LOVE ISN'T AIR

LOVE ISN'T AIR
Bertemu



Ialah Rivan yang siang ini janjian dengan Naura. Ia berdiri seraya memasukkan kedua tangannya ke saku celana. Sambil memandangi perkotaan yang begitu padatnya.


"Rivan!" Naura pun menyapa Rivan.


Rivan membalikkan badannya, mengahadap Naura. "Kau sudah datang?" Ia tersenyum kepada sosok gadis yang terburu-buru menghampirinya.


"Kau mendadak sekali memintaku bertemu. Memangnya tidak bisa dari malam apa?" tanya Naura lalu duduk di kursi taman.


Rivan ikut duduk di samping Naura. "Kau sangat sibuk. Bahkan sangat lama jika membalas pesanku," tutur Rivan.


"Eh?!" Naura pun tidak terima.


"Bagaimana kabarmu?" tanya Rivan kemudian.


Naura menghela napasnya. "Aku sedang gundah akhir-akhir ini," tutur Naura pada pria di sampingnya.


"Gundah?" Rivan pun penasaran.


Naura mengangguk. "Aku merasa terikat tapi juga membutuhkannya," terang Naura. Saat itu juga Rivan mengerti siapa yang dimaksudkan.


"Sebenarnya kau sudah mempunyai pacar atau belum, Naura?" tanya Rivan ingin tahu.


Naura menoleh ke arah Rivan. "Buat apa kau menanyakan hal itu?" Naura juga ingin tahu apa alasan Rivan menanyakannya.


Rivan tertawa. "Aku ingin melamarmu kalau masih sendiri," katanya, seraya melihat ke Naura.


Naura pun memasang wajah cemberutnya. "Jangan bercanda, Rivan." Naura tidak ingin menanggapinya.


Rivan tersenyum. "Baiklah. Pertemuan kali ini bertujuan ingin mengajakmu ke rumahku. Apa kau mempunyai waktu luang untukku, Naura?" Rivan bertanya lagi.


"Ap-apa?! Ke rumahmu?!" Naura pun terkejut seketika.


Rivan mengangguk. "Aku akan menjemputmu," kata Rivan lagi.


Rivan menghela napasnya. "Terserah. Bisa di kantor atau di rumah." Rivan menjawabnya dengan santai.


Naura mengernyitkan dahinya. "Memangnya kau tahu di mana kantorku?" tanya Naura yang heran.


Rivan tersenyum. "Itu hal yang mudah bagiku." Rivan menjawabnya. "Kalau begitu sampai nanti." Rivan pun beranjak pergi, meninggalkan Naura dengan pesannya.


"Rivan!" Naura pun memanggil Rivan kembali sebelum menghilang dari pandangannya. "Aku tidak mengerti apa maksudmu selama ini. Bisakah kau jangan tarik-ulur hatiku?" tanya Naura tanpa sadar.


Saat itu juga Rivan menarik napas dalam-dalam. Ia memikirkan perkataan Naura. Ia kemudian berbalik ke arah Naura.


"Aku serius. Maka akan kubuktikan keseriusanku," katanya lalu berlalu pergi dari hadapan Naura.


Rivan ....


Saat itu juga Naura mulai gundah dengan hatinya. Rivan datang dan ingin mengajaknya ke rumah. Tentu saja kedatangan Naura akan menjadi awal yang bahagia. Sungguh Naura tidak menyangka sebelumnya.


Entah mengapa aku merasa bingung dengan ceritaku sendiri. Hata yang semalam menciumku, dan siang ini Rivan yang ingin mengajak ku ke rumahnya. Dia juga berkata serius padaku. Sebenarnya siapa yang benar-benar mencintaiku?


Pada akhirnya Naura pun terdiam di tempatnya. Ia kemudian kembali ke kantornya. Tapi sebelum itu ia mampir ke kedai es kapucino terlebih dahulu. Ia ingin membeli dua cup es kapucino di sana. Tak lain tak bukan untuk mendamaikan hatinya yang sedang gundah. Tak lain tak bukan karena Rivan seorang.


Lusa kemudian...


Di kantor redaksi sedang diadakan bersih-bersih sebelum libur akhir tahun. Hari ini merupakan hari terakhir bekerja di kantor pada tahun yang sekarang. Naura dan Ina pun selesai bekerja sibuk membersihkan ruangannya. Tak lama kemudian Hata pun mendatangi mereka.


"Naura." Hata memanggil Naura.


"Pak?" Naura pun melihat Hata datang.


"Besok tanggal merah. Kau mau ke mana?" tanya Hata kepada Naura. Ina yang di samping Naura pun pura-pura tidak mendengarnya.


"Aku tidak tahu, Pak," jawab Naura yang grogi didatangi Hata tiba-tiba.