
Esok harinya di kantor redaksi...
Hari Senin telah datang. Sang bos redaksi pun mengajak Naura untuk makan siang. Sontak hal itu membuat heboh seisi kantor saat melihat mereka berjalan bersama. Tak terkecuali Ina yang membelalakkan matanya saat melihat sang bos membukakan pintu kantor untuk Naura. Ia pun jadi berpikiran yang tidak-tidak.
Hata kemudian mengajak Naura untuk makan di restoran mewah. Tapi, Naura segera menolaknya. Ia malah meminta Hata untuk mengantarkannya ke kedai tempat biasa ia membeli es kapucino kesukaannya. Sontak saja Hata makin terpesona, karena nyatanya Naura tidak suka menghambur-hamburkan uang. Pada akhirnya keduanya makan siang di kedai es itu.
Naura memesan es dan juga sandwich untuk makan siang kali ini. Begitu juga dengan Hata yang mencoba mengikuti selera Naura. Awal-awalnya Hata merasa aneh dengan makanan yang murah. Tapi lambat laun ia pun menghabiskannya. Malah ia memesan lagi untuk dibawa pulang nantinya. Dan kini mereka baru saja selesai makan siang bersama.
"Naura, apakah menurutmu seusiaku sudah pantas untuk menikah?" tanya Hata yang memandangi Naura.
Naura pun tampak terheran dengan pertanyaan bosnya. "Anda bertanya padaku sebagai atasan atau sebagai teman, Pak?" tanya Naura berhati-hati.
Hata pun tersenyum sendiri. "Sudah kubilang jika diluar jam kerja jangan panggil aku dengan sebutan seperti itu. Panggil saja aku Hata. Menurutku itu lebih baik," jawab Hata sambil menerima total pembayaran makan siangnya dari pelayan kedai.
Naura hanya tersenyum palsu. "Aku rasa ... memang sudah pantas untuk menikah." Naura pun dengan ragu mengatakannya.
Hata tersenyum. Ia lalu menyeruput es kapucinonya. "Tapi aku tidak punya pacar, Naura. Bagaimana akan menikah sedang kekasih saja tidak punya?" Hata berterus terang.
"Memangnya tidak ada yang tertarik pada Anda, Pak? Bukankah Anda sudah mapan?" Naura pun dengan polos menanyakannya.
Hata tertawa kecil. Wajahnya begitu tampan saat gigi-gigi kecil itu terlihat di pandangan mata Naura. Karena baru kali ini Naura dapat melihat bosnya tertawa sebahagia ini. Naura pun merasa bingung sekaligus senang yang bercampur satu karena bisa melihat bosnya tertawa.
"Naura, aku punya kriteria idaman. Tapi aku belum menemukannya." Hata menuturkan.
"Memangnya seperti apa kriteria wanita idaman, Bapak?" Naura terus saja memanggil Hata dengan sebutan bapak.
Hata tersenyum. Ia lalu berkata, "Sepertimu."
Saat itu juga jantung Naura berdetak kencang. Mulutnya seperti ingin bicara tapi kata-kata itu seolah tertahan di tenggorokannya.
Siang ini ternyata Hata memberanikan diri mengutarakan wanita idamannya kepada Naura. Sontak saja Naura menjadi bingung harus berkata apa. Ia tidak mempunyai persiapan untuk itu. Ia pun terpaku di tempatnya.
Perlahan-lahan tangan Hata pun meraih tangan Naura yang berada di atas meja. Saat itu juga Naura seperti kehilangan kendali atas pikirannya. Ia tidak bisa berpikir. Hatinya diselimuti banyak tanda tanya. Mengapa bosnya sampai seperti itu. Pada akhirnya Naura pun hanya membiarkan Hata memegang tangannya. Makan siang kali ini menjadi saksi awal mula kedekatan mereka.
Sore harinya...
Hata mulai gencar-gencarnya menunjukkan perhatiannya kepada Naura. Dan kini Naura diantarkan pulang olehnya. Sesampainya di depan gang rumah Naura, Hata pun segera membukakan pintu mobilnya untuk Naura. Bak pangeran yang memperlakukan putrinya. Naura pun terlihat segera turun dari mobilnya.