
"Pak, maaf. Lebih baik kita pulang saja. Anginnya mulai tidak enak."
Naura pun seperti kedinginan. Ia pergi dari rumah dengan tidak memakai jaket saat ini. Hata pun dibuat menunggu oleh Naura. Naura belum menjawab pertanyaannya.
"Tidak bisakah kau jawab pertanyaanku lebih dulu, Naura?" tanya Hata.
Saat itu juga Naura menunduk malu. "Maaf, Pak. Aku sekarang sudah punya pacar," sahut Naura sedikit ragu.
Saat itu juga Hata merasa sedih mendengarnya. Bak kehilangan udara yang dihelanya. Hata lalu meneguk banyak-banyak air minum yang ada di atas meja. Naura pun segera mencegahnya.
"Pak, jangan! Nanti Anda kembung!" Tanpa sadar Naura pun menunjukkan perhatiannya.
"Biar saja. Lagipula tidak ada yang peduli padaku." Hata pun semakin menjadi-jadi. Ia bagai orang yang frustrasi.
Hata tidak lagi bisa menahan kesedihannya karena kehilangan Naura. Ia merasa Naura begitu berharga baginya. Tapi kini gadis itu secara terang-terangan telah mengungkapkan jika ia mempunyai pacar. Sontak hati Hata pun pecah berkeping-keping. Ia bak sebuah benda yang tidak berguna sama sekali. Hata dilema sendiri.
"Pak, sudah!"
Naura pun terus berusaha mencegahnya. Hingga akhirnya Hata berhenti minum dengan gejolak kecewa yang memenuhi dadanya.
"Aku antarkan kau pulang."
Ia kemudian segera membayar sarapan pagi yang belum sempat dimakan itu. Hata pun masuk ke mobilnya, sedang Naura segera mengikutinya. Hata kemudian mengantarkan Naura kembali ke rumahnya. Dengan perasaan kesal dan sesal yang menyelimuti hatinya.
Satu bulan kemudian...
"Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Yin, teman Hata.
Keduanya kini duduk di dalam ruangan Hata yang tampak sepi. Si empu ruangan pun tampak enggan mengatakan yang sebenarnya tentang Naura.
"Apakah kalian baik-baik saja? Aku begitu tertarik dan ingin melakukan kontrak kerja sama lagi dengannya," tanya Yin yang masih menantikan jawaban Hata.
Sebulan berlalu dari pertemuan mereka, ternyata tidak membuat Naura merubah keputusannya. Naura tetap bersikukuh dengan statusnya sekarang. Ia tidak lagi memedulikan apa yang Hata perbuat untuknya. Bahkan Hata menawarkan gaji tiga kali lipat agar Naura tetap bekerja di kantor redaksinya. Namun nyatanya, kekasih dari Rivan itu tetap teguh pendirian. Naura bahkan menolak mentah-mentah tawaran dari Hata.
"Kami sudah lama berpisah." Hata kemudian mengatakan yang sebenarnya.
"Berpisah?!" Yin pun tidak habis pikir.
Hata mengangguk. "Dia memilih bersama pria lain. Dia juga telah mengundurkan diri dari kantor redaksi ini," terang Hata lagi.
"Astaga ...," Saat itu juga sang produser, Yin yang merupakan teman dari Hata tampak tak percaya. "Apakah sesuatu terjadi pada kalian? Mengapa dia bisa mengundurkan diri?"
Yin pun bertanya-tanya. Pria berjas biru gelap itu tak percaya dengan cerita yang didengarnya.
Hata menarik napas panjang-panjang. Ia merasa sungkan untuk mengatakan hal yang sebenarnya. "Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan. Saat ini aku hanya bisa berharap dia mau kembali padaku saja."
Hata terlihat sedih mengatakannya. Ia beranjak dari kursi lalu melihat halaman parkir kantor dari balik tirai jendela ruangannya. Hata seperti orang yang frustrasi. Ia diliputi dilemanya sendiri.