
Naura dikenalkan dengan keluarga Nia, kakak ipar dari Rivan. Gadis cantik nan imut itu kemudian diajak berkumpul bersama dan membuat sapi panggang di teras vila keluarga. Namun, rupanya Rivan tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini untuk berdekatan dengan Naura.
Menjelang petang ini Rivan mengajak Naura berkuda untuk melihat matahari terbenam bersama. Naura pun tak jadi ikut membantu memanggang daging sapi di sana.
Kini keduanya tengah duduk di atas rerumputan vila yang menjorok ke arah barat. Dan dari sana mereka bisa melihat perkotaan yang terlihat kecil dan juga matahari yang mulai terbenam. Rivan pun mulai mengutarakan sesuatu perasaan yang mengganggunya akhir-akhir ini.
"Naura. Aku rasa ... kita sudah cukup lama mengenal." Rivan bicara kepada Naura yang duduk di samping kanannya. Pakaian musim dingin itu pun menjadi saksi keduanya.
"Lalu?" tanya Naura kemudian.
Rivan menunduk. Ia tampak malu untuk mengatakannya. "Kau belum punya pacar, bukan?" Rivan menanyakannya lagi.
Entah mengapa saat itu juga Naura tersenyum sendiri. Ia kemudian menggelengkan kepalanya.
Rivan tersenyum. Ia kemudian meraih tangan Naura perlahan. Naura pun terkejut karena Rivan memegang tangannya.
"Naura, maukah kau menjadi pacarku?" tanya Rivan yang membuat Naura terkejut seketika. Ia merasa bermimpi mendengar Rivan berkata seperti itu.
"Aku serius. Maka jangan tolak aku," pintanya kepada Naura.
Saat mendengar perkataan itu, saat itu juga Naura bingung. Ia bingung karena hal ini tidak pernah ia duga sebelumnya. Selama ini Rivan seperti menarik-ulur hatinya. Tapi kini Rivan menyatakan perasaannya. Naura seperti bermimpi saja.
Apakah dia serius?
Naura pun bertanya-tanya dalam hatinya. Namun, sepertinya Rivan tidak ingin membiarkan Naura berada dalam kebingungan. Rivan pun segera menarik Naura ke dekatnya. Lalu akhirnya bibir itu mendarat di bibir Naura. Saat itu juga Naura tersentak seketika.
Rivan ...?!
"Ehm!"
Reyan pun berdehem, memecahkan suasana romantis yang baru saja terjadi. Sontak Rivan pun melepaskan bibirnya dari bibir Naura. Naura pun merona malu dibuatnya.
"Rivan, Naura, mari kita makan. Sapi panggangnya sudah matang," ucap sang kakak kepada Rivan.
Rivan pun mendengus kesal. Ia kemudian membantu Naura berdiri dari duduknya. Sedang Reyan kembali ke tempat berkumpul sambil menahan tawa. Ia tahu sang adik pasti kesal karena diganggu olehnya.
Dia sudah dewasa sekarang. Lebih baik cepat menikah daripada melakukan hal yang bukan-bukan.
Lantas ketiganya pun kembali ke tempat berkumpul di vila itu. Mereka pun menikmati acara makan malam bersama keluarga Nia. Di sebuah vila keluarga yang ada di dataran puncak ibu kota. Naura pun menikmati sajian makan malam itu bersama Rivan. Ia merasa senang dan bahagia sekarang.
Sementara di apartemen Hata...
Hata bolak-balik sedari tadi karena cemas memikirkan Naura. Teman baiknya, Gun pun risih dengan sikap sang teman yang tak jelas. Gun kemudian menegur Hata.
"Hei, kau sedari tadi bolak-balik saja. Ada apa?" tanya Gun yang merasa terganggu saat bermain PlayStation 4D-nya.
"Aku sedang memikirkan sesuatu, Gun," sahut Hata.
Gun pun menghampiri Hata. "Kau memikirkan penulismu itu ya?" tanya Gun langsung.
Hata duduk di sofanya. "Aku khawatir padanya. Nomornya tidak aktif sejak siang tadi." Hata merasa cemas memikirkan Naura.