LOVE ISN'T AIR

LOVE ISN'T AIR
Pengunduran Diri



Esok harinya...


Pagi yang cerah dengan awan putih berarak di angkasa. Burung-burung berterbangan dengan riangnya. Ada yang hinggap di dahan pohon, di ranting bunga, maupun di jalanan ruko atau kantor yang ada di ibu kota. Mereka menyambut pagi dengan riangnya bersama angin yang berembus pelan.


Pagi ini Hata datang ke kantornya dengan membawa banyak pekerjaan yang harus segera diselesaikan. Beberapa permintaan dari berbagai instansi pemerintah juga harus dikerjakan. Belum lagi pesanan yang ditujukan kepadanya dari rumah-rumah produksi. Semua itu harus Hata tangani. Tak lain tak bukan untuk keuntungan redaksi yang lebih besar lagi.


"Selamat pagi, Pak."


Manajer kantor menyapa sang bos saat Hata baru saja tiba di kantornya. Ia adalah Adam, seseorang yang sudah lama bekerja di kantor redaksi itu. Bisa dibilang ia adalah orang kepercayaan ayah Hata. Namun, Adam seringkali tidak pernah berada di kantor karena menjalin banyak kerja sama dengan pihak luar. Ia hanya sesekali datang untuk memberikan laporan.


"Pagi."


Hata pun bersikap tegas bak ayahnya. Ia masuk ke ruangan dengan menjawab sapaan itu seadanya. Hingga akhirnya ia letakkan koper kerjanya di atas meja. Saat itulah Hata melihat sebuah map merah yang sudah terpajang di sana.


"Punya siapa ini?"


Hata pun membuka map itu. Seingatnya kemarin tidak ada map atau sesuatu apapun di atas meja kerjanya selain hanya alat tulis saja. Dan saat membukanya, saat itu juga hati Hata hancur seketika. Ternyata Naura mengundurkan dirinya dari kantor redaksi. Sontak Hata pun membanting surat pengunduran diri itu ke atas meja. Ia merasa tidak terima.


"Jadi dia benar-benar ingin menjauh dariku?!"


Suasana hatinya pun berubah seketika. Ia lalu menelepon nomor ponsel Naura. Tapi ternyata, nomor penulisnya itu sudah tidak aktif lagi. Hata pun mengusap wajahnya. Ia merasa frustrasi.


Hata pun ingin menemui Naura. Ia menuju pintu untuk segera melaju ke rumah Naura. Tapi saat membuka pintu, saat itu juga Ina berniat masuk ke dalam ruangannya. Keduanya pun hampir bertabrakan di sana.


"Em, Pak. Maaf." Ina terlihat membawa map-map biru di tangannya.


"Kau? Ada apa?" tanya Hata segera.


"Em, ini, Pak. Pihak federasi minta segera diterbitkan naskah olimpiade minggu kemarin. Mereka meminta secepatnya. Ini dokumentasinya." Ina menuturkan.


"Tidak bisakah langsung ke bagian penerbitan saja?" tanya Hata lagi dengan ketusnya.


"Em maaf, Pak. Tidak bisa. Mereka meminta Bapak langsung yang menanganinya. Setelahnya mereka juga ingin bertemu. Mereka ingin makan siang bersama Bapak," tutur Ina lagi.


Saat itu juga Hata menyadari jika ia tidak mempunyai waktu untuk menemui Naura hari ini. Pekerjaannya begitu banyak. Belum lagi pertemuan yang harus segera dihadiri. Hata pun mengurungkan niatnya untuk menemui Naura pagi ini.


Sang bos redaksi kepincut penulisnya sendiri. Sang bos redaksi tanpa sadar telah melakukan sesuatu bersama penulisnya itu. Keterikatan begitu besar di dalam hatinya. Lantas jalan apa yang akan ia pilih selanjutnya? Akankah Hata segera mempersunting Naura dan melepas masa lajangnya? Lalu bagaimana dengan Rivan nantinya?


Sementara itu di bandara internasional ibu kota...


Jam sudah menunjukkan pukul sembilan pagi. Terlihat Rivan yang baru saja menyelesaikan jam kerjanya. Ia pun segera menuju parkiran lewat jalan belakang bandara. Dan ternyata di sana sang kakak telah menunggunya.