
Naura kemudian mengambil udang tepung lalu mencicipinya. Dan ternyata rasanya membuat Naura begitu menyukainya. Rivan pun tersenyum di hadapan Naura. Ia merasa tidak sia-sia telah menyiapkan ini semua.
"Aku punya rencana untuk menemui kedua orang tuamu, Naura." Rivan pun akhirnya mengatakannya.
"Menemui orang tuaku?" tanya Naura yang terkejut.
Rivan mengangguk. "Besok antarkan aku menemui mereka, ya," pinta Rivan segera.
Naura jadi bingung sendiri. Ia berpikir keras mengenai hal ini.
"Sudah jangan dipikirkan apa alasannya. Tidak ada salahnya jika aku mengenal mereka, bukan?"
Rivan meminta Naura untuk tidak memusingkannya. Saat itu juga Naura tersenyum malu. Ternyata Rivan sudah mulai mengetahui bagaimana karakter dirinya.
Naura, ternyata aku benar-benar jatuh cinta padamu.
Pada akhirnya Rivan pun mengakui perasaan apa yang ada di dalam hatinya. Setelah melalui proses pertemuan yang berulang kali, akhirnya Rivan memantapkan hati untuk memilih Naura menjadi kekasihnya. Dan esok ia ingin menemui orang tua Naura segera.
Rivan bergerak cepat setelah mendapat restu dari kakaknya. Semua tak lain agar hatinya tenang dan tidak khawatir lagi. Karena bagaimanapun kejadian di pinggir jalan itu membuat Rivan tersadar jika Naura begitu berharga. Sampai-sampai mantan bos Naura sendiri menyukainya. Dan Rivan berharap Naura bisa terus setia kepadanya.
Selepas makan malam...
Naura berjalan-jalan bersama Rivan di pesisir pantai dengan sengaja tidak menggunakan alas kaki. Pemandangan sangat indah terlihat di depan kedua mata mereka. Pasir pantainya pun begitu terjaga.
Naura berjalan di sisi kiri Rivan yang dekat dengan laut. Rivan pun membiarkan kakinya terkena ombak pantai malam ini. Celana panjangnya sengaja digulung sampai ke lutut agar bisa menikmati pemandangan pantai sambil berjalan kaki. Suasana syahdu pun terjadi di antara mereka.
"Rivan."
"Hm?"
Sejenak Rivan memberhentikan langkah kakinya. Ia membiarkan Naura terus berjalan di depannya.
"Rivan?" Naura pun bingung dengan sikap prianya.
Rivan kemudian tersenyum. Ia menjatuhkan dirinya di hadapan Naura. Dengan satu kaki yang ditekuk ke depan. Raut wajahnya pun seperti penuh harap kepada Naura. Rivan mengeluarkan sesuatu dari saku celananya.
"Terimalah, Naura." Rivan memberi Naura sebuah kotak kecil berwarna merah.
"Rivan?!" Naura pun terkejut menerimanya.
Rivan lalu membuka kotak itu. "Menikahlah denganku," kata Rivan yang membuat Naura terkejut seketika. Ia tak percaya jika Rivan akan melamarnya malam ini.
"Rivan, ini sungguhan?!" Naura tak menyangka.
Rivan mengangguk. Ia lalu memasukkan cincin itu ke dalam jari manis Naura. Sontak Naura pun terdiam dalam rasa harunya. Ia seakan tidak bisa berkata apa-apa. Tubuhnya tiba-tiba terpaku seketika. Detak jantungnya mulai berdegup dengan kencangnya.
Rivan ....
Selesai memakaikan cincin itu Rivan pun segera berdiri. Ia kemudian memegang wajah Naura dengan kedua tangannya. Rivan mengungkapkan kata cinta.
"Aku sudah serius padamu. Maka jangan main-main lagi," kata Rivan yang membuat Naura mengangguk cepat.
Rivan tersenyum. Ia lalu mengarahkan bibirnya ke bibir Naura. Perlahan tapi pasti Naura pun memejamkan matanya. Ia pasrah jika Rivan akan menciumnya. Pada akhirnya Rivan mendaratkan ciumannya di bibir Naura. Pantai ini pun menjadi saksi atas cinta yang bersemi di hati. Naura dan Rivan saling mencintai.
Lautan menjadi saksi akan cinta keduanya. Deburan ombak pantai pun menyambut cinta mereka. Keduanya mengikat janji serius malam ini. Walau tanpa ada seseorang yang bersaksi. Mereka pun akhirnya menghabiskan malam bersama dipenuhi suka cita dan keceriaan. Naura sudah menemukan pria idamannya. Rivan pun telah menemukan gadis pujaan hatinya, Naura.