LOVE ISN'T AIR

LOVE ISN'T AIR
Kaget



"Rivan, kita sedang berada di vila kakak iparmu." Naura berusaha menjelaskan.


Rivan mengerutkan bibirnya. "Jadi kalau di luar, boleh?" tanya Rivan lagi seraya menatap Naura.


Naura berusaha menjauhkan dirinya dari Rivan.Tapi Rivan tidak juga ingin melepas tangannya dari Naura. Tangan itu terus saja melingkar di pinggang Naura.


Lama-lama dia seperti anak kecil saja.


Pada akhirnya Rivan pun mencoba mencium Naura kembali. Dan akhirnya sudut bibir Naura menjadi sasarannya. Naura pun memukul Rivan. Tapi Rivan tersenyum yang membuat Naura luluh. Ia tidak marah kepada Rivan. Pada akhirnya Naura pun memeluk Rivan. Tapi bukan sekedar memeluk, melainkan menggigit bahu Rivan. Sontak saat itu juga Rivan kesakitan. Naura pun segera mengusirnya.


"Sudah sana pergi! Aku mau istirahat!"


Pergantian tahun ini menjadi saksi kemesraan keduanya. Rivan dan Naura pun resmi jadian. Tepat pada tanggal 31 Desember petang. Dan tentu saja tanggal itu akan menjadi sejarah bagi mereka.


Esok harinya...


Tahun yang baru menjadi awal yang baru bagi Naura. Akhirnya menginjak usia ke-21 ini Naura mempunyai seorang pacar. Yang mana pacarnya itu adalah seorang pilot maskapai penerbangan. Hati Naura pun dipenuhi bunga-bunga yang bermekaran. Bak taman seribu bunga yang menyedapkan pandangan mata. Naura pun beranjak dari tidurnya.


Selamat pagi, Dunia ....


Naura merentangkan tangannya ke atas. Ia tersenyum menyambut pagi ini. Dilihatnya sang mentari yang sudah terbit di ufuk timur. Naura pun tersenyum sendiri saat mengingat kejadian semalam. Di mana Rivan tak henti-hentinya menjahili dirinya. Naura pun merasa senang. Pria tampan itu akhirnya menyatakan perasaannya.


Tapi, di tengah kegembiraannya itu, Naura harus dikejutkan oleh pemandangan yang ada di sampingnya. Ia tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Ia perhatikan keadaan sekitar untuk memastikan kembali di mana gerangan ini berada. Lalu akhirnya...


"Aaaaa!!!"


Atasan, bawahan, masih lengkap. Dalamnya juga. Itu berarti ...?


Sejenak Naura memikirkan hal ini. Ia pun mencoba membangunkan pria yang ada di sampingnya. Ia sentuh pipi pria itu dengan ujung jari telunjuknya. Namun...


"Lepaskan!" Ujung jari telunjuk Naura malah diemutnya.


Dia ini sudah keluar sifat aslinya.


Lantas Naura pun berusaha membangunkan pria itu dengan cara yang lebih ekstrim. Naura beranjak bangun lalu menarik kaki pria itu. Pada akhirnya sang pria pun terbangun dari tidurnya. Bersama sesuatu yang sudah terbangun sedari tadi.


"Hoaaam..."


Sang pria menguap seraya duduk di atas kasur. Sedang Naura menatap pria itu dengan wajah tak percaya. Untungnya saja pakaian Naura masih lengkap dan tidak ada yang terbuka. Karena jika hal itu terjadi, pastinya Naura tidak akan memaafkannya lagi.


"Ada apa, Naura? Kenapa membangunkanku?" Dengan tanpa merasa berdosa, pria itu pun bertanya kepada Naura.


Ialah Rivan yang baru saja terbangun dari tidurnya. Ia ternyata tidur bersama Naura. Pilot penerbangan maskapai penerbangan nasional itu ternyata tidak memberi kesempatan Naura untuk menyambut pagi seorang diri.


"Kenapa kau bisa ada di sini? Dan mana kak Nia?" Naura menanyakan kepada Rivan.


Rivan mengucek matanya. "Kak Nia tidur bersama kak Reyan. Jadi tidak perlu ditanyakan lagi apa alasannya. Mereka kan memang suami istri." Rivan pun malas-malasan di tempat tidur.