
Hata akan mengantar Naura sampai di depan rumah. Tapi saat mereka baru saja turun dari mobil, tiba-tiba saja ada pengendara motor yang ngebut dan mengenai genangan air di jalanan. Sontak air itu langsung bercipratan ke arah mereka.
"Naura!"
Hata pun segera menarik Naura agar tidak terkena cipratan air. Hata memeluk Naura untuk yang kedua kalinya.
Detak jantung itu begitu kencang. Harum parfum menambah sensasi yang mereka rasakan. Baik Hata maupun Nara terdiam di tempatnya. Hata pun melihat pengendara motor yang ngebut melewatinya. Ia terlihat kesal. Tapi sesaat menyadari jika sedang memeluk Naura. Hata pun tersadar dari apa yang dilakukannya
"Naura ...." Hata melihat Naura.
Naura terdiam melihat Hata. Hata pun mengusap pipi Naura dengan lembutnya. Pemandangan itu tentu saja membuat iri para pengendara yang lewat di jalanan depan gang rumah Naura. Termasuk Rivan yang ada di sana.
Mereka?!
Rivan tak percaya jika akan melihat pemandangan itu. Tentu saja hatinya bak hancur berkeping-keping saat melihat kemesraan yang terjadi. Pada akhirnya Rivan pun segera melajukan mobilnya dari seberang jalan gang Naura. Menancap gas dengan kencangnya. Alhasil suara mobil yang bergemuruh itu menyadarkan Hata dan Naura.
"Si-siapa itu?" Naura pun segera tersadarkan, begitu juga dengan Hata.
"Mungkin jalanan licin sehingga mobilnya seperti itu. Ayo, kita lekas ke rumah." Hata pun mengajak Naura pulang.
Naura mengangguk. Ia kemudian berjalan bersama Hata menuju rumahnya. Naura pun melupakan apa yang terjadi tadi. Ia tidak ingin terlalu memikirkannya.
Sementara itu...
Di dalam mobil terlihat Rivan yang memukul-mukul stir mobilnya. Sesampainya di perempatan lampu merah jalan raya besar, ia berhenti sambil marah-marah. Ia tidak terima dengan apa yang dilihatnya. Ia merasa dipermainkan oleh Naura.
Rivan kesal. Sangat kesal karena apa yang diharapkan ternyata tidak sesuai dengan kenyataan. Napasnya memburu seperti siap untuk berperang. Ia tak menyangka jika akan merasakan hal seperti ini. Di mana ia merasakan sakit tapi tidak mengeluarkan darah. Rivan cemburu terhadap kemesraan Naura dan Hata.
"Naura! Tindakanmu telah membuat hatiku sakit! Apa kau sadar itu, Naura?!"
Pada akhirnya klakson mobil di belakangnya pun menyadarkan agar ia segera melaju setelah lampu hijau hidup. Rivan pun segera kembali ke rumah kakaknya. Ia ingin beristirahat di sana. Tak lain tak bukan untuk menenangkan hatinya dari apa yang dilihatnya sore ini. Rivan kecewa.
Rivan tak sengaja pulang lewat jalan depan gang rumah Naura. Ia baru saja menyelesaikan pekerjaannya di bandara. Tapi ternyata sesuatu hal pahit itu harus ia telan mentah-mentah. Rivan melihat kemesraan Naura dan Hata. Lantas jika sudah begini, bagaimana akhirnya?
Satu minggu kemudian...
Hari ini adalah hari yang membahagiakan untuk Rivan. Hari di mana ia terlahir ke dunia. Tapi sayangnya, Rivan terbelenggu kecewa. Ia pun hanya berdiam diri di kamar selepas bekerja. Sang kakak, Reyan pun menyadarinya. Ia kemudian mencoba mengetuk pintu kamar adiknya.
Tidak terkunci?!
Pintu kamar Rivan ternyata tidak terkunci. Reyan pun membawakan Rivan kue kecil dengan satu lilin yang dihidupkan di atasnya. Reyan ingin memberi kejutan untuk sang adik.
"Rivan." Reyan berusaha membangunkan sang adik yang sedang tertidur menutupi mata dengan lengannya.
"Kakak?" Rivan pun menoleh. Tersadarkan jika kakaknya datang. Saat itu juga Reyan segera memberikan kue yang ia bawa.
"Selamat ulang tahun, Adikku," kata Reyan kepada Rivan. Saat itu juga Rivan merasa terharu. Ia segera memeluk kakaknya. "Rivan?" Reyan pun merasa perubahan aneh terjadi pada sikap adiknya. Ia kemudian mengajak Rivan untuk bicara bersama.