
Nara memerhatikan sepupunya. "Kau sedang diliputi kegalauan?" tanya Nara kepada Naura.
Naura mengangguk sedih.
"Tentang apa? Apakah tentang pria kemarin itu?" tanya Nara lagi.
Naura menggelengkan kepalanya. "Bukan. ini masalah lain yang tidak ada hubungan dengannya." Naura menjelaskan.
"Lalu?" Nara pun ingin tahu. Ia memutar badannya ke Naura agar Naura lekas bercerita.
"Aku ingin tahu bagaimana pandangan kaum pria terhadap wanita, Nara?" tanya Naura kepada Nara.
Nara mengernyitkan dahinya. "Aku ... tidak mengerti apa yang kau maksudkan, Naura. Aku juga tidak tahu apa yang terjadi sebenarnya padamu." Nara merasa bingung sendiri.
Naura menghela napas dalam-dalam. "Nara, apakah wanita hanya mainan bagi seorang pria?" tanya Naura lagi.
"Hah?!" Saat itu juga Nara terkejut dengan pertanyaan Naura. Ia langsung berpikir yang tidak-tidak terhadap apa yang terjadi pada sepupunya.
Ini aneh sekali. Dia menanyakan hal yang berkaitan dengan pria tapi bukan pria yang kemarin. Lantas pria mana yang dia maksudkan? Apakah Naura mempunyai dua pacar?
"Jawab pertanyaanku, Nara," pinta Naura lagi.
Nara pun mengambil napas panjang. Ia kemudian berkata, "Pria memang bisa berbuat apa saja kepada wanitanya. Bisa menganggap wanita itu bonekanya saja. Tapi pria sejati tidak akan pernah bermain boneka, Naura. Kau harus tahu itu." Nara menjelaskannya.
"Nara ...." Saat itu juga air mata mulai jatuh membasahi pipi Naura. Ia merasa bersalah dan juga menyesal yang bersamaan.
Naura pun mengusap air matanya lalu mulai bertanya kembali. "Nara, selama kau pacaran dengan Nita, apa saja yang pernah kau lakukan dengannya?" tanya Naura kemudian.
Sontak Nara menaikkan satu alisnya pertanda curiga. "Maksudmu?" tanya Nara memperjelas.
"Apakah kalian pernah tidur bersama?" tanya Naura lagi.
Seketika itu juga Nara tertawa. Ia merasa pertanyaan Naura tidak perlu dijawabnya. "Kau menanyakan hal yang tidak perlu kujawab, Naura. Sudah, kita pulang saja. Semakin lama, semakin ke sana." Nara pun beranjak pergi.
Naura pun ngambek kepada Nara. "Aku kan hanya ingin tahu," terang Naura sambil ikut berdiri.
Nara tertawa. "Apapun yang kulakukan dengannya, aku akan mempertanggungjawabkannya. Aku serius padanya." Nara menerangkan kepada Naura.
Naura pun mengembuskan napas lelahnya. Ia merasa tidak mempunyai banyak waktu lagi untuk bertanya.
Harusnya aku tidak menanyakan hal ini padanya. Cukup aku sendiri saja yang tahu apa yang terjadi padaku sesungguhnya. Hah, Naura. Kau polos sekali.
Pada akhirnya pembicaraan sore itu berakhir karena Nara tidak ingin memperpanjangnya lagi. Nara pun segera masuk ke dalam mobilnya begitu juga dengan Naura. Keduanya melaju ke pusat kota bersama. Dan Nara pun hanya bisa tersenyum sambil melihat sepupunya. Ia tak menyangka jika Naura akan bertanya seperti itu kepadanya. Nara menyadari jika Naura belum tahu apa-apa.
Sesampainya di rumah...
Naura kembali ke rumah kecil yang dipinjamkan pamannya. Ia masuk ke dalam kamar lalu duduk di tepi kasurnya. Ia mencoba membuka ponsel dan ternyata ada pesan dari Hata. Saat itu juga ia merasa bingung untuk menjawabnya.
Hari ini aku tidak masuk bekerja karena alasan sakit. Mungkin aku mengundurkan diri saja agar lebih terjaga dari kemungkinan yang bisa terjadi ke depannya. Ya, aku harus menghindarinya karena sekarang sudah terikat status dengan Rivan. Aku tidak boleh mengecewakannya.