
Satu jam kemudian...
Rivan pulang dan melihat sang kakak segera menyambutnya. Tentu saja sang kakak merasa heran saat melihat Rivan yang pulang ke rumah dengan tersenyum senang. Adik kesayangannya itu tampak berbeda roman wajahnya hari ini. Sang kakak pun segera mempertanyakan apa penyebabnya.
Ialah Reyan, kakak dari Rivan yang jarak usianya berbeda cukup jauh. Usia mereka berbeda lebih dari lima tahun. Dan itu cukup untuk membuktikan jika Reyan adalah seorang penyayang adiknya. Sekalipun ia sudah menikah. Reyan mempersilakan sang adik untuk tinggal di kediamannya bersama sang istri. Rivan pun amat berterima kasih.
Kedua orang tua Reyan dan Rivan sudah tiada. Mereka pun hanya dua bersaudara. Reyan sendiri adalah seorang teknisi penerbangan tanah air. Sedang adiknya adalah seorang pilot. Mereka meneruskan perjuangan sang ayah yang bekerja di bidang penerbangan nasional.
Rumah kedua orang tua mereka disewakan untuk membiayai kuliah keduanya. Hingga akhirnya Reyan memutuskan untuk tinggal di rumah sendiri dan mengajak adiknya. Kebetulan jam terbang sang adik tidak bisa diprediksikan. Sehingga karena hal itulah Reyan meminta Rivan untuk tinggal di rumahnya. Agar ia juga bisa mengawasi sang adik yang beranjak dewasa. Dan Reyan sudah berhasil melaksanakan tugasnya sebagai seorang kakak. Kini Rivan sudah menjadi pilot sebuah maskapai penerbangan nasional.
Istri dari Reyan sendiri adalah seorang pramugari yang sudah pensiun dini. Keduanya kini dikaruniai buah hati yang baru saja berumur setengah tahun. Reyan pun lebih banyak menghabiskan waktu di rumah bersama istri dan anaknya. Karena mereka memang sengaja tidak menyewa pembantu untuk mengurus anaknya. Mereka ingin masa tumbuh kembang anaknya sempurna dengan mendapatkan kasih sayang penuh dari ayah dan ibunya.
"Tumben, hari ini kau pulang dengan tersenyum-senyum. Biasanya selalu mengeluhkan penerbanganmu yang jauh." Sang kakak menyapa.
Rivan hanya menoleh tanpa menjawab kakaknya. Ia menyembunyikan senyumnya agar tidak menerima banyak pertanyaan. Karena bagaimanapun Rivan tidak ingin ada yang mengetahui isi hatinya saat ini. Ia ingin menjaga sampai waktunya tiba.
Rivan ingin menyembunyikan perasaannya yang sedang senang karena pertemuannya dengan Naura siang ini. Dan ya, ia segera masuk ke dalam kamarnya lalu merebahkan diri. Ia tidur di atas kasur sambil menatap langit-langit kamarnya. Saat itu juga bayang-bayang Naura terlintas di alam pikirannya.
Wajahnya begitu menggemaskan saat keinginannya tidak terpenuhi.
Rivan pun tersenyum. Ia kemudian mencoba melihat foto profil Naura yang ada di kontak ponselnya. Dan ternyata Naura juga sudah membaca pesannya. Rivan pun segera mengirimkan Naura pesan. Ia ingin mengetahui Naura sedang apa sekarang. Bunga-bunga cinta itu perlahan tapi pasti bermekaran di dalam hatinya. Rivan ternyata kepincut dengan Naura.
Pada akhirnya Rivan pun mencoba tidur siang setelah lelah berjalan-jalan hari ini. Ia berwisata bersama keluarga dari kakak iparnya, mengunjungi sebuah tempat yang sedang ramai jadi perbincangan orang-orang. Dan tanpa diperkirakan sebelumnya, ia malah bertemu dengan Naura di sana. Rivan pun mengakui jika ia kurang menyukai apa yang dilihatnya. Tapi ia tidak ingin mengakuinya.
Naura, sampai bertemu lagi.
Pada akhirnya mata Rivan pun terpejam. Ia telah siap untuk memasuki destinasi alam mimpi yang indah. Berharap bisa bertemu kembali dengan Naura di sana.