
"Selamat Naura, akhirnya kau bisa bekerja kembali." Nara mengucapkan selamat.
Naura tersenyum. "Terima kasih, Nara. Tentunya tanpamu Nita tidak akan membantuku untuk mendapatkan pekerjaan ini." Naura berucap senang.
Nara tertawa. "Itu bukan masalah untukku. Asal kau bahagia, aku juga akan bahagia. Kau tenang saja. Selama aku bisa membantumu, kenapa tidak?" Nara menguatkan hati Naura.
Saat itu juga Naura terharu dengan perkataan sepupunya. Ia merasa Nara sudah mencukupi ketenangan batinnya. Tapi ternyata ada kebutuhan lain yang harus Naura penuhi dan Nara tidak bisa memberikannya. Yaitu kasih sayang sebagai pasangan.
Maafkan aku, Nara. Aku tidak bisa jujur apa yang terjadi padaku. Maafkan aku.
Lantas Nara pun segera mengantarkan Naura pulang ke rumahnya. Keduanya melewati jalan ibu kota yang mulai ramai menjelang siang. Nara pun membelokkan setir mobilnya ke arah kanan. Berniat menuju ke jalanan rumah Naura.
"Kapan kau akan mulai bekerja, Naura?" lanjut Nara.
"Lusa aku sudah mulai bekerja," jawab Naura.
"Baguslah kalau begitu. Kau harus tetap semangat," pesan Nara kepada Naura.
Naura mengangguk. Mereka pun meneruskan perjalanan menjelang siang ini hingga sampai di depan jalan gang Naura.
Beberapa hari kemudian...
Naura sudah mulai menjalani pekerjaan barunya sebagai staf administrasi rumah sakit yang ada di ibu kota. Jam kerjanya pun lebih awal yang membuat Naura harus datang lebih pagi. Pukul setengah delapan ia sudah masuk bekerja dan pulang pada pukul setengah lima sore. Naura banyak menghabiskan waktunya di rumah sakit.
Beberapa hari ini ia juga lebih banyak menghabiskan waktu senggangnya dengan beristirahat. Sampai-sampai ia jarang berkomunikasi dengan Rivan, pacarnya sendiri. Namun, Rivan mencoba memakluminya karena Naura baru saja bekerja. Jika Rivan bisa, ia akan menjemput Naura saja. Seperti sore ini, Rivan menjemput Naura di rumah sakit. Ia menunggu Naura keluar dari ruang staf administrasi.
Yang ditunggu pun akhirnya datang. Naura menghampiri Rivan yang sudah menunggunya. Baik Rivan maupun Naura, keduanya tersenyum senang.
"Pakaianmu lebih sopan dibanding saat bekerja di kantor redaksi." Rivan memerhatikan penampilan Naura yang baru.
Naura tersipu malu. "Kita mau ke mana? Malam ini malam minggu." Naura pun membuka pintu lebar-lebar bagi Rivan untuk mengajaknya bermalam minggu.
Rivan melihat jam di tangannya. "Kita ke kafe saja ya. Ada hal yang ingin kubicarakan padamu." Rivan ingin bicara empat mata kepada Naura.
Naura mengangguk. "Baiklah. Aku mengikut saja." Naura pun mengiyakan ajakan Rivan.
Rivan tersenyum. Ia kemudian mengusap kepala Naura. Naura pun merasa senang karena dimanjakan oleh Rivan. Karena bagaimanapun mereka sudah berpacaran. Memulai pendekatan sebelum pernikahan.
Lantas apa yang akan Rivan bicarakan? Akankah kejadian di tepi jalan bersama Hata itu ia ungkapkan? Lalu bagaimana dengan tanggapan Naura sendiri? Apakah Naura akan jujur tentang apa yang terjadi?
Sementara itu di kediaman Gun, teman dari Hata...
Sore ini Hata menceritakan apa yang terjadi padanya. Keputusan seorang gadis yang akhir-akhir ini menganggu pikirannya. Sampai sebuah tindakan ia ambil untuk melampiaskan semuanya. Ia menemui pacar dari Naura lalu menghajarnya.
"Kau serius?" tanya Gun kepada Hata.
Hata menganggukkan kepalanya. "Aku sudah benar-benar emosi karena dia mengundurkan diri. Apalagi kalau bukan karena pria itu." Hata merasa tidak terima ditinggalkan Naura begitu saja.