LOVE ISN'T AIR

LOVE ISN'T AIR
Tak Berkutik



Di-dia ...?


Kedua mata Naura terpukau dengan apa yang dilihatnya. Sang bos redaksi yang baru berusia tiga puluh tiga tahun itu keluar dari kamar mandi dengan hanya memakai handuk putihnya saja. Terlihat jelas di mata Naura bagaimana lekuk kekar tubuh bosnya. Perut yang rata, sixpack dengan dada bidang yang memesona. Naura pun menelan ludahnya.


"Kau lapar? Kita bisa memesannya saja." Hata pun mendekati Naura.


Saat Hata melangkah, saat itu juga detak jantung Naura melaju kencang. Bagaimana tubuh kekar nan maskulin itu berjalan mendekatinya. Ditambah senyum manis yang ramah dan menghangatkannya. Naura jadi malu sendiri melihatnya. Ia khawatir dengan dirinya sendiri. Apalagi Naura baru pertama kali mengenal lelaki.


"Em, iya. Aku masak mie saja, Pak." Naura pun tak berani melihat Hata secara langsung.


Hata tersenyum. Ia kemudian mengusap kepala Naura. "Kau pakai pakaianku saja ya." Ia pun beranjak ke kamarnya. Meninggalkan Naura yang sedang terpesona.


Oh, My God! Apa yang terjadi hari ini?!


Naura pun menepuk-nepuk pipinya sendiri. Baru kali ini ia melihat secara langsung bagaimana pemandangan yang indah itu. Di mana ia bisa melihat lekuk kekar nan maskulin tubuh bosnya. Naura pun lekas-lekas memasak mienya.


Pukul sembilan malam waktu ibu kota dan sekitarnya...


Makan malam telah selesai. Entah mengapa walau hanya memakan mie instan, terasa begitu nikmat untuk keduanya. Dan kini mereka sedang menonton TV bersama. Hata duduk di sebelah kiri Naura.


Naura sudah berganti pakaian dan mengenakan sweter milik Hata yang tebal. Ia juga mengenakan celana panjang milik Hata. Walau kebesaran, tapi terlihat bagus dipakainya. Hata pun memerhatikannya.


"Rambutmu ingin kukuncir?" tanya Hata sambil membelai rambut Naura.


Saat merasakan belaian itu, saat itu juga Naura merinding bukan kepalang. Ia mengangkat bahunya karena geli. Keringat dingin pun mulai mengalir di pelipisnya. Ia tidak mengerti mengapa reaksi tubuhnya seperti ini. Hata pun mulai mendekatkan wajahnya ke wajah Naura. Naura pun semakin tak karuan seketika.


"Kau cantik, Naura." Hata tersenyum. Hangat napasnya mulai menerpa permukaan pipi Naura.


Naura pun berusaha berontak. Tapi entah mengapa kata-kata itu hanya bisa terucap di hatinya.


Hata menarik tubuh Naura, mendekapnya. Harum tubuhnya pun semakin tidak dapat membuat Naura melakukan penolakan. Naura hanya bisa menikmati aroma parfum yang tercampur dengan hangat napas yang mulai menerpa permukaan pipinya. Lalu kemudian...


"Mmmm ...."


Hata mencium Naura. Saat itu juga Naura merasakan aliran listrik di dalam tubuhnya tersambung dengan cepat. Menimbulkan getaran-getaran yang tidak bisa dikendalikan tubuhnya. Hingga akhirnya sesuatu yang lembut itu menekan bibir Naura. Naura pun seperti tidak mempunyai kekuatan untuk melawannya. Naura pasrah dicium Hata.


Naura ... aku tahu jika kau juga menyukaiku ....


Semakin lama ciuman itu semakin memabukkan. Dengan perlahan Hata pun menarik lembut bibir Naura dengan bibirnya. Sontak saja tubuhnya terasa panas bak kobaran api di tengah hutan yang lebat. Hata terus mencium Naura.


Su-sudah ....


Sementara Naura sendiri mulai terhanyut dengan ciuman bosnya. Ini adalah ciuman pertama baginya. Ia kemudian memegang dada Hata lalu berusaha mendorongnya. Tapi saat itu juga detak jantung Hata terasa begitu keras di telapak tangan Naura. Hata pun memegang tangan Naura. Ia seolah tidak ingin mengakhiri ciuman ini dengan cepat.


"Pak, sudah!"


Pada akhirnya Naura pun mendorong Hata. Hata yang tidak mempunyai persiapan akhirnya terdorong sampai ke ujung sofa.


"Ma-maaf." Naura lalu meminta maaf. Ia merasa sangat malu dengan apa yang terjadi barusan.


"Naura?"


"Apakah mobilnya sudah selesai diperbaiki, Pak? Aku ingin pulang sekarang," kata Naura sambil tertunduk malu di hadapan Hata.