
"Aku pikir kau dan Rivan seperti cerita-cerita di FTV itu, Nita." Naura mengungkapkan isi pikirannya.
"Maksudmu?" tanya Nita yang bingung.
"Kau menyukai Rivan." Naura berbisik pelan.
"Hahaha." Saat itu juga Nita tertawa. "Kak Rivan memang tampan. Tapi kakakku sangat melarang untuk berpacaran dengan temannya." Nita menuturkan.
"Kenapa?" tanya Naura.
"Dia khawatir persahabatannya akan rusak karena menjalin hubungan dengan adiknya. Jadi setiap ada temannya, aku tidak diperbolehkan untuk keluar." Nita menceritakan.
Naura mengangguk-angguk. Ia tak percaya jika kakak Nita begitu menjaga adiknya.
"Baiklah, kau ingin pulang sekarang?" tanya Nita.
Naura melihat jam di tangannya. "Sepertinya aku pulang saja. Sudah hampir siang juga. Tadi sudah mengirim pesan ke Nara dan katanya dia bisa menjemputku," tutur Naura.
"Kalau begitu hati-hati. Salam untuknya. Aku lanjut bekerja ya." Nita pun berpamitan.
Naura mengangguk. Keduanya kemudian berpisah di ruang tunggu rumah sakit. Nita harus segera bekerja selepas mengantarkan Naura. Sedang Naura menunggu Nara datang.
Sementara itu...
Di salah satu jalan yang ada ibu kota, tampak Hata yang berusaha mengejar mobil yang dikendarai Rivan. Hingga akhirnya Hata pun berhenti mendadak di depan Rivan. Sontak insiden tabrakan hampir saja terjadi. Hata pun segera keluar dari mobilnya lalu menghampiri Rivan. Rivan juga ikut keluar dari mobil karena merasa tidak bersalah.
"Hei, Bung! Apa maksudmu menghalangi jalanku?" tanya Rivan kepada Hata.
Hata dengan raut wajah marahnya bertanya kepada Rivan. "Kau siapa Naura?" tanya Hata segera.
Tanpa basa basi Hata pun segera meninju Rivan. Sontak Rivan yang tidak mempunyai persiapan, jatuh ke aspal. Dengan berapi-api Hata pun memeringatkan Rivan.
"Jauhi Naura! Dia milikku!" Hata menegaskan.
Rivan pun bangun dari jatuhnya. Ia mengusap sudut bibirnya yang mengeluarkan sedikit darah, akibat tinjuan dari Hata. Sisi lain dari dirinya pun akhirnya keluar. Mereka bak dua singa jantan yang siap bertarung untuk memperebutkan betinanya.
"Kau siapa, hah?! Berani-beraninya berkata seperti itu padaku!" Rivan berkata sambil memegang pipinya yang terkena tinjuan Hata.
Hata menjawab, "Aku adalah calon suami Naura. Kuharap kau mengerti dan lekas menjauhinya!" seru Hata kepada Rivan.
Sontak Rivan pun berdecih jijik kepada Hata. "Dasar tidak tahu malu!" Rivan pun berkata seperti itu kepada Hata.
"Hei, apa maksudmu?!" Hata pun semakin berapi-api kepada Rivan.
"Kau ingin tahu apa maksudku?" tanya Rivan dengan nada mengejek.
Rivan mengalihkan pandangannya sesaat. Ia lalu bergantian meninju Hata. Sontak keributan terjadi dan menjadi sorotan para pengendara yang lewat. Jalanan pun akhirnya macet karena keributan mereka. Hingga akhirnya keduanya dipisahkan oleh pengendara motor yang lewat.
Sial!
Namun, keduanya sama-sama masih tidak terima walaupun sudah terkena tinjuan. Para pejalan kaki yang melihatnya pun mencoba mengatur lalu lintas agar kembali lancar. Sedang Rivan dan Hata diminta untuk segera pulang agar tidak memicu kemacetan jalan.
Di waktu yang bersamaan...
Naura pulang meminta jemput Nara. Kebetulan Nara sedang berada tidak jauh dari rumah sakit. Ia baru saja mengantarkan lobster besar untuk restoran yang ada di sana. Dan kini Nara sedang mengantarkan Naura pulang ke rumahnya.