LOVE ISN'T AIR

LOVE ISN'T AIR
Tukar Pikiran



Hata menutupi wajahnya dengan tangan. Ia merasa malu untuk menceritakan kepada sang ayah. Namun, pada akhirnya keberanian itu muncul saat mengingat Naura.


"Yah, temani aku melamar wanitaku."


Pada akhirnya kata-kata itulah yang Hata ucapkan. Sontak saja Sam terkejut bukan main. Ia merasa sesuatu telah terjadi pada putranya.


Esok harinya...


Kepadatan ibu kota dimulai kembali pada tanggal dua Januari. Tampak di sebuah ruangan seorang bos sedang menunggu kedatangan karyawannya. Namun, sudah selang dua jam sang karyawan belum juga datang. Ia pun tampak gelisah bukan kepalang.


Di mana dia? Kenapa belum datang?


Ialah Hata yang merasa gundah dengan apa yang terjadi pada dirinya. Kini Naura belum juga datang ke kantornya. Hata pun menunggu sampai pukul sepuluh pagi, tetapi tetap saja Naura belum ada kabarnya. Hingga akhirnya ia memutuskan untuk bertanya kepada Ina, teman seruangan Naura. Saat itu juga Hata mendapatkan jawabannya.


"Naura sakit?"


"Benar, Pak. Badannya demam dan tubuhnya menggigil. Saat ini sedang ke dokter. Dia izin untuk tidak masuk." Ina menjelaskan kepada bosnya.


"Kenapa dia tidak bilang padaku langsung?" Hata mulai kesal karena tidak dianggap Naura.


"Mohon maaf, Pak. Untuk urusan itu saya tidak tahu. Naura hanya bilang seperti itu kepada saya." Ina pun menjelaskan apa adanya.


Hata mengerti. "Baiklah. Kau bisa keluar sekarang." Pada akhirnya Hata pun mengakhiri pembicaraannya.


"Baik, Pak. Permisi." Ina pun berpamitan ke luar ruangan. Hata pun mengiyakan.


Dia sakit tapi tidak memberi kabar? Apakah dia marah padaku?


Naura, maafkan aku.


Pada akhirnya rasa penyesalan itu kembali menggerogoti hatinya. Hata ingin segera menemui Naura di rumahnya.


Sore harinya...


Angin kencang menerpa Naura yang sedang duduk di kursi pelabuhan. Gadis cantik itu duduk bersama sang sepupu yang menyempatkan diri sebelum pulang bekerja. Keduanya tampak belum membuka percakapan hingga sang sepupu memberi Naura minuman. Naura pun menerima minuman itu lalu segera meneguknya. Kopi kapucino hangat kesukaannya.


"Tumben kau mengajak ku bertemu di sini?" Ialah Nara yang baru saja selesai bekerja. Tapi ia belum sempat pulang ke rumah karena Naura menghampirinya.


Naura tertunduk. "Ada hal yang ingin kutanyakan padamu," jelas Naura kepada Nara.


"Tentang apa? Apakah kau membutuhkan sesuatu?" tanya Nara segera.


Naura menggelengkan kepala seraya tertunduk di kursinya. Nara pun memerhatikan sikap sepupunya yang tampak berbeda hari ini. Ia mulai cemas dengan raut wajah Naura yang tidak seperti biasanya. Nara pun mencoba menanyakannya.


"Apakah sesuatu terjadi padamu, Naura?" Nara bertanya pelan-pelan.


Naura menghela napasnya. Ia menatap ke langit sore yang mulai terlukis semburat merah.


"Aku tidak tahu bagaimana harus memulainya, Nara. Tapi aku membutuhkan bertukar pikiran denganmu." Naura merasa sungkan untuk mengatakannya.


Kedatangan Naura kali ini untuk mendapatkan kepastian akan hal apa yang harus ia lakukan selanjutnya. Yang mana berkaitan dengan yang terjadi di rumahnya. Di mana ia dan Hata memadu kasih bersama. Tanpa ingat dengan status mereka. Naura pun merasa bersalah di hatinya. Tapi ia tidak mungkin secara terang-terangan mengatakannya kepada Nara. Naura membutuhkan waktu untuk bertukar pikiran sejenak. Tak lain tak bukan agar ketenangan itu didapatkan hatinya.