
Sementara itu...
"Kau teman dekatnya. Masa tidak tahu di mana rumahnya?!"
Sosok wanita cantik bermantel ungu mendatangi Ina di kantornya. Ia segera menanyakan di mana rumah Naura berada. Mei tidak dapat menemukan rumah Naura karena data pribadi Naura disembunyikan oleh Hata. Mantan bos dari Naura itu amat menjaga privasi karyawannya.
"Aku sungguh tidak tahu di mana rumah Naura, Nona. Kenapa Nona tidak tanyakan langsung saja kepada Pak Hata?" Ina pun tidak habis pikir Mei datang ke ruangannya lalu marah-marah.
"Kau ingin kupecat?! Aku ini calon istri dari bosmu. Berhati-hati kalau bicara padaku!" Mei pun tidak terima dijawab oleh Ina.
Nona ini aneh. Cantik tapi gila. Memaksakan sesuatu kepada orang yang tidak tahu.
Tak lama Hata pun melihat keributan yang terjadi dari jauh. Ia kemudian berjalan menuju ruangan kerja Ina. Yang mana Mei sedang berdiri di depan pintunya.
"Mei?" Hata pun menegur Mei.
Saat itu juga Mei tahu jika kepergok oleh Hata. "Hata?" Mei membalikkan badannya.
"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Hata dingin.
Mei pun memasang wajah bingungnya. Ia tidak mungkin jujur kepada Hata jika ingin menanyakan di mana rumah Naura kepada Ina.
"Nona ini menanyakan di mana rumah Naura, Pak." Tapi akhirnya Ina yang memberitahukannya.
"Mei???" Hata pun bertanya-tanya.
"Kau sudah mengganggu jam kerja orang lain. Bisa keluar dari kantor ini?"
Hata pun menyela perkataan Mei. Ia kemudian mengusir Mei dari kantornya. Sontak saja hal itu membuat Ina menyadari apa yang sebenarnya terjadi pada wanita itu. Mei ternyata tidak diinginkan oleh Hata di kantornya.
Calon istri tapi diusir? Gila sekali.
Dan akhirnya siang ini menjadi saksi Mei yang malu karena diusir Hata. Niatnya yang ingin mencari tahu di mana keberadaan rumah Naura pun tidak bisa digapainya. Mei malah diusir oleh Hata. Ia pun pergi meninggalkan ruangan Ina dengan mata yang memerah. Mei kesal dan juga marah yang menjadi satu. Ia tak terima diperlakukan dingin oleh Hata.
Satu jam kemudian...
Rivan disambut baik oleh kedua orang tua Naura. Ia pun segera menuturkan niat baiknya untuk mempersunting Naura. Tapi, ayah dari Naura itu tampak keberatan jika Naura segera melepas masa lajangnya. Apalagi Naura masih berstatus mahasiswi di salah satu kampus ibu kota.
"Ayah terima niat baik Rivan untuk melamar Naura. Tapi Naura masih kuliah. Kemungkinan sekitar dua tahun lagi baru lulus dari kampusnya. Apakah Rivan bisa menunggunya?"
Sebagai orang tua, ayah Naura pasti menginginkan yang terbaik untuk anaknya. Ia khawatir Naura akan tersendat kuliahnya jika menikah lalu hamil. Pastinya Naura akan mengambil cuti panjang untuk mengurus buah hatinya. Sehingga hal itu menganggu target kelulusan kuliahnya. Ayah Naura pun mengajak Rivan berdiskusi mengenai hal ini.
Ayah Naura dan Rivan duduk bersama di teras belakang rumah Naura yang sederhana. Sedang Naura mengintip pembicaraan itu dari balik pintunya. Ia khawatir jika sang ayah meminta yang macam-macam kepada Rivan. Yang mana hal itu memberatkan pernikahannya. Sang ibu pun tampak memerhatikan putrinya. Ia kemudian menegur Naura.
"Kenapa? Kau cemas?" tanya sang ibu kepada putrinya.
Naura menoleh ke ibunya. "Naura takut ayah menolak niat baik Rivan, Bu." Naura pun jujur kepada ibunya.
Ibunya mengangguk. "Ayah pasti tahu yang terbaik untukmu. Sekarang bantu ibu hidangkan makan siangnya. Kita akan makan siang bersama." Ibu Naura pun meminta sang putri untuk membantunya.