
Dia gadis yang cantik.
Pada akhirnya Hata pun beranjak pergi. Ia segera melajukan mobilnya dari depan gang rumah Naura. Sedang Naura berjalan cepat untuk sampai ke rumahnya. Ia khawatir ada tetangga yang melihatnya. Jika baru saja diantar pulang oleh bukan Nara.
Esok paginya...
Pagi hari yang cerah menemani Naura berbelanja di toserba terdekat. Ia membeli berbagai macam keperluan bulanan yang dibutuhkan. Maklum, Naura habis ditransfer oleh sang ibu. Walau tidak banyak, tapi itu cukup untuk membeli keperluan pribadinya. Dan Naura begitu senang saat waktu berbelanja tiba.
Eh? Bukankah itu?!
Tanpa sengaja dari kejauhan Naura melihat ada seorang pria yang seperti dikenalnya. Ia pun mencoba mengingat dan terus mengingatnya. Sampai akhirnya didapatkan siapa pria tersebut. Naura pun yakin pasti jika pria itu pernah dijumpainya. Ia lantas mendekati pria tersebut.
Pria itu adalah seorang pria berwajah tampan dan juga berkulit putih. Tingginya sekitar 175 cm dengan kardigan hitam yang membalut tubuhnya. Membuat dirinya semakin terlihat tampan dengan warna kulit yang cerah. Naura pun menyapanya.
"Em, permisi." Naura berdiri di dekat pria itu.
Pria itu pun menoleh. "Oh, hai apa kabar?" Ternyata pria itu juga mengenali Naura.
Karena mendapat respon yang baik, Naura pun segera menanyakan pria itu lebih lanjut. "Kita bertemu lagi di sini. Apakah sebuah kebetulan?" tanya Naura berbasa-basi.
Pria itu tampak tersenyum. "Kau merasa seperti itu?" tanya pria tersebut.
Naura pun mengangguk ragu.
"Baiklah. Kita selesaikan pembayaran terlebih dahulu baru mengobrol. Bagaimana?" tawar sang pria.
Saat itu juga Naura mengangguk yakin. Sang pria pun tersenyum melihat tingkah Naura.
Gadis ini ternyata lucu.
Pada akhirnya mereka segera membayar barang belanjaan tanpa peduli apa keperluannya sudah tersedia semua atau belum. Pria itupun mengajak Naura duduk mengobrol di kursi teras toserba.
Beberapa menit kemudian...
"Kau pria yang memberiku es kapucino, kan?" tanya Naura memberanikan diri.
"Ya. Aku membelinya di tempat yang sama," jawab pria itu.
"Eh?!" Naura pun kaget dengan jawaban sang pria.
"Namaku Rivan. Senang berkenalan denganmu." Pemuda yang mengaku bernama Rivan itu pun mengulurkan tangannya, mengajak Naura berjabat tangan.
Naura pun dengan ragu membalas jabatan tangan itu. "Aku ... Naura." Naura menjawabnya dengan ragu.
Rivan tersenyum. "Nama yang bagus." Ia memuji nama Naura.
Naura pun tersipu malu sendiri.
"Rumahmu di mana?" tanya Rivan lagi.
"Em, tidak jauh dari sini." Seketika Naura grogi sendiri.
Rivan menahan tawanya. "Ya, ya. Baiklah. Senang berkenalan denganmu, Naura. Sebenarnya aku ingin berbincang lama. Tapi sepertinya waktu belum memungkinkan kali ini. Ini nomor ponselku. Kau bisa menghubungiku jika senggang."
Dengan tanpa ragu Rivan pun memberikan nomor ponselnya kepada Naura. Sontak Naura jadi dag-dig-dug tak karuan. Pria yang merupakan idamannya itu seolah membuka lebar-lebar pintu hatinya untuk Naura. Naura pun sampai bingung harus berkata apa.
"Baiklah, sampai bertemu lagi."
Rivan pun lekas berpamitan lalu pergi dengan menaiki motor sport-nya. Sehingga bertambah lah ketampanan Rivan di mata Naura. Saat itu juga Naura terkesima. Ia sampai menepuk-nepuk pipinya.
"Aku tidak sedang bermimpi, kan? Ini nyata?"
Ia bertanya sendiri dalam jantung yang berdebar-debar. Rivan mampu menghipnotis Naura dengan ketampanan dan sikapnya. Lalu jika sudah begini, siapa yang harus disalahkan?
.........
...Rivan...