugas di gedung perusahaan keuangan tersebut membungkukkan badan mereka tanpa mengatakan apapun, aura bos mereka sangat mencekam terlihat dari raut wajahnya dan cara Kenichi menatap para anak buanya. Sangat datar dan dingin.
"Silahkan kumicho" ujar Arata.
Kenichi berjalan dan duduk di kursi kerja yang biasa digunakan oleh Arata yang mengelola perusahaan tersebut, sedangkan Akira berdiri disisi kanannya.
"Bagaimana bisnisnya? Apa berjalan lancar?" tanya Kenichi memulai pekerjaannya.
"Semua berjalan lancar kumicho" ujar Arata dengan gugup. Ia sangat tau suasana hati bosnya sedang sangat buruk.
"Lalu bagaimana dengan klien kita? Apakah masih banyak yang belum melunasi pinjamannya?" tanya Kenichi.
"Masih ada beberapa yang mengalami penunggakan pembayaran namun segera akan kami atasi" ujar Arata semakin gugup.
"Segera? Berarti kau belum melakukannya?" tanya Kenichi dengan nada rendah.
Arata membungkukkan kepalanya dengan takut.
"Saya akan secepatnya menagih tunggakan tersebut kumicho" ujar Arata sambil terus membungkukkan badannya.
Kenichi menatap datar ke arah Arata lalu tanpa kata mengeluarkan sepucuk pistol dan mengarahkannya kepada pria berumur 40 tahun tersebut.
Akira hanya terdiam tidak bergerak walaupun terkejut dengan gerakan Kenichi yang menodongkan pistol ke arah Arata yang notebene adalah anak buah kepercayaan ayah Kenichi.
"Tolong ampuni saya kumicho" ujar Arata yang kini sudah berlutut dilantai.
Kenichi tidak bergeming, ia menggerakan jari telunjuknya untuk menekan trigger namun bayangan Seika menyusup ke dalam pikirannya membuatnya tersadar. Ia menurunkan pistol lalu menghela napas lelah. Ia hampir saja membunuh anak buah yang sangat dipercayai ayahnya jika saja wajah Seika tidak terlintas di pikirannya.
"Kau boleh pergi" ujar Kenichi lalu mengurut batang hidungnya lelah sambil merebahkan punggung disandaran kursi.