LOVE ISN'T AIR

LOVE ISN'T AIR
Bertemu Sepupu



Rivan khawatir ketidakadaan waktu membuat mereka bertengkar. Sedang pekerjaan pilot adalah idaman bagi dirinya.


Naura sendiri tampak tidak mempermasalahkan pekerjaan Rivan. Ia mendukung Rivan dengan meyakinkan bisa mandiri sehingga tidak akan merepotkan orang lain. Rivan pun mendukung Naura untuk mengendarai motor sendiri. Yang mana Rivan akan membelikannya.


Lantas kedekatan keduanya semakin lama semakin serius. Lalu bagaimana dengan Hata, bos Naura sendiri yang ternyata menyukai dirinya? Akankah Hata tersingkirkan atau mengalah dari keadaan?


Sesampainya di rumah...


Naura tiba di rumahnya pada pukul sepuluh lewat sepuluh pagi. Dan ternyata kedatangannya sudah ditunggu oleh sang sepupu, Nara. Tampak Nara memasang raut wajah tak enak dilihatnya. Dahinya berkerut dengan garis bibir yang datar. Pandangan matanya tajam saat melihat Naura diantarkan oleh seseorang.


"Nara, kau sudah di sini?"


Naura menyapa Nara yang sedang duduk di pintu. Sontak saja pria yang merupakan sepupu dari Naura itu beranjak bangun lalu mendekati keduanya. Untuk yang pertama kalinya Nara pun melihat siapa pria yang mengantarkan Naura pulang.


"Dari mana kau, Naura? Semalam tidak pulang dan pagi ini diantar oleh seorang pria." Nara bertanya ke Naura tapi tatapan matanya mengarah ke Rivan.


Rivan terdiam. Ia memasukkan kedua tangannya ke saku celana sambil menunggu Naura bicara. Naura pun merasakan atmosfer yang begitu tegang saat ini. Ia pun segera menjelaskan kepada Nara.


"Aku ada keperluan, Nara. Sekalian malam tahun baruan di rumah temanku," tutur Naura seraya tersenyum kepada sepupunya.


Nara tetap tidak mengindahkan Naura. Pandangan matanya terus tertuju kepada Rivan.


"Em, Nara. Kenalkan dia Rivan. Dia ... pacarku."


"Aku harap kau tidak kehilangan sesuatu apapun setelah malam tahun baru, Naura." Nara berucap tegas di hadapan Rivan. Saat itu juga Rivan menyadari siapa Nara yang sebenarnya. "Aku pamit. Jaga dirimu." Nara pun berpamitan.


Sebagai sepupu terdekat pastinya Nara merasa bertanggung jawab kepada Naura. Apalagi Naura adalah seorang perempuan yang baru akan beranjak dewasa. Nara pun tidak ingin Naura sampai kenapa-kenapa. Ia begitu menyayangi sepupunya.


Sementara itu di lain sisi Naura merasa takut sekali. Baru kali ini ia melihat wajah serius dari sepupunya. Yang mana biasanya mendapat pukulan darinya, tapi hari ini begitu berbeda. Nara menunjukkan sisi lain dari dirinya sebagai seorang pria dan juga keluarga. Naura pun hanya bisa menelan ludahnya.


Lantas Nara segera berpamitan lalu pergi dari hadapan keduanya. Sang sepupu ternyata sengaja menunggu Naura pulang dan memastikan jika Naura baik-baik saja. Rivan pun menjadi segan setelah apa yang dilihatnya.


"Dia kakakmu?" tanya Rivan sambil menoleh ke belakang, melihat Nara yang pergi.


Naura menggelengkan kepala. "Bukan. Dia sepupuku. Tapi dia yang paling dekat denganku." Naura mengatakan.


Rivan pun mengangguk-angguk. "Sepertinya aku pernah melihatnya." Rivan mengingat-ingat.


Naura membenarkan. "Dia kekasih Nita. Adik dari temanmu," tutur Naura kembali.


"Hah???" Saat itu juga Rivan terkejut.


Naura tersenyum sendiri. "Dunia ini memang terasa begitu sempit, ya. Tapi memang itulah yang terjadi. Kau mau mampir terlebih dahulu?" tanya Naura ke Rivan.


Rivan melihat jam di tangannya. "Aku akan beristirahat sebentar di rumah. Malam ini akan ada penerbangan. Mungkin lusa baru bisa menemuimu lagi." Rivan mengatakan.