
Satu minggu kemudian...
Nara menepati janjinya kepada Naura. Kini ia sudah tiba di kediaman Naura di desa. Ia datang ke sana bersama sepupunya juga. Karen dan Naura ikut bersamanya. Dan tentu saja kedatangan Nara disambut gembira oleh ayah dan ibu Naura.
"Bagaimana kabar ayahmu, Nara?"
Sang paman yang merupakan adik dari ayahnya itu tampak menanyakan keadaan sang kakak. Nara pun menjawabnya dengan berbasa-basi sebentar. Ruang minimalis itu menjadi saksi keempatnya duduk di kursi tamu. Tampak Naura yang mendampingi ayahnya. Sedang di kursi sebelah ada Nara dan Karen.
Aku harap masalah ini bisa cepat selesai.
Karen sendiri berharap Nara bisa membujuk sang paman agar dapat merestui pernikahan Naura, sepupunya. Apalagi selama ini Karen lah yang tinggal serumah dengan Naura. Ia tahu persis bagaimana kesepian Naura tanpa ada pendamping. Selama ini Naura apa-apanya sendiri. Maka dari itulah saat mendengar Naura ingin menikah, Karen mendukungnya. Ia berharap sepupunya bisa segera melabuhkan hati.
"Silakan diminum tehnya."
Ibu Naura pun datang lalu duduk bersama mereka. Menemani Naura di kursi panjang yang ada di sana. Kursi yang terbuat dari jati itu pun menjadi saksi perbincangan mereka.
"Terima kasih, Bibi. Kedatangan Nara ke sini ingin membicarakan hal penting berkenaan Naura kepada Paman dan juga Bibi. Nara harap Paman maupun Bibi bisa menerima pembicaraan ini." Nara membuka percakapannya.
"Silakan, Nara. Paman ataupun bibi tidak keberatan." Ibu Naura menjawabnya.
"Ya, katakan saja. Lagipula kalian sudah jauh-jauh datang kemari. Silakan diminum tehnya."
Ayah Naura pun mulai meneguk teh yang disediakan istrinya. Ia menunggu Nara bicara. Naura sendiri tampak harap-harap cemas di sana. Ia khawatir ayahnya marah lalu mengusir mereka.
Aku harap Nara berhasil hari ini.
Dan pada akhirnya Naura pun berdoa. Nara juga segera memulai pembicaraannya bersama sang paman, ayah dari Naura, sepupunya.
"Ya. Penghasilannya besar, Paman. Nara yakin Rivan adalah pria yang bertanggung jawab. Mereka juga pasti telah membicarakan hal ini sebelumnya. Pasti ada kesepakatan selama toga belum didapatkan."
Setelah satu jam berbincang, hati ayah Naura mulai luluh dengan semua pemaparan yang Nara katakan. Nara menjelaskan bagaimana sudut pandangnya terhadap Rivan. Dan tentu saja ia mengetahui sedikit banyak tentang Rivan dari Naura. Nara benar-benar membantu Naura untuk meluluhkan hati ayahnya.
"Selama ini paman tidak pernah mendengar Naura berpacaran. Jadi saat Rivan datang kemarin, paman merasa sedikit heran saja. Bagaimana bisa Naura punya pacar lalu langsung mengajak menikah?" Ayah Naura mengungkapkan unek-unek di hatinya.
"Paman, namanya kenyamanan tidak memandang sudah lama atau baru. Karen juga kalau dilamar, mau. Karena Karen tahu pacaran itu hanya membuang-buang waktu. Maka saat Naura cerita sudah menemukan pria yang tepat, Karen sangat setuju. Apalagi selama ini Naura sibuk bekerja dan kuliah. Karen kasihan tidak ada yang mendampinginya. Karen sendiri jarang bertemu Naura kalau tidak malam atau pagi buta. Karena Karen punya kegiatan tersendiri juga." Karen ikut bicara, mengungkapkan bagaimana keadaan Naura di ibu kota.
Ayah Naura tampak menimbang ulang perbincangan hari ini. Baik Naura, Nara maupun Karen menunggunya. Sedang ibu Naura sendiri tampak menyerahkan keputusan ini kepada suaminya.
"Baiklah." Pada akhirnya ayah Naura pun bicara. "Paman setuju dengan pernikahan ini. Tapi minta Rivan dan keluarganya datang melamar segera," pinta ayah Naura.
Sontak saja keputusan itu membuat hati Naura semringah seketika. Begitu juga dengan Nara, Karen, dan ibu Naura sendiri.
"Ayah, Terima kasih." Naura pun segera memeluk ayahnya.
Setelah diskusi yang alot siang ini, akhirnya Naura mendapatkan restu dari ayahnya untuk segera menikah. Naura pun bahagia bukan kepalang mendengarnya.
Akhirnya.
Naura bergembira. Ia memeluk kedua orang tuanya. Ia juga memeluk Karen dan Nara. Keinginannya itu akhirnya bisa terlaksana. Naura akan segera menikah bersama pria idamannya.
.........
...Tamat...