
Setengah jam kemudian di rumah Naura...
Naura baru saja mandi. Ia pun melihat ponselnya yang tergeletak di atas meja. Dan ternyata ada pesan dari Karen. Karen bilang padanya jika sedang otw pulang ke rumah. Dan ternyata pesan itu sudah setengah jam berlalu. Naura pun segera membalas pesan Karen dengan mengatakan iya. Ia lalu beranjak ke kamarnya untuk mengenakan pakaian. Namun, saat itu juga terdengar suara ketokan di pintu rumahnya.
Karen?
Karena berpikir itu Karen, Naura lekas membukakan pintu hanya dengan memakai handuk saja. Dan saat pintu dibuka, saat itu juga ia terkejut sampai ingin pingsan. Naura pun segera menutup pintu rumahnya kembali.
"Astaga, astaga! Apakah aku sedang bermimpi?" Naura mencubit-cubit tangannya sendiri. Ia terlihat dramatis.
Tanpa berpikir panjang Naura pun langsung mengenakan pakaian dan membukakan pintu rumahnya kembali. Saat itu juga terlihat lah seorang pemuda bersweter hitam sedang melipat tangannya di teras kecil rumah Naura. Naura pun menyadari siapa gerangan yang datang. Yang mana ternyata bukan Karen, melainkan...
"Ri-rivan?"
Naura menyapa Rivan yang berdiri membelakanginya. Jelas saja ia tahu jika itu Rivan yang datang karena memakai pakaian yang sama saat bertemu dengannya di toserba.
Pria yang memang benar Rivan itu pun memutar badannya, menghadap ke arah Naura. "Hai, apakah aku mengganggumu?" tanyanya dengan sirat senyum palsu.
Saat itu juga Naura bingung. Ia takut kedatangan Rivan menjadi perbincangan para tetangganya. Naura pun lekas keluar dari rumah lalu menutup pintu. Ia kemudian mengajak Rivan ke warung bakso terdekat, agar tidak menjadi omongan tetangga karena berduaan di rumah.
Di warung bakso...
Naura mengajak Rivan ke warung bakso yang tak jauh dari rumahnya. Sesampainya di sana Naura segera memesan dua mangkuk bakso untuk keduanya. Pelayan warung bakso pun memberikan mereka minuman pembuka. Berupa teh hangat yang manis rasanya.
"Hmm ... aku lupa siapa namamu." Rivan mulai berkata.
Rivan mengangguk pelan. Saat itu juga Naura bertanya-tanya dalam hatinya. Bagaimana dia bisa lupa namaku tapi sudah berada di depan rumahku?
Ia pun tidak habis pikir jika Rivan benar-benar lupa akan namanya. "Aku Naura." Naura akhirnya memperkenalkan dirinya lagi dan tidak mempermasalahkan hal yang dikatakan Rivan.
Rivan tersenyum. Saat itu juga pedagang bakso mengantarkan pesanan keduanya. "Silakan." Pedagang bakso mempersilakan Naura dan Rivan untuk menyantap baksonya.
"Terima kasih." Naura pun menjawabnya.
Rivan mulai memberi saos pada kuah baksonya. Naura pun tidak bisa berdiam diri dengan ucapan Rivan yang baru saja. Ia lalu menanyakannya.
"Em, maaf. Bagaimana kau bisa ke rumahku sedang tidak tahu namaku?" tanya Naura cepat. Ia masih mengharapkan Rivan menjawab sejujur-jujurnya.
"Percaya tidak kalau aku mengikutimu?" Rivan balik bertanya lalu meneguk teh hangatnya.
"Mengikutiku? Maksudmu?" tanya Naura lagi.
Rivan terkekeh sendiri. Ia merasa Naura mudah sekali untuk dibohongi. "Kau bertanya-tanya?" Rivan malah balik bertanya kembali.
Saat itu juga Naura geram bukan kepalang. Sialan! Beraninya dia mencandaiku setelah berhasil membuatku sakit hati!
Naura tidak terima dicandai Rivan. Ia merasa Rivan tidak berperasaan. Naura telah kecewa karena Rivan menggandeng seorang perempuan ke acara pesta waktu itu. Namun sepertinya, semua akan terjawabkan.
"Pria itu kekasihmu, kah?" tanya Rivan kemudian. Saat itu juga Naura jadi tersadarkan apa yang dimaksudkan oleh Rivan.