LOVE ISN'T AIR

LOVE ISN'T AIR
Rezeki Nomplok



Saat itu juga semburat senyum terlukis di wajah Rivan. Ia pun memeluk kakaknya. "Terima kasih, Kak." Pada akhirnya permasalahan yang ada di Rivan pun sedikit demi sedikit bisa terselesaikan.


Rivan baru saja berumur dua puluh lima tahun hari ini. Ia merupakan pilot termuda sebuah maskapai penerbangan nasional. Ia menunjukkan dedikasinya sebagai pilot handal di usia muda. Masa mudanya ia pergunakan untuk belajar dan belajar. Sehingga bisa lulus cepat dari akademi kepilotan. Dan kini ia bekerja kontrak di salah satu maskapai penerbangan.


Lantas apakah Rivan akan menemui Naura untuk mengajaknya pesta barbeque bersama? Lalu apakah Naura akan menerima ajakan itu setelah satu minggu lebih tidak bertemu Rivan? Dan bagaimana dengan Hata sendiri, apakah ia akan tahu jika Naura diajak pesta oleh Rivan?


Di kantor redaksi...


"Naura, kau kedatangan tamu. Cepat temui dia!"


Ina memberi tahu Naura yang sedang sibuk mengetik di komputernya. Tampak teman satu ruangan Naura itu membawa segelas kopi untuk dirinya sendiri. Naura pun segera beranjak menemui tamu yang dimaksud Ina. Ia meninggalkan ketikan di komputernya dengan tanpa lupa menyimpannya terlebih dahulu.


Siapa ya?


Naura pun berjalan menuju ruang tamu kantor redaksi. Dekat dengan pintu masuk para karyawan yang akan bekerja. Ia melangkahkan kaki ke sana dengan harap-harap cemas. Khawatir jika ada kabar buruk untuknya. Namun, sepertinya hal itu hanya pikirannya saja.


"Naura, kemarilah!"


Saat tiba di ruang tamu kantor, Hata pun meminta Naura untuk segera duduk bersama. Naura pun melihat ada sepasang insan yang sedang bercengkrama dengan pimpinannya. Naura kemudian menghampiri mereka.


"Naura, perkenalkan ini tuan Yin dan nona Yan. Mereka adalah sepasang produser yang tertarik dengan karyamu." Hata memperkenalkan.


Ap-apa?!


Saat mendengarnya, saat itu juga Naura terkejut. Ia tak menyangka jika hari ini akan kedatangan dua orang penting yang akan merubah sejarah hidupnya.


"Jadi ini penulis terbaikmu, Tuan Hata?" tanya Yin kepada Hata. Produser film lepas yang tertarik mengontrak karya Naura.


Hata hanya tersenyum. Ia tampak malu menuturkan kisah sesungguhnya.


"Apakah kalian nantinya akan menjadi seperti kami?" tanya wanita sosialita yang duduk di samping Yin. Ia terlihat modis sekali.


Naura pun bingung dengan perkataan mereka. Ia tetap duduk sambil menebarkan senyuman. Hata pun melanjutkan perkataannya.


"Naura, mereka adalah teman-temanku. Tuan Yin dulunya seorang pimpinan di rumah produksi, dan Nona Yan adalah penulis skenario di rumah produksi tersebut." Hata menjelaskan.


Naura pun hanya bisa tersenyum palsu mendengarnya.


"Kedatangan kami ingin sekali membeli ceritamu, Nona. Dua minggu yang lalu Hata mendatangi kami dan mengajukan cerita yang kau buat. Dan kami tertarik untuk menjadikannya sebuah film lepas." Yan mulai menuturkan tujuannya bertemu Naura.


Saat itu juga Naura gugup seketika. Ia lalu mencoba menjawabnya. "Aku ... bagaimana keputusan pimpinanku saja, Nyonya." Naura tampak menyerahkan urusan ini kepada Hata.


Yan pun menoleh ke arah Hata yang duduk di seberangnya. "Bagaimana, Tuan Hata. Sepertinya keputusan ada padamu. Kami akan membayar cerita penulismu dengan harga lima juta. Apakah Anda keberatan?" tanya Yan kepada Hata.


Bagai tertimpa durian runtuh, jerih payah Naura selama jadi penulis pun akhirnya membuahkan hasil. Cerita yang dibuatnya tak lama lagi akan dibayar dengan harga yang berkali lipat dari gajinya. Naura pun senang seketika. Ia merasa bahagia hadir di perbincangan ini.


"Baiklah. Aku setuju." Hata pun tampak menyetujuinya.