LOVE ISN'T AIR

LOVE ISN'T AIR
Bimbang



Beberapa hari kemudian...


Waktu terus berlalu sejak pertemuan terakhir Naura dan Rivan. Dan kini Naura memberanikan diri untuk mengirim pesan kepada Rivan. Tapi sayang, Rivan tidak membalasnya. Sehingga Naura berpundung hati di atas kasurnya sendiri. Menit demi menit ia lalui tanpa balasan pesan. Hingga akhirnya satu jam ia habiskan hanya untuk menunggu balasan Rivan. Naura pun bertanya-tanya sendiri, mengapa ia bisa sampai seperti ini? Menunggu sesuatu yang tak pasti.


"Apa-apaan aku ini, kenapa aku bisa memikirkan pria itu?" Naura kesal kepada dirinya sendiri.


Naura rupanya tidak segera menghubungi Rivan setelah pertemuan mereka. Alhasil setelah empat hari gadis itu baru menghubungi Rivan. Naura pun berpundung hati karena pesannya tidak dibalas. Ia merasa galau sendiri. Padahal Rivan adalah pria idamannya.


Naura ingin sekali mempunyai pasangan yang sesuai dengan kriterianya. Selama ini Naura fokus bekerja dan tidak pernah memedulikan pria yang hilir-mudik di depannya. Hingga akhirnya masa dewasa itu telah datang dan memintanya untuk cepat mencari pasangan. Tipikal Naura pun jatuh kepada Rivan. Tapi sayang, pria itu ternyata tidak membalas pesan.


Mungkin memang bukan jodohku.


Lantas ia pun mencoba memejamkan mata agar tidak terlalu kepikiran. Ia menyetel suara musik kuat-kuat di telinganya. Naura ingin melampiaskan kegundahan hatinya.


Esok malamnya...


Napas yang terembus seolah bicara bahwa Naura sudah jengah menghadapi hari. Hari-hari yang dilalui seakan tak bersahabat dengannya. Pada akhirnya ia kurang bersemangat untuk menjalani hari. Rasa galau itu masih melanda hatinya. Naura bisa dibilang kecewa dengan dirinya sendiri.


"Naura!"


Kembali sepupu Naura memanggilnya. Tapi kali ini bukan di kampus Naura sendiri. Melainkan di depan kantor redaksi tempat Naura bekerja. Ya, Nara menjemput Naura selepas rapat bulanan dengan bos dan para karyawannya.


"Kau menjemputku tidak pernah telat waktu, Nara." Dengan lemas Naura pun masuk ke dalam mobil Nara.


Naura memasang wajah sedih. Ia tahu jika Nara juga punya kesibukkan. Tapi sepupunya itu masih sempat untuk memikirkan dirinya. Naura pun mulai tidak enak hati kepada Nara.


Andai aku punya kekasih, tentunya tidak akan merepotkan Nara lagi.


Naura tersadar akan dirinya yang selama ini seringkali merepotkan Nara. Tiba-tiba perasaan bersalah itu pun menyelimuti hatinya. Naura tidak enak hati kepada Nara. Sedang Nara tampak terheran melihat sepupunya terdiam sambil menunduk sedih.


"Apa kau sudah menemui titik jenuhmu?" tanya Nara kemudian sambil melajukan mobilnya.


Naura hanya mengangguk. Ia merasa bersalah. "Maafkan aku, Nara. Semenjak lulus SMA aku selalu merepotkanmu untuk menjemputku." Naura mengakuinya.


Nara terkekeh. "Apa yang terjadi padamu, Naura? Tumben seperti ini? Biasanya bak supergirl yang kukenal." Nara mencoba menghibur Naura sambil tetap menyetir mobilnya.


"Aku ingin resign saja dari pekerjaanku, Nara." Naura menuturkan.


Nara terkejut. "Kau ini apa-apaan, Naura?! Delapan bulan lagi kau akan diwisuda. Dan tiga bulan ke depan kau akan mulai sibuk dengan skripsimu. Jika kau berhenti bekerja, bagaimana dengan kuliahmu? Siapa yang akan membayar semua itu?" Nara berusaha menguatkan hati Naura.


Naura menghela nalas panjang. Ia merasa ingin menyerah pada kehidupan. Ia mengingat lagi bagaimana kehidupannya selama tinggal di ibu kota. Naura membutuhkan banyak uang untuk membiayai hidupnya. Termasuk biaya kuliah dan kebutuhan sehari-hari. Sedang ibu Naura di desa tidak dapat memenuhi semuanya.


Nara benar. Aku harus tetap bertahan sampai toga itu kudapatkan.


Lantas, melihat hal itu Nara segera mengajak Naura mampir ke sebuah kedai kopi. Nara akan mencoba bicara pada Naura malam ini.