
Esok harinya...
Pagi-pagi Naura membersihkan rumahnya. Mulai dari menyapu sampai mengepelnya. Kini ia terlihat sedang menyatukan sampah untuk dibuang ke depan gang. Dengan berpakaian mini Naura pun keluar dari rumahnya. Tapi saat membuka pintu, saat itu juga ia terkejut. Ternyata Hata sudah menunggunya di depan.
"P-Pak?!" Sontak Naura terperanjat seketika.
Pria berjas hitam itu tampak menatap Naura dengan pandangan tajam. "Bisa kita bicara sebentar?" tanyanya kepada Naura.
Saat itu baru saja pukul 5.45 pagi. Tapi Hata sudah mendatangi Naura di rumahnya. Sontak saja Naura tidak bisa lari. Ia sudah kepergok di sini. Mau tak mau ia harus menuruti Hata untuk bicara padanya.
Astaga, bagaimana ini?
Naura pun pusing sendiri. Tapi ia tidak bisa beralasan lagi. Pada akhirnya ia mengikuti Hata yang menuju ke gang rumahnya. Naura membuang sampah lalu masuk ke dalam mobil Hata. Hata pun memberikan cairan antiseptik untuk tangannya. Mereka kemudian melaju menuju suatu tempat yang tidak jauh dari sana.
Beberapa menit kemudian...
Canggung. Itulah yang terjadi selama berada di perjalanan. Keduanya berdiam diri sepanjang perjalanan. Hingga akhirnya mereka tiba di depan lapangan sepak bola. Hata pun mengajak Naura turun dari mobilnya.
"Kita sarapan di sini."
Hata kemudian memesan makanan kaki lima untuk disantapnya pagi ini. Naura pun duduk berhadapan dengan Hata di dekat taman yang ada di sana. Tampak para pejalan kaki sedang berolahraga kecil ataupun berlari di sekitarnya. Naura pun mencoba mengalihkan pandangannya dari Hata.
Naura tidak menjawabnya. Ia hanya diam karena merasa bingung harus menjawab apa.
"Naura, sudah kubilang kepadamu. Apapun yang terjadi, aku akan mempertanggungjawabkannya. Tapi kenapa kau malah menghindar dariku, Naura?" Hata bertanya lagi.
Sejenak Naura terdiam. Tak lama penjual makanan itu mengantarkan sarapannya. Naura pun lekas mengambil minum sebelum menyantap bubur ayam yang telah tersedia. Sedang Hata tampak kesal di hadapannya.
Naura tidak menyangka jika Hata akan senekat ini untuk menemuinya. Ia merasa semuanya sudah usai sejak surat pengunduran diri itu dibuatnya. Tapi nyatanya Hata masih ingin menemuinya dan membicarakan hal ini. Naura pun jadi bingung sendiri.
"Aku ... aku mencintaimu, Naura." Tiba-tiba saja Hata mengatakannya. Saat itu juga Naura memuncratkan air yang sedang diminumnya.
"P-Pak, maaf." Naura pun segera mengambil tisu untuk membersihkan wajah Hata yang terkena puncratan airnya.
Hata memegang tangan Naura. Saat itu juga Naura jadi salah tingkah. Ia bingung harus bagaimana. Ia kaget dengan pengakuan Hata dan juga merasa bersalah karena telah memuncratkan air minum ke wajah mantan bosnya. Naura seperti tidak bisa berkata apa-apa.
Naura, kembalilah padaku. Ingat saat air itu juga memuncrat di wajahku. Apa kau sudah melupakannya? Yang pernah kita lakukan di dalam kamarmu?
Hata tidak bisa melupakan apa yang pernah terjadi saat masuk ke kamar Naura dan melihat gadis itu baru saja selesai mandi. Hata pun berharap apa yang terjadi bisa mengikat Naura agar kembali lagi. Hata mencintai penulisnya. Bukan hanya sebagai seorang bos kepada pekerjanya, tetapi juga pria kepada kekasihnya. Hata berharap Naura mau kembali padanya.