Loved The Darkest Past

Loved The Darkest Past
Melamar Seika



Satu bulan kemudian.


Kobe, Jepang. 


Seika duduk di beranda samping kamarnya, ia baru saja pindah ke rumah Kenichi. Ia juga sudah menerima kenyataan tentang kegugurannya. Walaupun ketika ia melihat bayi seseorang, ia akan kembali menangis, menyesali bayinya yang sudah tidak ada di dunia ini. Namun mentalnya tidak terganggu lagi dan ia tidak bertindak konyol seperti sebulan yang lalu ia lakukan. 


Akhir-akhir ini, kegiatannya hanya konsultasi kesehatan mental ke dokter spesialis jiwa dan memasak untuk anak buah Kenichi, ia tidak bekerja lagi karena Kenichi melarang keras.


Laki-laki itu ingin ia terus berada di dalam rumah, apa pun yang wanita itu inginkan akan didapatkan oleh anak buahnya, jadi Seika tidak boleh selangkah pun keluar dari rumah.


Seika tahu itu terdengar gila. Menyekap orang yang kita sayangi agar tidak bertemu dengan orang lain memang terdengar psikopat namun ketika melihat Kenichi memohon supaya ia mau menuruti permintaan sang lelaki,  membuat Seika tidak punya alasan untuk membantah. Ia menyadari bahwa penculikan yang di lakukan Mark, tidak hanya ia yang mengalami trauma, Kenichi juga trauma dengan kejadian tersebut karena membuatnya menjadi gila.


Pelukan dari belakang membuat lamunan dalam Seika buyar, ia menoleh ke arah Kenichi yang tersenyum lembut kepadanya. “Okaeri nasai (selamat datang) ” Seika mencium pipi Kenichi.


“Tadaima(aku pulang)” balas Kenichi tersenyum lembut. 


“Bagaimana pekerjaanmu? Lancar-lancar saja?” tanya Seika menatap ke arah pohon sakura yang belum berbunga.


“Semua berjalan lancar” Kenichi melepaskan pelukannya dan membalikkan badan Seika menghadapnya. Wanita itu hanya menatap bingung.


Kenichi mengeluarkan sebuah kotak kecil yang di balut oleh kain beludru berwarna merah, Seika membulatkan matanya. “Sudah lebih setahun kita bersama, tapi aku tidak pernah memberikanmu hadiah. Maaf aku tidak bisa bersikap romantis”.


“Seperti saat ini, seharusnya aku mengajakmu makan malam di restoran mewah baru memberikan cincin ini kepadamu, tapi maaf sekali lagi aku bukan pria romantis. Aku hanya laki-laki yang tergila-gila dengan wanita bernama Seika” Ucap Kenichi kembali.


Seika mendengar kalimat per kalimat yang Kenichi katakan dengan jantung berdetak kuat, matanya menatap dalam ke dalam manik kelam kekasihnya. Air mata mulai mengenang di pelupuk matanya.


“Tapi aku ingin kau menerimaku dengan apa adanya aku. Menerima seorang yakuza yang sebenarnya sangat ingin kau jauhi, menerima seseorang yang hanya tahu memerintah, menerima seorang pria yang mempunyai masa lalu yang kelam” Kenichi membelai pipi kekasihnya dengan lembut.


Airmata Seika pun mengalir, ia sangat terharu dengan perkataan Kenichi. Laki-laki itu memegang sebelah tangannya lalu mulai memasukkan cincin emas tersebut dengan perlahan.


“Maukah kau menikah denganku? Melewati hari-harimu dalam suka dan duka denganku sampai maut memisahkan raga kita namun kita akan bertemu kembali di kehidupan selanjutnya” Kenichi mengecup jari manis Seika yang terpasang cincin.


Seika tersenyum terharu, air matanya terus mengalir. Jika akhir-akhir ini ia sering mengeluarkan air mata kesedihan maka kali ini air mata bahagia lah yang keluar dari mata cantiknya. Wanita itu hanya menganggukkan kepalanya dan memeluk Kenichi dengan erat.


Ia mengungkap jawaban atas lamaran Kenichi melalui bahasa tubuhnya.


Kenichi mengecup bibir Seika dengan pelan, lama-kelamaan kecupan tersebut berubah menjadi pagutan yang sarat akan gairah.


Setahun mereka tidak mengekspresikan cinta dengan tubuh mereka, beberapa saat kemudian Kenichi menghentikan pagutan liarnya dan melihat Seika yang wajah merona dan mata yang berkabut akan hasrat.


Kenichi mengangkat tubuh Seika dan membawanya masuk ke dalam kamar dan merebahkan di atas futon.


Ia membelai lembut wajah Seika dan menghujani gadis itu dengan kecupan kecupan singkat, yukata yang Seika pakai mulai longgar dan memperlihatkan kulit tubuhnya yang mulus.


“Aku mencintaimu Seika, sangat sangat mencintaimu” bisik Kenichi dengan suara parau.


Seika menatap ke dalam mata kelam milik pria yang ia cintai, ia tersenyum dan mengangkat tangan kanannya dan memegang lembut wajah Kenichi.


“Aku juga mencintaimu Ken, hanya kau seorang”.


Kenichi kembali memagut bibir merah Seika dengan hasrat yang menggebu-gebu, hasrat yang selama ini ia tekan sekuat tenaga. Mereka bercinta, menyatakan kepemilikan satu sama lain, mengekspresikan cinta yang tertanam dalam hati, menikmati kegiatan demi kegiatan dengan harapan percintaan mereka akan menghasilkan kebahagian yang bentuk seorang anak manusia.


&&&


Kenichi meletakkan seikat bunga di makam ibu dan kakeknya Seika, ini pertama kalinya ia mengunjungi makam keluarga Seika. Ia membungkuk rendah badannya ke arah kedua makam tersebut. Seika hanya diam melihat makam kedua keluarga yang sudah lama tidak ia kunjungi.


“Aku mohon restui kami berdua” Ucap Kenichi kembali. 


Seika dan Kenichi membungkukkan badan mereka lalu berjalan menjauh dari kedua makam tersebut.


&&&


“Ah, aku juga harus meminta restu dari makam kedua orang tuamu” Seika menepuk keningnya. 


Mereka duduk di belakang bangku kemudi, Akira hanya diam mendengarkan.


“Haruskah?” tanya Kenichi tidak yakin.


Ia tidak masalah jika Seika melewatkan hal tersebut.


“Tentu saja, kau tidak ingin memperkenalkan calon istrimu kepada kedua orang tuamu?” tanya Seika dengan kesal.


Kenichi tertawa pelan lalu memegang kepala Seika untuk merebahkan di dadanya. “Tentu saja aku ingin, mereka akan senang melihat menantu cantik sepertimu”.


“Benarkah? Lebih cantik mana aku dengan wanita-wanita yang pernah kau kencani?” tanya Seika menaikkan alisnya. 


“Seika” Panggil Kenichi dengan nada peringatan.


Seika hanya tertawa pelan. “Aku hanya bercanda”.


“Bilang saja kalau kau cemburu dengan masa laluku. Kau bahkan cemburu dengan dirimu sendiri ketika aku bilang kau mirip dengan gadis yang aku cintai. Tsk, tsk kau sangat mencintaiku ya?” Kenichi mengangkat alisnya.


Seika menjauhkan kepalanya dari dada Kenichi. “Aku tidak pernah melakukan hal memalukan seperti itu” Wajah wanita itu mulai memerah karena malu. 


Sial, aku melupakan hal memalukan itu. Bagaimana mungkin aku cemburu kepada diriku sendiri, dasar bodoh, gerutu Seika dalam hati.


Kenichi tersenyum menyeringai. “Kau bahkan memintaku untuk memelukmu lagi, kau hampir membunuhku Seika karena menahan kuat keinginan untuk membuatmu berantakan di ranjang dan mendengar *******-******* milikmu yang luar biasa ketika memanggil namaku”.


Seika memekik pelan dan membungkam mulut Kenichi dengan tangannya. Wajahnya merah padam karena malu akan kata-kata vulgar kekasihnya. Ia melirik ke arah Akira yang tampak tidak terpengaruh sedikit pun.


“Kau dan mulut kotor mu membuatku kesal Ken”.


Kenichi memegang tangan Seika yang di balut oleh sarung tangan dan memindahkan tangan gadis itu dari bibirnya.


“Itu bukan berbicara kotor Seika. Ini baru berbicara kotor, aku memasukkan *** kedalam *** dan membuatmu sampai menjadi ***, aku terus menusuk *** samp…” 


Ucapan Kenichi terputus ketika Seika kembali membungkam mulutnya dengan panik.


“Demi tuhan, apa yang kau katakan Ken?” tanya Seika tidak percaya. Ia bahkan bisa merasakan wajahnya yang memanas karena terlalu malu dengan perkataan Kenichi.


“Aku sedang memberimu pelajaran. Kau mengerti sekarang Seika?” tanya Kenichi dengan tenang.


“Ugh. Gomen nasai (maafkan aku) ” Seika  memeluk Kenichi, menyembunyikan wajahnya yang memerah.


Ya tuhan, aku ingin menghilang saja!!, teriak Seika dalam hati.


Kenichi hanya tersenyum dan memeluk tubuh Seika dengan senang.