
Tidak pernah disangka sebelumnya oleh Hata, ia akan jatuh cinta kepada penulisnya sendiri. Setelah penantian panjang akan sebuah hubungan dijalani. Namun sayang, gadis yang dicintainya itu pergi. Hata pun menyesali apa yang terjadi. Kesibukan pekerjaan membuat ia lupa dengan Naura. Yang mana seorang pria segera menikungnya. Hata pun menyesalinya.
Saat ini tidak ada yang bisa Hata lakukan selain berharap dan terus berharap Naura kembali. Ia ingin melihat wajah cantik dan imut itu lagi di kantornya. Ia juga ingin memeluk hangat tubuh yang pernah menemaninya. Sebagai seorang pria, Hata mempunyai hati yang ingin disayangi. Ia pun berharap Naura datang kembali. Menghiasi hari dengan penuh cinta dan kasih.
Malam harinya...
Hata pulang ke apartemennya dengan wajah lelah. Ia masuk ke apartemen lalu duduk di sofa. Ia pun termenung memikirkan seorang gadis yang sudah dibawa pergi. Tak lama bel apartemen pun menyadarkannya.
"Siapa ya?"
Hata pun lekas membuka pintunya. Dan saat itu juga ia tahu siapa gerangan yang datang. Ternyata Gun lah yang datang ke apartemennya. Teman dari Hata itu tampak baru saja selesai dari latihannya. Hata pun mempersilakan Gun masuk ke apartemennya.
"Tadi aku melihatmu di parkiran. Tapi tertunda karena telepon masuk." Gun menuturkan.
Keduanya kemudian duduk di kursi tamu, di jam delapan malam ini. Hata pun meminta Gun untuk mengambil minum sendiri. Wajahnya tampak pusing sekali.
"Sepertinya kau butuh istirahat, Hata. Kau tampak sangat lelah." Gun pun mengambil dua botol softdrink dari lemari pendingin Hata.
Hata mengangguk. Ia tampak memijat pelipisnya sendiri. "Aku seperti kehilangan arah tujuanku." Hata menuturkannya.
Gun duduk di sofa kembali. Ia meneguk softdrink yang diambilnya. "Tadi Mei meneleponku. Dia menanyakanmu." Gun memberi tahu.
"Ya. Katanya dia sudah pulang ke ibu kota. Misinya telah selesai di pelosok negeri," tutur Gun lagi.
"Hah ...," Hata membuka tutup botol softdrink-nya. Ia lalu meneguk minuman itu. "Aku tidak peduli lagi dengannya. Aku hanya ingin Naura." Hata berkata jujur.
"Tapi Mei ingin bertemu denganmu. Dia mencarimu." Gun mencoba menyampaikan.
"Terima kasih. Tapi aku lebih menyukai Naura." Hata pun jujur.
Gun menarik napas dalam-dalam. "Mei adalah wanita kaya, Hata. Beda dengan Naura. Jika kau menikah dengan Mei, pastinya harta kekayaan itu lebih mudah didapatkan. Bukankah pamannya pejabat di kota ini? Kalian bisa bekerja sama." Gun mengajak Hata berpikir ulang.
Hata menggelengkan kepalanya. "Dia menyia-nyiakanku selama dua tahun ini. Aku tidak ingin menjalin hubungan kembali dengannya." Hata pun bersikeras untuk tidak berpindah hati.
Sebagai seorang teman, Gun tidak bisa memaksakan kehendaknya kepada Hata. Apalagi Hata tetap bersikukuh untuk bersama Naura. Yang mana hal itu membuat Gun menyayangkan sikap Hata. Bagaimana bisa temannya itu jatuh cinta kepada seorang gadis yang berbeda jauh umurnya. Gun tidak menyangka.
Tidak mungkin aku mau menerima masa lalu yang telah mengabaikanku.
Sementara Hata sendiri tampak tidak memikirkan Mei. Seorang wanita yang pernah membuat janji bersamanya. Tapi nyatanya Mei hilang tanpa ada kabar yang pasti. Dan kini ia datang lagi. Hata pun tidak ingin memikirkannya kembali. Baginya yang sudah ya sudah. Ia ingin membuka lembaran barunya bersama Naura. Bersama seorang gadis yang dicintainya.