LOVE ISN'T AIR

LOVE ISN'T AIR
Hasil Diskusi



Ada harap-harap cemas di hati Naura akan perbincangan ayahnya bersama Rivan. Ia khawatir pernikahan itu tidak bisa diselenggarakan. Apalagi Naura memang mencintai Rivan. Ia tidak bisa pindah ke lain hati lagi. Cukup Rivan saja sekarang dan selamanya.


Ya Tuhan, tolong aku. Gerakkan hati ayah agar mau menerima lamaran Rivan. Aku sudah siap menikah. Aku juga sudah siap menanggung risikonya. Aku ingin tentram bersamanya. Tidak ingin pria lain lagi.


Pria berkulit putih itu ternyata mampu meluluhkan hati Naura dengan segala sikap dan sifatnya. Pada akhirnya Naura pun berdoa agar pernikahannya bisa lekas terselenggarakan.


Selain merasa tentram dan tidak perlu takut saat bersama, Naura pun ingin selalu bersama pria yang dicintainya. Tak lain tak bukan adalah Rivan seorang. Pria idaman Naura sejak beranjak dewasa. Lantas apakah diskusi ayah Naura dan Rivan menghasilkan sesuatu keputusan yang indah?


Malam harinya...


Naura dan Rivan akhirnya memutuskan untuk kembali ke ibu kota setelah pulang ke desa. Tampak Rivan yang diam di sepanjang perjalanan. Ia seperti sedang memikirkan hasil diskusinya bersama ayah Naura. Rivan seperti keberatan tapi tidak bisa juga menolaknya.


"Rivan ...."


Naura sendiri tampak tidak enak hati dengan kekukuhan hati ayahnya. Yang mana sang ayah meminta Rivan dan Naura untuk bertunangan dulu. Ia menyayangkan sikap ayahnya yang bersikukuh terhadap pendirian. Padahal ia sendiri sudah siap untuk menikah bersama Rivan. Yang mana akhirnya membuat Rivan dilema. Niat baiknya harus tertunda.


"Em, Beb. Nanti langsung beristirahat saja ya." Rivan pun mulai menunjukkan perubahan sikapnya kepada Naura. Berbicara seadanya saja.


Sementara itu...


Di apartemen Hata terlihat sedang terjadi pertengkaran antara Hata dan juga Mei. Gun pun ada di sana. Tapi ia diam saja melihat pertengkaran itu terjadi. Gun tidak bisa bicara karena itu bukan urusannya. Terlebih ia tahu bagaimana Hata yang sesungguhnya. Gun tidak bisa memaksakan kehendaknya kepada Hata.


Wanita berdres merah itu terlihat marah karena Hata tidak bisa memegang janjinya. Sedang Hata tampak membela dirinya. Mei pun semakin tidak terima. Ia kemudian melempar pot bunga Hata ke lantai. Sontak keributan itu semakin besar terjadi.


Pot bunga yang tidak bersalah pun akhirnya menjadi korban atas kemarahan Mei kepada Hata. Sedang Hata tampak tak percaya dengan sikap Mei yang sebenarnya. Ternyata Tuhan memisahkan karena mempunyai maksud baik untuknya. Mei tidak baik untuk Hata.


"Sudah, hentikan! Berhentilah kalian bertengkar!"


Pada akhirnya Gun mau tak mau ikut bicara setelah berdiam cukup lama. Ia tak tahan lagi untuk ikut campur dalam masalah ini. Gun merasa risih dengan pertengkaran yang terjadi. Ia kemudian memisahkan Hata dan Mei.


"Mei, pulanglah! Hata sudah tidak mau padamu. Aku harap kau bisa menerima keputusan Hata." Gun membela Hata.


"Apa?! Kau membelanya?!" Mei pun tidak terima. "Kalian ternyata memang sama saja. Aku tak menyangka teman baikku membela pengkhianat seperti dirinya!" Mei menunjuk Hata.