
Naura memegangi kepalanya. Ia merasa bingung dengan apa yang terjadi. Rivan pun beranjak bangun lalu mendekati Naura.
"Hei, kau khawatir padaku ya?" tanya Rivan seraya menunduk sedikit untuk melihat wajah Naura lebih dekat lagi.
Tentu saja Naura menjauhkan wajah Rivan darinya. "Jauhkan wajahmu itu dariku!" Dengan kedua tangan Naura pun mendorong wajah Rivan.
Rivan terdorong. Ia pun terperanjat dengan tindakan Naura. "Eh? Baru semalam saja sudah begini? Bagaimana jika aku menikahimu dan kau melihat wajahku setiap hari? Apakah kau akan mengusirku lebih jauh dari ini?" tanya Rivan yang bingung sendiri.
Saat mendengarnya, saat itu juga Naura ingin tertawa. Tapi ia segera menutupinya dengan amarah. "Cepat mandi dan antarkan aku pulang! Sepupuku sudah menunggu di rumah!" seru Naura kepada Rivan.
Rivan memalingkan wajahnya. "Tidak mau." Ia pun kembali membuat Naura kesal.
"Kau ini!" Naura pun ingin menjitak kepala Rivan.
"Naura, sarapan pagi sebentar lagi! Mari kita sarapan bersama!"
Tiba-tiba ada suara seseorang yang mengetuk pintu kamar Naura. Saat itu juga Naura terkejut seketika. Ia merasa takut jika seseorang itu mengetahui Rivan ada di dalam kamarnya. Sedang Rivan tersendiri tersenyum senang di tempatnya. Naura pun terdiam tanpa kata-kata.
Untung saja kami sudah jadian. Jika tidak ...!!!
Lantas Naura pun segera bergegas untuk menghadiri sarapan pagi ini. Tentunya Rivan juga mengikuti. Entah Reyan tahu atau tidak adiknya tidur bersama Naura, tapi sepertinya Naura juga tidak terlalu mempermasalahkannya. Karena nyatanya mereka tidak melakukan apa-apa, hanya sebatas tidur saja.
Perjalanan pulang dari puncak...
Beberapa jam berlalu mengantarkan Naura kembali ke ibu kota. Kini ia bersama Rivan sedang berada di dalam perjalanan sambil menikmati pemandangan sekitar jalan. Naura pun memotret kawasan wisata yang dilaluinya. Sedang Rivan sendiri mengendarai mobil sambil sesekali melihat ke Naura dari kaca tengah mobilnya.
"Naura."
"Maaf."
Tiba-tiba saja kata maaf itu terucap dari mulut Rivan. Tak ada angin, tak ada hujan. Naura pun dibuat bingung seketika.
"Rivan, kau baik-baik saja?" Naura pun menanyakannya.
Rivan menoleh ke Naura. Ia tersenyum lalu kembali fokus menyetir mobilnya. "Aku senang melewati malam bersamamu. Tapi ada rasa khawatir di hatiku." Rivan mulai serius bicara.
Rivan ....
Naura pun merasakan sisi lain dari Rivan yang sebenarnya. Yang mana pria yang baru saja menjadi pacarnya itu bisa serius juga. Terdengar dari intonasi Rivan yang sedang serius bicara. Naura pun mencoba mendengarkannya.
"Katakan apa yang ada di pikiranmu, Rivan," pinta Naura.
Rivan kembali tersenyum. Ia kemudian menatap ke depan sambil menghela napas dalam. Ia ingin mengutarakan apa yang menjadi kekhawatirannya.
"Aku ... bukan pria yang selalu bisa mengantar-jemputmu pulang. Aku juga bukan pria yang mempunyai hari libur tetap. Pekerjaanku tidak bisa diprediksikan. Aku khawatir karena hal itu kau akan mencurigaiku lalu kita bertengkar." Rivan mengeluarkan kegelisahan yang ada di hatinya.
Naura mengerti. "Aku akan berusaha mandiri untukmu, Rivan. Aku akan membawa kendaraan sendiri nanti." Naura pun secara tidak langsung mendukung Rivan.
Rivan mengangguk. Ia kemudian mengusap kepala Naura. "Aku akan membelikan kendaraan untukmu." Rivan pun tak segan untuk mendukung kemandirian Naura.
Jam kerja Rivan memang kadang tidak bisa diprediksi. Ia pergi dari kota ke kota dengan jam terbang yang tidak seperti karyawan kantor pada umumnya. Rivan bisa terbang pada dini hari, fajar atau siang sekalipun. Maka ia tidak dapat memastikan dapat menjemput atau mengantar Naura bekerja.