
"Naura." Hata menyadari apa yang baru saja terjadi. Naura pun beranjak pergi darinya. "Naura!" Tapi saat itu juga Hata menarik tangan Naura, menahannya agar tidak pergi. "Naura, maafkan aku. Jangan marah," pinta Hata seraya memerhatikan wajah Naura.
Naura merasa bingung harus berkata apa.
"Izinkan aku mengantarkanmu pulang, ya. Tunggu sebentar lagi. Setelah ini aku akan mengantarkanmu sampai di rumah." Hata berjanji.
Jam di dinding menjadi saksi akan kejadian yang baru saja terjadi. Naura pun tidak mengerti mengapa tidak bisa mencegah semuanya. Pada akhirnya ciuman pertamanya harus diserahkan kepada bosnya. Atau lebih tepatnya sang bos lah yang mengambilnya. Lalu jika sudah begini, apakah status itu harus segera diresmikan?
Esok harinya...
Pagi yang cerah menyambut kedatangan seorang bos tampan di kantornya. Ialah Hata yang datang sambil membawa koper kerjanya. Ia pun berpapasan dengan beberapa karyawannya pagi ini. Hata pun hanya mengangguk saat karyawannya itu menyapa. Ia segera masuk ke ruang kerjanya.
Aku sebenarnya ingin menjemputnya. Tapi setiap pagi nomornya tidak aktif.
Pagi ini Hata ingin sekali berangkat ke kantor bersama Naura. Tapi sayang, nomor Naura tidak aktif. Hata pun jadi bingung untuk menjemputnya atau tidak. Karena jam masuk kantor tidak bisa menunggu lama. Lalu akhirnya Hata pun pergi sendiri.
Hata duduk di kursinya. Tak lama sebuah pesan pun diterimanya. Ia segera membaca pesan tersebut. Dan saat membacanya, saat itu juga ia mengernyitkan dahinya.
"Siapa yang mengirim pesan ini?"
Hata pun segera menelepon nomor yang mengirimkannya pesan pagi-pagi. Tapi sayang nomor tujuannya itu sudah tidak aktif. Hata pun dibuat gelisah dengan isi dari pesan tersebut.
Hata pun tak terima dengan isi pesan tersebut, setelah apa yang terjadi semalam padanya dan Naura. Lalu akhirnya Hata pun meneruskan pekerjaannya. Ia mencoba untuk tidak memedulikan pesan itu. Karena baginya hal itu tidak penting sama sekali. Pagi ini pun Hata segera memulai pekerjaannya.
Siang harinya...
Hata begitu disibukkan dengan pekerjaannya, sedang Naura tampak ingin menghindari bosnya tersebut. Ia bergegas merapikan meja kerja lalu keluar dari kantor. Ina, teman satu ruangannya pun menaruh curiga.
Naura aneh sekali hari ini. Apakah dia baik-baik saja?
Tidak biasanya Naura gupek seperti ini. Naura segera memakai sepatu lalu keluar dari ruangan tanpa bilang ke Ina terlebih dahulu. Padahal jam makan siang belum datang. Masih ada waktu sekitar tujuh menit lagi untuk sampai ke jam makan siang. Tapi Naura sudah terburu-buru keluar dari kantor. Ina pun berpikiran yang tidak-tidak tentangnya.
Tadi pagi Naura datang tepat pada waktunya. Ia pun segera bekerja dan menyelesaikan tugasnya. Hingga akhirnya Ina melihat Naura menerima sebuah pesan. Saat itulah perubahan sikap Naura mulai terasa. Naura seperti orang yang gelisah.
Ina sendiri tidak tahu apa yang terjadi pada Naura dan bosnya. Walau kabar simpang siur tentang jadian keduanya telah tersebar, Ina belum yakin jika Naura belum menceritakannya. Tapi melihat Naura gelisah seperti ini membuat Ina berpikiran yang macam-macam. Ia khawatir terjadi apa-apa pada Naura.
Pukul dua belas siang waktu ibu kota dan sekitarnya...
Naura berjalan tergesa-gesa menuju sebuah taman di dekat kantornya. Tampak seorang pria sudah menunggunya di sana. Seorang pria bersweter putih dengan gaya rambut dibelah pinggir. Perawakannya tinggi dengan aroma parfum yang membuat siapa saja akan melayang kala menciumnya.