LOVE ISN'T AIR

LOVE ISN'T AIR
Perjalanan Ke Desa



Esok harinya...


Malam yang panjang dilalui sepasang insan yang sedang dimabuk cinta. Keduanya pun bermesraan hingga terhanyut suasana. Mereka kemudian tertidur bersama di bawah selimut vila. Tidak melakukan apa-apa, hanya sekedar berpelukan saja. Tampaknya Rivan begitu menjaga Naura, tidak seperti sebelumnya.


Kini Rivan dan Naura sedang bersiap-siap menuju desa, tempat kedua orang tua Naura berada. Keduanya pun masuk ke dalam mobil setelah memastikan tidak ada barang mereka yang tertinggal di vila. Naura pun dengan semringah duduk di samping Rivan.


"Kau senang, Beb? Wajahmu semringah sekali." Rivan pun meledek kekasihnya.


"Tentu. Semalam kan sudah dapat jatah." Naura berkata begitu saja.


Saat itu juga Rivan memikirkan ulang perkataan Naura.


Sepertinya semalam tidak melakukan apa-apa. Hanya sekedar peluk dan cium saja. Lalu jatah apa yang dia maksudkan ya?


Rivan bertanya-tanya. Dahinya berkerut pelipisnya juga mengerut. Naura pun memerhatikan kekasihnya yang tampak bingung. Ia kemudian melakukan sesuatu yang membuat Rivan tersadar dari pikirannya. Naura mencium pipi Rivan.


"Muach!"


Pada akhirnya Rivan pun tersadar jika tidak perlu terlalu memikirkannya. Rivan pun tersenyum kepada Naura lalu mengusap kepalanya.


"Kita berangkat sekarang, ya. Kita navigasi jalannya."


Pada akhirnya perjalanan mereka dimulai ke desa Naura. Keluar dari pantai lalu memasuki jalan kawasan wisata dengan hati riang dan gembira. Rivan akan menemui orang tua Naura hari ini. Tak lain tak bukan karena ingin melamar anaknya. Lalu apakah niat baik Rivan akan diterima?


Sekitar dua jam perjalanan ditempuh keduanya untuk memasuki desa yang ada di salah satu kabupaten terdekat ibu kota. Pada akhirnya Naura bisa kembali lagi ke desa untuk menemui orang tuanya. Tampak dirinya yang kini menerima telepon dari Nara. Saat memasuki jalanan bebatuan yang belum ada aspalnya. Naura dan Rivan pun bergoyang di dalam sana.


"Iya, aku pulang ke rumahku. Kunci rumah kuletakkan di tempat biasa. Karen sedang ada tugas di luar, jadinya aku langsung pergi saja semalam."


Ternyata oh ternyata sepupu Naura yang satu itu begitu peduli, sampai-sampai datang langsung ke rumah untuk mengecek keadaan Naura. Naura memang tidak bilang jika akan menginap di vila pantai. Ia menyembunyikan hal itu agar Nara tidak banyak bertanya. Pada akhirnya sang sepupu pun terus saja bertanya tentang Naura pergi dengan siapa.


Dia ini lama-lama menyebalkan sekali.


Sementara itu Rivan yang melihatnya tampak tertawa. Naura yang mulai menunjukkan sifat aslinya membuat Rivan menggelengkan kepala. Rivan tak menyangka jika Naura akan cerewet saat berbicara. Tidak seperti saat pertemuan pertama mereka.


Beb, kau ini cerewet. Padahal saat bertemu malu-malu denganku.


"Ya sudah. Sampai nanti. Nanti aku kabari jika sudah kembali ke rumah. Sudah ya." Naura pun mematikan telepon dari Nara di ponselnya.


Rivan terkekeh. Ia hanya diam saat melihat Naura tampak kesal karena diajukan banyak pertanyaan. Sedang Naura tampak emosi karena merasa diinterogasi.


Aku ini bagai penjahat saja. Dia peduli sih padaku, perhatian. Tapi tidak bertanya sampai sedetailnya juga. Dasar Nara!


Pada akhirnya mereka meneruskan perjalanan hingga sampai di depan rumah Naura yang sederhana. Rumah bercat biru itu menjadi saksi kedatangan Rivan di sana. Rivan akan segera mengutarakan niat baiknya untuk melamar Naura.