
"Kakak, kau di sini?" tanya Rivan melihat sang kakak yang sudah menunggunya sedari tadi.
"Ya. Aku ada jam kerja pukul sebelas nanti," jawab kakaknya.
Rivan mengangguk.
"Aku ingin bicara sebentar padamu, Rivan." Sang kakak menuturkan.
"Baiklah."
Keduanya kemudian menuju ruangan khusus teknisi yang ada di sana. Rivan dan Reyan pun masuk ke dalamnya. Mereka duduk di kursi tunggu di sebuah ruangan yang tidak terlalu besar. Reyan pun segera memulai pembicaraannya.
"Bagaimana penerbanganmu dua hari ini, apa ada kendala?" tanya Reyan kepada Rivan, adiknya.
"Hah ...." Rivan mengembuskan napasnya.
"Kenapa? Apa kau tidak menyukai penerbanganmu?" Reyan bertanya kembali kepada adiknya.
"Kakak, cuaca saat ini sedang tidak menentu. Aku tidak dapat memastikan penerbanganku tepat pada waktunya." Rivan menceritakan kepada kakaknya.
"Kau lakukan saja tugasmu dengan baik. Tidak perlu memaksakan kehendak yang bukan urusanmu." Reyan memberi saran.
"Iya, itu benar. Tapi penerbanganku sering tertunda jadi tidak bisa menemui Naura dengan cepat," timpal Rivan kembali.
Reyan tersenyum. "Kau sudah serius padanya?" tanya Reyan kepada adiknya.
Rivan mengangguk. "Aku ingin memilikinya. Selama-lamanya." Rivan berkata lagi.
Sang kakak tampak mengerti. "Baiklah, segera temui dia dan tanyakan di mana rumah orang tuanya. Aku akan menemanimu untuk melamarnya." Reyan mengatakan.
Saat itu juga Rivan terbelalak tak percaya. "Kau sungguhan, Kak? Aku sudah boleh menikah?" Rivan tak percaya.
Reyan mengangguk. "Nanti aku yang akan bicara kepada manajer maskapai penerbangan mengenai kontrak kerjamu. Jangan khawatir. Sekarang persiapkan dirimu saja untuk melamarnya." Reyan bersungguh-sungguh ingin membantu adiknya.
Saat itu juga Rivan tersenyum ceria. Ia pun langsung memeluk kakaknya. "Terima kasih, Kak. Kau memang bisa diandalkan. Aku menyayangimu," kata Rivan yang membuat Reyan menggeleng-gelengkan kepalanya.
Dia ada maunya saja berkata seperti itu.
"Hei, jangan senang dulu. Pastikan dia mau menerima lamaranmu." Reyan pun melepas pelukan adiknya.
.........
...Reyan...
...Rivan...
.........
Malam harinya...
Sepulang kuliah seperti biasa Naura dijemput oleh Nara. Tapi, malam ini Nara menjemput Naura bersama Nita. Mereka kemudian mengobrol di salah satu kedai terdekat. Naura pun mencoba bertanya kepada Nita.
"Nita, di tempatmu apakah sedang membutuhkan karyawan?" tanya Naura saat mereka baru saja sampai di kedai.
Sontak Nara pun terkejut. Sebuah pertanda seperti didapatkannya malam ini.
"Kau mau bekerja di tempatku, Naura?" tanya Nita kepada Naura.
Naura mengangguk.
Nita mencoba mengingat-ingatnya. "Di tempatku memang ada admin yang akan cuti melahirkan minggu ini. Kami juga belum mendapatkan penggantinya. Jika kau mau, kau bisa bekerja menggantikannya. Tapi hanya tiga bulan saja. Apa kau mau?" tanya Nita ke Naura.
Tak lama pelayan kedai pun datang membawakan daftar menu makanan untuk mereka. Nara segera memesan beberapa minuman untuk mereka. Ia juga memesan cemilan untuk dimakan bersama malam ini.
"Aku pikir ... aku coba saja. Karena aku sudah mengundurkan diri dari kantor redaksi." Naura mengatakannya.
Saat itu juga Nara terbelalak seketika. "Jadi kau serius mengundurkan diri dari tempat kerjamu?" Nara tidak bisa diam lagi. Ia akhirnya ikut bicara.
Naura mengangguk. "Aku rasa itu lebih baik. Tidak ada kejelasan kenaikan gaji juga untukku." Naura seperti menyimpan sesuatu.