
"Hah, sudahlah. Biarkan saja."
Dan karena tidak ingin membuat masalah, Naura pun mengabaikan pesan dari Rivan. Ia melanjutkan membuat mienya. Namun, tak lama kemudian terdengar suara ketukan di pintu rumahnya.
"Siapa ya?"
Naura pun mematikan kompor. Ia diliputi rasa penasaran akan siapa yang datang. Ia pun bergegas untuk membukakan pintu rumahnya. Dan ternyata...
"Ka-kau ...?!" Naura terbata melihatnya.
Gadis berambut hitam panjang itu menatap kaget pria yang berkunjung ke rumahnya.
Apakah aku membuat kesalahan?
Naura pun bingung sendiri dengan situasi terkini. Ia tak menyangka jika akan kedatangan tamu di rumahnya. Sedang pria yang datang itu tersenyum manis padanya.
"Naura, apakah aku mengganggu?" tanya pria itu.
Naura pun terheran dengan kedatangan pria tersebut. "Maaf, Pak. Apakah aku membuat kesalahan sampai Anda datang ke sini?" tanya Naura kepada pria itu.
Pria yang datang itu adalah bos Naura sendiri. Pimpinan redaksi tempat di mana Naura bekerja. Dan ya, kedatangan Hata tentu saja mengejutkannya. Terlebih sebelumnya Naura tidak merasa membuat kesalahan.
Dia cantik sekali.
Hata sendiri melihat lekuk indah sang penulisnya yang mengenakan pakaian ketat. Hasrat kelelakian itupun muncul pada dirinya.
Hata sudah dewasa, tapi ia belum menikah. Di usianya yang ke tiga puluh tiga tahun masih melajang dan fokus pada pekerjaan. Selama satu tahun terakhir Naura bekerja pun ia tampak biasa-biasa saja. Bersikap layaknya seorang bos kepada bawahannya. Tapi entah mengapa sejak malam itu Hata begitu penasaran kepada Naura. Naura berhasil menarik perhatiannya.
"Tidak, Naura. Kedatanganku ke sini hanya untuk menemuimu dan mengajakmu berjalan-jalan." Hata menuturkan.
"Bolehkah aku masuk?" tanya Hata lagi.
Karena di rumah Naura hanya seorang diri, Naura pun melarang Hata untuk masuk ke rumahnya.
"Em, maaf, Pak. Aku tidak enak dengan tetangga yang melihat. Aku akan segera berganti pakaian. Tunggulah di sini," ucap Naura kepada Hata.
Hata pun melihat di teras depan rumah tidak ada kursi atau bangku yang bisa diduduki. "Aku tunggu di bawah saja, ya?" Hata pun pergi berlalu sambil meninggalkan pesan.
Gang rumah Naura sangat kecil sehingga tidak dapat dimasuk mobil. Hanya motor saja yang mampu memasuki gang itu. Hata pun menunggu Naura di dalam mobilnya. Mobil yang diparkirkan di pinggir jalan. Tak jauh dari gang rumah Naura berada.
Lantas apa yang akan terjadi selanjutnya? Apakah benar Hata begitu tertarik pada penulisnya?
Lima belas menit kemudian...
"Maaf, Pak. Terlalu lama menunggu," ucap Naura seraya masuk ke dalam mobil Hata.
"Tak apa. Sudah biasa," sahut Hata seraya tersenyum.
Seketika itu juga Naura jadi tidak enak sendiri. Hata pun tersenyum kembali. Ia kemudian mengajak Naura berjalan-jalan sebentar. Sedang Naura tampak diam saja. Pipinya merona karena malu dengan perkataan bosnya. Tetapi Naura tidak membalasnya.
Naura segera berganti pakaian saat akan bertemu lagi dengan Hata. Hata pun tampak mengarahkan kaca depannya ke arah Naura. Bibit-bibit cinta itu seolah mulai ditanamkan. Dan Hata menyiraminya dengan sering melihat Naura. Hata terpesona dengan kecantikan Naura saat di luar jam kerja.
Dia memang cantik. Harus kuakui itu.
Lantas keduanya segera melaju ke tempat yang dituju. Sebuah tempat wisata yang akhir-akhir ini ramai dibahas oleh orang-orang. Hata pun akan mengajak Naura ke sana. Siang ini menjadi saksi ngedate pertama mereka. Dan Naura seperti tidak berdaya untuk menolaknya. Ia seperti terkena hipnotis saja.