LOVE ISN'T AIR

LOVE ISN'T AIR
Dijemput



"Kabari aku ya jika tidak ada acara. Aku ingin mengajakmu makan malam bersama ayahku," ucap Hata lagi. Saat itu juga tanpa sengaja Ina menjatuhkan tempat penanya.


Aduh, bosku ini.


Naura pun jadi tidak enak hati sendiri. "Baik, Pak." Naura pun mengiyakannya saja.


Hata tersenyum. Ia kemudian meninggalkan ruangan Naura. Ina pun segera mendekati temannya.


"Naura, jadi benar kabar selama ini?" tanya Ina kepada Naura.


Naura menoleh. "Apanya? Kabar yang mana?" Naura pun pura-pura tidak tahu saja.


Ina tampak segan mengatakannya. Ia kemudian mengalihkan pembicaraan. "Aku tunggu kabar baiknya saja." Ina pun tersenyum pada Naura.


Naura menggelengkan kepalanya. Ia hanya diam sambil meneruskan bersih-bersihnya.


Sepulang kantor...


Hujan turun begitu deras, membuat Naura harus menunggu di depan kantor sebelum pulang. Sedang Hata sudah pulang duluan karena ada urusan. Naura pun duduk bersama Ina di depan kantor sambil menunggu hujan reda. Tak lama mobil BMW hitam pun berhenti di hadapan mereka.


Seseorang di dalam mobil itu menurunkan kaca mobilnya. Terlihatlah seorang pria berjaket putih yang menujukan pandangannya kepada Naura. Seketika itu juga Naura kaget melihatnya. Ternyata Rivan datang untuk menjemputnya.


"Ri-rivan?!"


Naura pun berdiri diikuti teman satu ruangannya, Ina. Rivan kemudian turun dari mobilnya lalu menghampiri Naura. Ina pun menjadi saksi keduanya yang bertemu siang ini. Seketika itu juga Ina jadi bertanya-tanya.


Pria ini pacar Naura, kah?


Sementara Naura sendiri membatin dalam hatinya. Ia tak menyangka jika Rivan akan benar-benar datang menjemputnya.


Hujan yang turun menjadi saksi dua pasangan hari ini. Pada akhirnya mereka pun berpisah dan menuju tempat tujuan masing-masing. Tak lain tak bukan untuk menikmati malam tahun baru bersama.


Lalu bagaimana kisah Naura dan Rivan selanjutnya? Apakah Rivan akan menyatakan perasaannya kepada Naura?


Satu jam kemudian...


Canggung. Itulah yang Naura rasakan saat datang ke rumah kakak Rivan. Naura pun diam saja sejak kedatangannya ke rumah ini. Dan Rivan pun seperti ingin menunjukkan kepada kakaknya bagaimana paras cantik seorang gadis yang telah membuatnya patah hati. Tak ayal Rivan duduk di dekat Naura sambil menunggu kakaknya datang.


Rivan memerhatikan Naura yang diam saja sedari tadi. Ia pun tersenyum sendiri melihat Naura tak bergerak sama sekali. Pada akhirnya ia lebih duduk mendekati Naura. Rivan pun iseng meniup telinga Naura. Saat itu juga Naura memukulnya. Ia tanpa sadar melakukannya.


"Rivan!" Naura refleks memukul Rivan.


Rivan tertawa. Tawa yang tertahan saat berhasil memecahkan kecanggungan yang Naura rasakan. Hingga akhirnya Reyan datang bersama istrinya. Mereka pun kemudian berkenalan.


"Jadi ini gadis yang kau ceritakan, Rivan?" tanya Reyan kepada Rivan.


"Benar. Tidak salah lagi." Rivan pun menjawab apa adanya.


"Naura, silakan diminum tehnya." Sang istri Reyan pun mempersilakan Naura untuk meminum teh yang dibawanya.


"Terima kasih, Kak." Naura pun segera menerimanya.


Keempatnya duduk di ruang tamu dengan Rivan yang kembali duduk menjauh dari Naura. Sedang Nia sendiri, istri dari Reyan duduk bersama Naura. Mereka kemudian bercakap ringan sebelum masuk ke inti pembicaraan. Ada hal yang ingin Reyan katakan kepada Naura.


"Sebelumnya aku ingin meminta maaf atas sikap adikku. Mungkin dia sering membuatmu jengkel, Naura." Reyan membuka percakapan.