LOVE ISN'T AIR

LOVE ISN'T AIR
Diam-diam Membantu



Naura mengangguk lalu meneguk tehnya.


"Aku dan Rivan hanya dua bersaudara. Kedua orang tua kami telah tiada. Tapi aku tidak pernah melihat Rivan sesedih kemarin. Yang mana ternyata dikarenakan patah hati," tutur Reyan kemudian.


Sontak Rivan tersadarkan dengan percakapan kakaknya. "Kakak, apa yang kau katakan?!" Rivan tidak terima.


"Ssssstt. Dengar dulu."


Reyan pun meminta Rivan untuk diam. Sedang Naura menunggu Reyan kembali berbicara. Jantungnya deg-degan bukan kepalang. Menantikan hal apa yang ingin dikatakan oleh kakak Rivan.


"Sebenarnya ... Rivan menyukaimu, Naura," cetus Reyan yang membuat Naura terkejut seketika.


"Apa?!" Naura seperti salah mendengarnya.


"Kak, apa yang kau katakan?! Itu tidak benar!" Rivan pun menutupi malu.


"Sudahlah, mengaku saja. Hal ini tidak akan selesai-selesai jika tidak ada kejujuran." Reyan meminta Rivan mengakui perasaannya.


Sontak saja wajah Rivan memerah malu. Dengan jelas sang kakak mengungkapkan bagaimana perasaannya terhadap Naura. Naura pun terkejut bukan kepalang. Tak menyangka jika akan mendengar hal ini. Bak pucuk dicinta ulam pun tiba. Akhirnya apa yang dinanti-nantikan terjadi.


"Naura, maukah besok ikut bersama kami ke vila keluargaku?" tanya Nia ke Naura.


Naura pun terperangah seketika.


"Tenang saja. Di sana aman. Kau akan tidur bersama istriku." Reyan menimpali.


Rivan pun hanya terdiam mendengar percakapan itu. Sementara Naura tampak bingung sendiri untuk mengambil langkah. Karena bagaimanapun Rivan adalah orang yang baru dikenalnya.


Aduh, bagaimana ini? Aku belum bisa memutuskan.


Naura pun bingung sendiri. Ia jadi ragu untuk ikut ke vila keluarga kakak ipar Rivan. Tapi hatinya menginginkan untuk bersama Rivan. Naura pun harus mencari tahu siapa Rivan lebih dulu sebelum mau diajak ke vila keluarga kakak iparnya Rivan. Karena hanya itu satu-satunya cara untuk memastikan keadaan aman.


Di kediaman Nara...


"Ayah, masih belum adakah tempat kosong untuk Naura bekerja?" tanya Nara kepada ayahnya.


"Masih belum. Yang ada hanya bagian operasional. Itu pun semua pria," jawab sang ayah.


"Memangnya kenapa, Nara?" tanya sang ibu.


Nara menoleh ke ibunya. "Naura ingin mendapatkan gaji yang lebih besar dari tempat kerjanya sekarang, Bu. Dia ingin mencari pekerjaan yang baru," sahut Nara.


"Naura ingin resign?" tanya ibunya kembali.


Nara mengangguk.


"Sayang sekali. Dia sudah cukup lama bekerja di sana." Sang ibu menimpali.


"Mungkin dia sudah lelah merangkai kata menjadi kalimat. Kalimat menjadi paragraf, Bu," sahut Nara kembali.


Ibunya tersenyum. "Ibu pikir pekerjaan menulis itu menyenangkan," duga ibunya.


"Menyenangkan memang, Bu. Tapi jika gajinya sesuai. Hahaha." Nara tertawa.


"Hahaha. Dasar!" Sang ibu pun ikut tertawa.


"Nanti jika sudah ada pekerjaan, ayah beri tahu, Nara." Sang ayah akhirnya bicara lagi.


Nara tersenyum. "Terima kasih, Ayah. Terima kasih mau membantu Naura." Nara pun tampak senang.


Sang ayah mengangguk. Percakapan mereka pun akhirnya berakhir. Nara kemudian berpamitan kepada ayah dan ibunya untuk masuk ke dalam kamar. Ia ingin menelepon Nita sebentar.


Naura, bersabarlah. Aku akan membantumu dari sini.


Nara pun berjanji akan membantu Naura untuk mendapatkan pekerjaan yang lebih baik lagi. Entah apa, yang jelas Nara tidak rela membiarkan Naura terus mengeluh karena gajinya.