LOVE ISN'T AIR

LOVE ISN'T AIR
Gelisah



Gun mengembuskan napasnya. "Sudah tinggalkan pesan?" tanya Gun lagi.


Hata mengangguk.


"Sudah coba ke rumahnya?" Gun bertanya kembali.


Hata menggelengkan kepala.


Gun melihat jam di dinding. Ia lihat saat ini sudah pukul delapan malam waktu ibu kota dan sekitarnya. Jalanan pun tentunya sudah mulai macet karena diadakan pesta tahun baru oleh pemerintah setempat.


"Besok saja kau temui dirinya. Mungkin dia sedang bersama keluarganya." Gun memberi saran.


"Tapi—"


"Tidak ada tapi. Mungkin dia tidak mengaktifkan ponselnya karena tidak ingin terganggu acara keluarganya. Cobalah berpikiran positif, Hata." Gun mengungkapkan pemikirannya.


Mau tak mau Hata pun menerima saran dari Gun. Karena apa yang dikatakan Gun memang ada benarnya. Jika Naura tidak mengaktifkan ponsel berarti ia tidak ingin diganggu. Hata pun berusaha mengalihkan pikirannya dari hal buruk tentang Naura. Ia mencoba percaya pada penulisnya. Seorang gadis yang ia cium bibirnya malam itu. Dan kini bersemayam di dalam hatinya.


Malam tahun baru...


Semarak malam tahun baru terlihat jelas dari puncak. Naura pun bersama Rivan bergembira bersama keluarga. Untuk yang pertama kalinya Naura merayakan tahun baru bersama seorang pria. Begitu juga dengan Rivan yang biasanya merayakan bersama teman-temannya. Tapi malam ini terasa begitu spesial bagi keduanya. Canda tawa pun tercipta di antara mereka.


Rivan mulai menunjukkan sisi humorisnya kepada Naura. Sedang Naura yang tidak bisa menahan kesal akhirnya seringkali memukul Rivan saat berusaha menjahilinya. Dan ya, Rivan juga seringkali terkena cubitan Naura. Yang mana cubitan itu memicu gelak tawa dari keluarga Nia, kakak ipar Rivan sendiri. Sedang Reyan tampak sedang memikirkan jangka panjang untuk keduanya. Reyan ingin segera menikahkan adiknya.


Ayah, ibu. Lihatlah Rivan sudah besar sekarang.


Reyan tersenyum sambil memerhatikan adiknya yang terus bercanda bersama Naura. Hingga akhirnya waktu istirahat tiba bagi mereka. Rivan pun mengantarkan Naura ke kamarnya. Tampak Rivan yang masih usil dengan Naura.


"Rivan! Sudah!"


Rivan tersenyum-senyum sendiri. Ia pun mempersilakan Naura masuk ke dalam kamar yang akan menjadi tempat beristirahat malam ini. Berada di lantai dua vila keluarga kakak iparnya.


"Silakan, Tuan Putri."


Rivan pun mempersilakan Naura masuk ke dalam kamar seraya merentangkan satu tangannya. Naura pun tersenyum-senyum sendiri dibuatnya. Tapi saat Naura masuk ke kamar, Rivan pun ikut masuk ke dalamnya. Rivan pun mengunci pintu kamarnya dari dalam.


"Rivan?!" Naura kaget seketika.


"Ssstt!" Rivan pun meminta Naura untuk diam. Saat itu juga Naura berpikiran macam-macam.


Rivan kemudian menarik tubuh Naura ke dekatnya. Kedua tangan Rivan pun melingkar di pinggang Naura. Sedang Naura sendiri tidak punya persiapan sama sekali untuk dipeluk Rivan. Kedua tangannya pun refleks memegang dada Rivan. Saat itu juga Naura merasakan detak jantung Rivan yang melaju kencang.


Dia ... dia menginginkannya?


Naura pun bertanya-tanya di dalam hatinya. Hingga akhirnya Rivan tersenyum padanya. Rivan pun ingin mencium Naura kembali, tapi Naura menolaknya. Sontak saja Rivan semakin gemas kepada Naura.


"Bukankah kita sudah jadian. Masih belum boleh?" tanya Rivan dengan nakalnya.


.........


...Rivan...



...Naura...