
Hata diam. Ia tampak tidak peduli pada Mei. "Gun, tolong bawa pergi wanita ini. Aku sudah tidak ingin melihatnya lagi." Hata pun akhirnya berkata demikian.
Sontak Mei jadi semakin marah. Ia kemudian berteriak-teriak seperti orang gila. Mei tidak terima diperlakukan dingin oleh Hata.
Dia aneh sekali. Meminta aku untuk kembali tanpa berpikir kesalahan apa yang telah dia lakukan. Aku sudah muak dengan semua sandiwaranya. Aku ingin mengakhiri hubungan ini.
Pada kenyataannya Mei dan Hata belum mengikat status resmi. Keduanya hanya sebatas dekat bak sepasang kekasih. Tapi Mei sudah menuntut Hata agar kembali. Hata pun tidak habis pikir dengan sifat Mei. Ia akhirnya tahu mengapa Tuhan memisahkannya. Ternyata ada hikmah di balik itu semua.
Satu minggu kemudian...
Naura kembali menjalani aktivitasnya sebagai staf administrasi di rumah sakit. Ia masuk kerja di pagi hari dan pulang di sore hari. Rutinitas itu ia lakukan setiap hari. Hanya hari libur saja ia bisa beristirahat di rumah. Dan ya, kini Naura tampak dilema.
Hari ini adalah hari libur Naura untuk yang kesekian kali. Tapi di hari libur ini ia masih gundah gulana memikirkan nasibnya sendiri. Ia kemudian menelepon Nara untuk meminta bantuan. Selang setengah jam kemudian Nara pun datang ke rumahnya. Sepupu dari Naura itu berpakaian batik bak siap untuk pergi ke pesta.
"Tumben kau memintaku ke sini?" tanya Nara kepada Naura.
Keduanya duduk di teras rumah dengan Naura yang tampak gundah gulana.
"Pacarku sudah menemui ayah," terang Naura kemudian.
"Lalu?"
"Ayah kurang setuju jika kami menikah secepatnya. Ayah khawatir kuliahku jadi terbengkalai." Naura menuturkan.
Naura mengangguk. "Iya. Tapi ayah meminta kami bertunangan dulu." Naura berkata pelan.
Naura seperti orang yang kurang bersemangat hari ini. Di hari liburnya ia malah merasa kesepian. Kekasihnya itu belum juga datang setelah pertemuan terakhir mereka. Naura dibuat galau merana.
"Dia masih menghubungimu?" tanya Nara yang mencoba mengerti kondisi Naura saat ini.
Naura mengangguk pelan. "Masih. Tapi ... tidak sesering biasanya. Paling sehari cuma satu kali mengabari. Dan saat aku membalas pesannya, dia tidak membalas lagi pesanku. Aku khawatir hubungan ini akan berakhir." Naura pun tiba-tiba merasa sedih.
Nara mengangguk, mencoba memahami apa yang dirasakan sepupunya. Pada akhirnya ia pun mengambil keputusan.
"Baiklah. Kalau kau serius dengan pria itu, nanti aku yang akan coba membicarakan hal ini kepada paman." Nara berjanji.
"Nara, kau serius?!" Naura pun terperanjat seketika.
Nara mengangguk. "Tenang saja. Aku akan mengusahakan sebisa mungkin. Tapi kau harus ingat, jangan pernah menyesal dengan keputusan yang kau ambil ini. Karena aku hanya sekedar membantu," tutur Nara lagi.
Sontak Naura pun mengangguk. Ia merasa senang lalu memeluk Nara. Tentu saja kabar ini begitu membahagiakan untuknya. Nara akan membantu bicara pada ayahnya. Yang mana Naura sangat berharap Nara bisa meluluhkan hati ayahnya. Naura ingin segera menikah dan berkeluarga. Ia sudah membulatkan tekad untuk masa depan yang lebih cerah.
Terima kasih, Nara. Kau memang bisa diandalkan. Aku tidak salah mempunyai sepupu sepertimu. Aku juga berharap yang terbaik untukmu. Semoga kau juga lekas menikah dengan Nita.
Pada akhirnya kegalauan di hati Naura perlahan-lahan sirna. Naura pun menemukan semangatnya kembali. Ia jadi bersemangat melanjutkan hari.