
Naura langsung teringat dengan Hata. "Bu-bukan, dia pimpinan di kantorku," sanggah Naura.
"Begitu, ya? Tapi kulihat kalian begitu mesra di tempat wisata itu," ucap Rivan yang menyadarkan Naura.
Seketika itu juga jantung Naura seakan berhenti. Ia ragu menatap wajah Rivan yang duduk di sampingnya. Naura pun hanya bisa memakan bakso yang telah diiris untuk menutupi kerisauan yang ada di hatinya. Ia merasa kepergok oleh seseorang yang bukan kekasihnya. Tersirat jelas dari nada Rivan jika tidak menyukai apa yang dilihatnya. Naura bisa merasakannya.
Rivan menghentikan makannya sejenak lalu meneguk teh hangatnya. "Naura, maaf. Aku memang benar-benar mengikutimu." Rivan akhirnya jujur. Saat itu juga Naura terbelalak seketika.
"Aku berpapasan denganmu di jalan taman bunga itu. Tapi kau tidak melihatku karena terlalu fokus dengan pria di sampingmu. Niatku ingin menghampirimu, tapi tidak enak karena aku pikir yang bersamamu tadi adalah kekasihmu. Lalu aku pun mengikuti kalian pulang selepas hujan reda." Rivan menceritakan.
Rivan?!
Saat itu juga Naura jadi bertanya-tanya dengan maksud Rivan. Ia tak menyangka jika Rivan akan mengikutinya sampai pulang ke rumah.
Ada perasaan bersalah di hati Naura saat mendengar penuturan Rivan tersebut. Tapi kembali lagi, belum ada ikatan resmi di antara mereka. Naura pun hanya bisa terdiam mendengarkan ucapan Rivan.
"Oh, ya. Tadi kau sempat membuka pintu rumah hanya dengan memakai handuk sa—"
"Ssst!!!" Naura segera menutup mulut Rivan.
Rivan pun jadi kesulitan bernapas. Saat itu juga Naura memperingatkannya. "Rivan, ini tempat umum. Mengapa bicara seperti itu?!"
Naura, apakah kau sudah punya pacar?
Ada bibit-bibit cinta yang tertanam di dalam hatinya. Terlebih Naura termasuk dalam tipikal wanitanya. Naura jujur, polos dan juga apa adanya. Terlebih Naura lucu di matanya. Gadis itu bisa menghiburnya dari jadwal aktivitas yang begitu padat. Pada akhirnya Rivan pun memegang tangan Naura yang menutupi mulutnya. Ia menciumnya. Saat itu juga Naura melepaskannya.
"Kau?!" Naura kaget.
Rivan tersenyum kecil. Naura pun jadi malu sendiri. Getaran di hatinya seolah jujur mengungkapkan jika Naura memang tertarik pada Rivan sejak awal. Rivan adalah tipikal pria idamannya.
"Em, aku juga sempat bertemu denganmu di pesta waktu itu."
Rivan akhirnya membuka pembicaraan lagi untuk mengalihkan suasana agar tidak terasa canggung. Saat itu juga Naura merasa mempunyai kesempatan untuk bertanya siapa gerangan wanita yang bersama Rivan waktu itu.
"Pesta saat kau bergandengan mesra dengan seorang wanita?" tanya Naura yang secara tak langsung menunjukkan rasa cemburunya.
Rivan pun menyadarinya. Ia tersenyum kecil di samping Naura. Tapi ia tidak ingin melanjutkan perbincangan itu. Sehingga Naura merasa kesal sendiri. Ia diliputi rasa penasaran akan siapa wanita yang bersama Rivan waktu itu.
Dia benar-benar menyebalkan!
Pada akhirnya Naura pun mulai hilang kesabaran. Ia tidak ingin memedulikan Rivan lagi. Tapi, saat pulang dari warung bakso, Rivan melakukan sesuatu untuk Naura. Rivan mengusap kepala Naura dari belakang lalu berjalan duluan di depan. Saat itu juga Naura bertanya-tanya akan perasaan Rivan yang sebenarnya. Apakah Naura ada di hatinya?