
"Hei, Naura! Sudah tujuh orang yang aku kenalkan padamu. Tapi kenapa tidak ada satupun pria yang menarik perhatianmu, sih?! Apa jangan-jangan kau ini penyuka sesama jenis ya?" tanya Nara setengah kesal.
Mendengar perkataan Nara sontak saja Naura mengayunkan tangannya untuk menjitak kepala sepupunya itu. Tapi, Naura melihat ada Nita di sampingnya. Alhasil Naura tidak jadi menjitak kepala Nara. Ia menahan tangannya.
Awas kau, Nara!
Pada akhirnya Naura pun geram di dalam hatinya. Ia merasa diejek oleh Nara.
"Eh, itu sudah datang." Nita menunjuk seseorang yang datang di ujung sana. "Sebentar ya, aku mau ke sana dulu." Nita pun berpamitan kepada Naura dan Nara.
Nara dan Naura pun melihat ke arah yang ditunjuk oleh Nita. Saat itu juga hati Naura terkejut bukan kepalang. Ia melihat seseorang di rombongan undangan yang datang.
Jadi ini alasan dia tidak membalas pesanku?
Ternyata Naura melihat Rivan datang bersama seorang wanita yang tidak dikenalnya. Saat melihatnya, saat itu juga hati Naura terluka. Ternyata Rivan sudah mempunyai gandengan ke pesta. Naura pun berkecil hati jadinya.
Rasanya ia ingin pergi dari pesta itu saja. Tapi ia juga bingung kenapa harus pergi saat melihat Rivan menggandeng wanita lain. Naura tersadar jika tidak memiliki hubungan apapun dengan Rivan.
Lantas acara pun terus berlanjut sampai sang pengantin melemparkan bunga ke arah tamu undangan. Naura pun hanya diam di salah satu sudut ruangan bersama Nara. Tapi, nasib berkata lain untuknya. Sang pengantin melemparkan bunga itu terlalu jauh. Saat itu juga bunga itu jatuh tepat mengenai kepala Naura.
"Aduh ...." Naura pun memegangi kepalanya.
"Kau tak apa, Naura?" Nara pun segera melihat kondisi sepupunya.
"Aku tak apa. Hanya sedikit sakit." Naura mencoba memijat kepalanya.
"Pertanda?" Naura pun terheran.
Nara mengangguk. "Ya. Kau akan segera dilamar," kata Nara yang sontak membuat Naura terkejut.
"Kau seperti cenayang saja, Nara!" Naura pun mendengus kesal kepada sepupunya.
"Hahahaha."
Nara tertawa. Tak lama Nita pun datang sambil membawakan minuman untuk Nara dan Naura. Pada akhirnya mereka menikmati acara pesta. Dan tanpa Naura sadari, Rivan melihatnya dari kejauhan.
Esok harinya...
Hari ini adalah Hari Minggu. Hari di mana kebanyakan pasangan kencan dan melalang buana menjelajahi ibu kota. Tapi sepertinya hal itu tidak berlaku bagi Naura. Naura masih asik tidur di bawah selimutnya. Ia menikmati ritme hujan yang turun membasahi genting rumahnya.
Ya, hari ini cuaca kurang bersahabat untuk berpergian ke luar rumah. Sejak pagi sampai menjelang siang, hujan terus-menerus datang tanpa henti. Barulah pada pertengahan siang, hujan berangsur-angsur berhenti. Naura pun terbangun dari tidurnya. Ia melihat jam di dinding kamarnya.
"Astaga!"
Ia melihat jam di dinding kamarnya telah menunjukkan pukul setengah dua belas siang. Naura pun lekas-lekas mandi untuk menyegarkan diri. Ia begitu terlelap hingga tak menyadari waktu. Naura pun lekas membersihkan dirinya untuk menyambut hari.
Hanya membutuhkan waktu lima belas menit saja, Naura pun sudah selesai mandi dan mengenakan pakaiannya. Ia mengenakan kaus berbahan dasar katun dan celana pensil hitam selutut. Setelahnya ia segera memasak mie untuk mengganjal perutnya. Ia pun membuka-buka ponselnya. Dan ternyata, Rivan membalas pesannya.