
Seika membuka mata perlahan-lahan menyesuaikan matanya dengan cahaya terang.
"Kau tidak apa-apa Seika?" tanya Kenichi khawatir.
Seika menoleh dan menatap Kenichi sangat lama, perasaan lega membanjiri hatinya. Laki-laki yang telah ia tolong dua tahun yang lalu rupanya adalah Kenichi, laki-laki yang sekarang ia cintai, bagaimana bisa ia melupakan peristiwa penting tersebut. Airmata Seika mengalir ke telinga. Matanya tidak berkedip dan terus menatap Kenichi.
"Seika? Mengapa kau menangis? tidak apa-apa. Semuanya sudah berakhir" ujar Kenichi sambil memegang tangan Seika.
Airmata Seika mengalir tanpa bisa ia cegah. Ia begitu lega sampai ia sendiri tidak bisa menjabarkan perasaannya saat ini.
Michio dan Akira yang juga berada di dalam ruang kamar juga menatap cemas. Seika pingsan karena terlalu takut melihat Michio yang terjatuh di tanah, setidaknya itu yang mereka simpulkan saat ini.
Seika merentangkan kedua tangan menyuruh Kenichi untuk memeluknya, laki-laki itu pun memeluk Seika dengan erat.
"Sudah tidak apa apa, semua sudah berakhir" ujar Kenichi kembali mencoba menenangkan Seika.
"Syukurlah kau hidup, aku pikir kau akan mati di lorong sempit itu" ujar Seika sambil terisak.
Kejadian dua tahun yang lalu seperti baru terjadi kemarin membuat Seika sangat lega dan terharu melihat Kenichi yang baik-baik saja tanpa kekurangan apapun.
Kenichi melepaskan pelukan dan menatap Seika terkejut.
"Kau... Kau sudah mengingatnya?" tanya Kenichi memastikan. Matanya terus menatap tidak percaya sampai akhirnya Seija mengangguk mengiyakan.
Kenichi kembali memeluk Seika, ia memeluknya dengan penuh cinta. Kenichi sangat bahagia. Akhirnya Seika mengingat pertemuan pertama mereka.
Michio yang melihat raut wajah Kenichi yang sangat bahagia merasa lega setelah memastikan bahwa Seika baik-baik saja begitu dengan Akira. Kerjasama mereka membuahkan hasil.
Michio kembali teringat pembicaraannya dengan Shigeo.
...&&&...
Beberapa hari yang lalu
"Jadi Nishiguchi-san ingin meminta bantuan apa?" tanya Michio bersikap formal.
ia tahu bahwa Shigeo adalah sahabat SMA Kenichi dan itu membuat Michio menghargainya.
"Aku ingin kau membebaskan Seika dari sini" ujar Shigeo.
"Apa?" tanya Michio terkejut.
"Mengapa kau terkejut seperti itu?" tanya Shigeo terkekeh akan reaksi Michio.
"Kau serius Nishiguchi-san?" tanya Michio serius.
"Tentu saja, tapi kau tidak boleh memberitahu Kenichi" ujar Shigeo.
Michio tidak mengerti dengan perkataan Shigeo.
"Kalau Nishiguchi-san ingin membebaskan anee-san bukankah kau tinggal memulangkannya kesini?" tanya Michio.
"Tidak sesederhana itu Michio, aku tidak mendapatkan berkas kepemilikan kekuasaan Suminoe dan Taicho jadi mana mungkin aku membebaskan Seika begitu saja, apa yang akan dipikirkan oleh anak buahku?" jelas Shigeo.
"Oh" ujar Michio mengangguk mengerti.
Shigeo tidak ingin membuat anak buahnya kecewa karena berbaik hati dengan membebaskan Seika yang notabene adalah tahanan tanpa balasan apapun. Namun ada satu yang tidak Michio mengerti.
"Mengapa kau ingin membebaskan anee-san?" tanya Michio masih bingung.
Shigeo terdiam sejenak. Ia tersenyum kecut.
"Untuk apa aku membiarkan gadis yang tidak berguna berkeliaran di rumahku?" tanya Shigeo dengan nada mencemooh.
Michio terdiam, walaupun Shigeo mengatakan itu entah kenapa Michiko merasakan hal yang lain dari ucapan teman Kenichi tersebut.
"Baiklah. Aku akan memberitahukan Akira-san" ujar Michio.
Yang terpenting sekarang adalah anee-san akan bebas, lanjut Michio dalam hati.
"Mengapa kau melibatkan si wajah datar itu? Dia pasti akan memberitahu Kenichi tanpa berpikir dua kali" tanya Shigeo kesal.
Michio tersenyum.
"Aku tidak bisa melakukannya sendirian Nishiguchi-san. Kau pikir berapa banyak anak buahmu yang berjaga disana?" tanya Michio.
"Tsk. Ya sudah terserah. Tapi jangan sampai informasinya bocor kalau aku yang menyuruhmu membebaskan Seika. Kau mengerti?" tanya Shigeo memastikan.
"Yup" jawab Michio.
"Untuk caranya aku serahkan kepadamu, kau percaya diri dengan beladirimu kan?" Tanya Shigeo.
"Tentu saja" jawab Michio.
"Aku tunggu kabar baiknya" ujar Shigeo.
"Shigeo-san" panggil Michio diseberang telepon.
Shigeo melihat teleponnya dengan heran.
"Mengapa kau tiba-tiba memanggil nama depanku?" tanya Shigeo heran.
"Terima kasih Shigeo-san" ujar Michio.
"Simpan terima kasih mu itu sampai kau sudah berhasil melakukannya" ujar Shigeo terkekeh. ia memutuskan teleponnya.
"Kau akan segera ke pelukan laki-laki yang sangat kau cintai Seika" ujar Shigeo tersenyum sedih. Ia menghela napas panjang.
...&&&...
Seika tersenyum menatap Kenichi yang masuk ke kamarnya.
"Kau baik-baik saja?" tanya Kenichi menatap Seika dengan lembut.
Seika mengangguk.
Kenichi menghampiri Seika dan memeluknya dengan lembut, membelai rambutnya dengan gerakan perlahan. Seika mengerat pelukannya. Ia sangat merindukan bau maskulin yang menguar dari tubuh Kenichi.
"Kau begitu merindukanku ya" ujar Kenichi bercanda.
Seika mengangguk mengiyakan membuat Kenichi terdiam.
"Bagaimana kau bisa mengingat pertemuan pertama kita?" tanya Kenichi.
Seika mendongak dan menatap Kenichi sejenak.
"Ketika aku melihat Michio yang terbaring di jalan tiba-tiba aku jadi mengingat bahwa kau juga merasakan hal yang sama dua tahun yang lalu" jelas Seika.
Kenichi mengecup kepala Seika.
"Syukurlah kau tidak apa-apa" ujar Kenichi lega.
Seika hanya tersenyum menanggapi ucapan Kenichi.
"Ayo kita sarapan" ajak Kenichi mengulurkan tangan kepada Seika.
Seika menerima uluran tangan Kenichi dan berjalan menuju ruangan besar washitsu yang sudah ditunggu oleh anak buah Kenichi.
"OKAERI NASAI ANEE-SAN" ujar anak buah Kenichi sambil membungkuk hormat.
"Yoroshiku onegai shimasu" balas Seika juga membungkuk hormat. Ia sangat senang bisa kembali berkumpul dengan Michio dan anak buah Kenichi.
Mereka pun memulai sarapan pagi.
...&&&...
"Untuk apa kau kemari?" tanya Kenichi sambil mengepalkan tangannya.
"Santai Kenichi, aku kesini untuk bertemu dengan Seika" jawab Shigeo tenang.
"Setelah apa yang dia alami, apa kau pikir kau masih bisa bertemu dengannya?" jawab Kenichi emosi.
"Aku tidak akan menculiknya lagi, aku hanya ingin berbicara dengannya" jawab Shigeo serius.
"Aku tidak akan mengizinkannya" ujar Kenichi
Shigeo menghela napas speechless.
"Walaupun kau kekasih Seika, tapi kau tidak berhak melarangnya untuk bertemu dengan orang lain" ujar Shigeo memberi penjelasan.
"Aku mengizinkannya bertemu dengan siapapun yang dia mau tapi tidak denganmu" ujar Kenichi bersikeras.
"Kenichi" panggil Seika di belakang Kenichi.
"Kau tidak perlu takut, aku akan mengusirnya" ujar Kenichi memegang pundak Seika.
Seika menatap Kenichi sejenak lalu menatap Shigeo. apa yang bisa ia lakukan agar Kenichi bisa berbaikan dengan sahabat satu-satunya, pikir Seika.
Seika tersenyum menenangkan kepada Kenichi.
"Tidak apa-apa, Shigeo bilang dia tidak akan menculikku lagi" ujawab Seika
"Tapi..." bantah Kenichi.
Seika mencoba bersikap manja mencoba melunakkan sikap Kenichi. Akhirnya ia mengizinkannya namun Kenichi tetap berada di ruang washitsu untuk mengawasi Shigeo.
"Jadi apa yang ingin kau bicarakan?" tanya Seika duduk disamping Kenichi.
"Aku ingin meminta maaf atas kejadian kemarin malam, anak buahku hampir membunuhmu" ujar Shigeo dengan sungguh-sungguh.
"Sebagai permintaan maafku, apa kelingkingku cukup untuk balasannya?" tanya Shigeo seraya mengeluarkan pisau.
"Padahal aku berharap kau menawarkan seluruh tanganmu" celetuk Kenichi sambil menatap tajam.
Seika terkejut dengan penuturan keduanya. Ini tau jika di dalam dunia yakuza ada tradisi 'yubitsume' yaitu pemotongan ruas jari yang biasanya di awali dengan jari kelingking untuk menebus kesalahan yang telah anggota perbuat. Namun Seika tidak menyangka bahwa hal tersebut akan terjadi tepat di depannya.
"Tunggu dulu" ujar Seika menolak usulan Shigeo.
Seika berpikir alternatif untuk menebus kesalahan Shigeo lalu menganggukkan kepala ketika mendapatkan sebuah ide.
Seika berdiri dan menghampiri Shigeo lalu menampar dengan keras wajah Shigeo.
"Ini sudah cukup untuk membalas atas apa yang kau perbuat kepadaku, jadi kalian harus berdamai dan kembali berteman" ujar Seika tersenyum senang, ini mungkin bisa mempersatukan mereka kembali, pikir Seika naif.
Shigeo masih mematung dengan tamparan Seika, membuat gadis itu menjadi canggung, pasalnya ia menampar Shigeo sekuat tenaga sampai membuat telapak tangannya perih dan memerah.
"Kau tidak apa-apa?" tanya Seika sedikit canggung.
"Aku jatuh cinta denganmu" ujar Shigeo tiba-tiba..
Kenichi semakin mengeraskan rahangnya.
"Apa kau bilang?" tanya Kenichi sarat akan ancaman.
"Aku jatuh cinta dengan Seika" ulang Shigeo seperti menantang Kenichi.
"Apa kau sudah bosan dengan kelompokmu karena aku bisa membantumu mengenyah kelompok sialanmu itu" ujar Kenichi dengan suara rendah.
Shigeo tersenyum tidak terpengaruh oleh ucapan Kenichi, sedangkan Seika menjadi bingung. Ini tidak seperti yang ia rencanakan, mengapa malah menjadi seperti ini. pikir Seika.
"Aku sangat takut dengan ancamanmu Kenichi" ujar Shigeo tersenyum mengejek.
"Heh! Bukan hanya bosan kepada kelompokmu, sepertinya kau juga sudah bosan hidup rupanya" ujar Kenichi menaikkan baju lengannya. Bersiap-siap memberikan pukulan kepada Shigeo.
"Hentikan, apa yang kalian lakukan? Kalian terlihat seperti anak kecil" lerai Seika kesal.
Kenichi masih menatap tajam kepada Shigeo walaupun terdiam karena kata-kata Seika.
"Jadi itu saja yang ingin kau bicarakan?" tanya Seika.
Semakin lama mereka berada disana suasana akan menjadi semakin memanas, pikir Seika.
"Ada satu lagi, aku ingin mengajakmu kencan" ujar Shigeo seperti menuangkan minyak ke api yang membara.
"Kau..." teriak Kenichi kesal.
Shigeo tersenyum menyeringai tidak memperdulikan Kenichi yang menatapnya dengan tatapan membunuh.
"Aku tidak bisa" tolak Seika.
Giliran Kenichi yang tersenyum menyeringai.
"Sekali saja Seika" bujuk Shigeo.
"Kalau Seika bilang tidak berarti tidak" jawab Kenichi.
"Anggap saja sebagai penghargaanmu atas permintaan maafku" ujar Shigeo yang masih belum menyerah.
Kenichi berdecak atas kekeraskepalaan mantan temannya.
Seika menoleh ke arah Kenichi meminta persetujuan laki-laki itu.
"I would never allow it, never!!!" ujar Kenichi penuh tekanan.
Seika menganggukkan kepalanya mengerti dan menoleh ke arah Shigeo.
"Baiklah. Aku menerimanya" ujaran Seika berbanding terbalik dengan anggukkannya.
"Tidak!!, aku tidak pernah mengizinkannya" ujar Kenichi menolak mentah-mentah perkataan Seika.
"Dia sudah bilang dia tidak akan menyakitiku, sekali saja. Aku melakukan ini pun untukmu" ujar Seika memberi penjelasan.
"Tidak, sekali tidak tetap tidak. Titik" ujar Kenichi dengan yakin.
Seika mendecak pelan. Kesal dengan kekeraskepalaan Kenichi.
"Baiklah, kalau begitu aku akan kembali ke apartemen lamaku" ujar Seika mengacak pinggangnya, mencoba mengancam Kenichi. Ia lakukan ini supaya laki-laki arogan ini bisa berbaikan dengan teman satu-satunya, mengapa ia tidak mengerti?, pikir Seika kesal.
"Kau" ujar Kenichi tidak percaya.
Shigeo menonton pertengkaran dia sejoli di hadapannya sembari tersenyum kecut. Mereka sangat akrab sampai bisa berdebat tentang sesuatu.
"Mengapa kau selalu mengancam akan keluar dari rumah ini?" tanya Kenichi jengkel.
"Karena hanya itu yang aku punya" jawab Seika tidak mau mengalah.
Kenichi menghela napas lelah, bagaimana menjelaskan kepada gadis ini bahwa ia sedang cemburu berat kepada Shigeo, tidak mungkin ia akan mengatakan secara blak-blakan. Mau di letak dimana harga dirinya sebagai laki-laki, Kenichi mengomel dalam hatinya.
"Baiklah, lakukanlah sesuka hatimu" ujar Kenichi lalu melangkah keluar ruangan dengan wajah kusam.
Seika memayunkan bibirnya kesal namun merasa sedikit bersalah kepada Kenichi dalam bersamaan. Mengapa laki-laki itu tidak mengerti kalau ia melakukan ini untuknya, pikir Seika tidak mengerti.
Seika menoleh ke arah Shigeo, ia hampir melupakan keberadaannya karena perbebatannya dengan Kenichi.
"Baiklah, aku akan pergi denganmu" ujar Seika.
Shigeo tersenyum lembut ke arah Seika.