
Nita mencoba mengerti posisi Naura. "Baiklah, kau siapkan saja CV-mu terlebih dahulu. Besok pagi datang ke rumah sakit tempatku bekerja. Aku akan membantumu," ucap Nita yang ingin menolong Naura.
Seketika itu juga Naura amat bersyukur karena akan mendapat pekerjaan yang baru. Nita sendiri yang akan membantu Naura untuk bekerja di rumah sakit tempatnya bekerja. Tentunya hal ini juga tidak terlepas dari Nara yang merupakan kekasih Nita sendiri. Andai Naura bukan sepupu dekat Nara, pastinya Nita akan timbang pilih sebelum memberi pekerjaan.
Nita adalah seorang perawat yang bekerja di salah satu rumah sakit ibu kota. Ia sendiri sudah cukup lama bekerja di sana. Bibi Nita adalah orang kepercayaan rumah sakit tersebut. Sehingga Nita bisa bekerja sejak masih mengambil akademik keperawatannya. Dan bahkan bertemu dengan Nara pun bisa dibilang pertama kali di rumah sakit itu. Di mana saat itu Nara sedang memeriksakan kondisi kesehatannya, dan Nita lah yang memeriksanya sampai selesai.
Naura sendiri kini sudah mengundurkan diri dari kantor redaksinya. Ia merasa tidak pantas lagi untuk bekerja di sana karena khawatir sesuatu terjadi padanya dan juga bosnya. Terlebih saat ini Naura sudah menjadi kekasih Rivan, pria idamannya. Sehingga karena hal itulah Naura tidak ingin sampai mengecewakan Rivan. Ia ingin menjaga hubungannya dengan Rivan.
Terlepas dari itu, Nara mulai curiga dengan gelagat Naura yang aneh. Seingatnya sepupunya itu baru saja mendapatkan rezeki nomplok dari kantor redaksinya. Tetapi entah mengapa Naura begitu cepat memproklamirkan dirinya resign. Hal itu tentu saja membuat Nara curiga terhadap apa yang terjadi pada sepupunya. Ia pun mengaitkannya dengan pembicaraan kemarin.
Jangan-jangan pria yang dimaksud oleh Naura adalah bosnya sendiri?
Namun, Nara tidak ingin membuat Naura semakin tertekan dengan banyak pertanyaannya. Ia mencoba membiarkannya sejenak, menunggu waktu yang tepat untuk bicara. Ketiganya pun akhirnya makan bersama di kedai itu. Berbincang ringan seputar pekerjaan dan kegiatan sehari-hari.
Esok paginya...
Pagi-pagi Naura sudah terbangun dan berolahraga ringan. Ia kemudian segera bersiap-siap menuju rumah sakit, tempat di mana kekasih dari sepupunya bekerja. Ia pun mengenakan pakaian hitam putih sebelum berangkat ke sana. Dengan sepatu pantofel hitam yang menyertai langkahnya. Naura pun siap untuk melamar pekerjaan.
Di-dia?!
Sontak Naura ingin melarikan diri, tapi sayang Hata terburu menyadari kehadirannya.
"Naura, aku ingin bicara padamu!"
Bos redaksi itu mendatangi mantan penulisnya pagi ini. Ia kemudian membukakan pintu mobilnya untuk Naura. Naura pun tidak bisa lari lagi.
Dua puluh menit kemudian...
Hata dan Naura berdiaman sedari tadi di dalam mobil. Tiada kata, tiada suara yang terdengar dari mereka. Hanya deru kendaraan yang lalu-lalang di sekitarnya. Hingga akhirnya keduanya tiba di sebuah Wedding Organizer. Saat itulah Naura terperanjat dengan apa yang dilihatnya.
"Ayo turun, Naura." Hata pun membukakan pintu mobilnya untuk Naura.