LOVE ISN'T AIR

LOVE ISN'T AIR
Makan Malam



"Besok paginya saja. Kita nikmati pemandangan pantai malam ini." Naura menjawabnya.


"Kau pernah ke pantai itu sebelumnya?" tanya Rivan sambil membelokkan setirnya ke kanan, memasuki kawasan wisata.


"Belum. Aku mana pernah berpergian. Aku lebih banyak menghabiskan waktu dengan bekerja atau beristirahat di rumah." Naura jujur kepada Rivan.


Saat itu juga Rivan mengusap kepala Naura. "Kau memang pekerja keras, Naura. Aku mengagumimu."


Tiba-tiba saja Rivan berubah dewasa. Ia menunjukkan sikap sebagai seorang pria yang sebenarnya. Tidak lagi jahil atau menyebalkan seperti saat mereka baru kenal. Naura pun menyukainya.


Mungkin karena jarang bertemu jadinya seperti ini.


Lantas keduanya pun meneruskan perjalanan hingga sampai di tempat tujuan. Rivan pun segera membayar karcis masuk lalu menyewa vila yang ada di sana. Tampak keadaan pantai yang sudah mulai ramai. Mereka akan menikmati malam bersama sambil berakhir pekan.


Malam harinya...


Sosok wanita berdres ungu tampak kesal setelah tahu penyebab Hata berubah kepadanya. Ia pun mencengkeram ponselnya lalu membantingnya ke atas kasur. Ialah Mei yang tidak terima penyebab Hata berubah sikap padanya.


"Jadi ada seorang gadis yang membuatnya jatuh cinta?"


Tentu saja dengan harta kekayaan yang Mei miliki, ia dapat dengan mudah mencari tahu penyebab Hata berubah sikap padanya. Hata yang dulu begitu mengharapkannya kini berganti menjadi dingin kepadanya. Mei pun tidak dapat menerima. Ia ingin Hata kembali lagi seperti dulu. Karena Mei juga membutuhkan Hata.


Di pantai...


Ombak berkejaran di bawah langit yang ditaburi bintang berkilauan. Naura pun keluar dari vilanya untuk menemui Rivan yang sudah menunggunya di sana. Mereka akan makan malam bersama dengan nuansa yang eksklusif malam ini. Tampak Naura berjalan mendekat ke arah Rivan yang sedang menyiapkan makan malam spesial untuknya.


"Naura?" Rivan pun menyadari kehadiran kekasihnya.


"Kau menyiapkan semua ini untukku?" tanya Naura tak percaya.


Rivan menyiapkan satu meja untuk makan malam di pesisir pantai yang indah. Lampu pantai, deru ombak yang berkejaran dan bintang di langit menjadi saksi makan malam yang romantis ini. Rivan pun menarikkan satu kursi untuk Naura. Walaupun keduanya tidak mengenakan pakaian yang formal, tetapi kesyahduan akan cinta itu bisa mereka rasakan. Naura pun segera duduk di hadapan Rivan.


"Naura, kau cantik sekali."


Rivan pun memuji Naura yang mengenakan sweter lengan panjang di hadapannya. Sedang Rivan tampak mengenakan kemeja yang dibiarkan terlepas dua kancing atasnya. Naura pun tersipu malu dengan pujian dari kekasihnya. Ia merasa malam ini benar-benar malam yang indah baginya.


Rivan tersenyum. Ia mempersilakan Naura untuk memulai menyantap makan malamnya. Ditemani semilir angin pantai yang berembus dengan kencang.


"Makan yang banyak, ya." Rivan pun mulai menyantap makan malamnya.


Hidangan yang telah tersaji begitu menggiurkan selera. Berbagai jenis hidangan laut telah disediakan oleh Rivan untuk Naura. Tentunya Rivan juga memesannya terlebih dahulu di restoran terdekat dari pantai ini. Rivan menyiapkan semuanya untuk Naura. Semua tak lain karena cinta di dalam hatinya.