
"Maaf, Pak."
Naura memalingkan wajahnya saat Hata ingin menciumnya. Saat itu juga Hata tersadar dari apa yang ingin diperbuatnya. Hata pun merasa malu. Ia heran mengapa bisa sampai seperti itu. Ia pun bingung dengan dirinya sendiri. Hingga akhirnya ia memutuskan untuk menjaga jarak dari Naura. Mereka berdiaman di depan teras ruko cukup lama.
Dua jam kemudian...
Setelah kejadian yang hampir saja itu, Naura meminta kepada Hata untuk segera pulang ke rumahnya, selepas hujan reda. Ia merasa tak enak sendiri dengan apa yang terjadi tadi. Bagaimana mungkin ia bisa berciuman dengan bosnya, sementara tidak ada hubungan di antara mereka? Hata pun mencoba mengajak Naura makan untuk memecahkan suasana.
"Kita makan steak dulu, ya?" ajak Hata.
Naura menggelengkan kepalanya. Keduanya kini sedang dalam perjalanan pulang. "Tidak perlu, Pak. Aku sudah makan tadi. Di rumah juga sedang tidak ada orang. Jadi aku harus kembali secepatnya," tutur Naura.
Hata merasa tidak enak dengan kejadian di depan ruko tempat wisata itu. Tapi ia juga tidak mengerti mengapa bisa sampai demikian. Harus ia akui jika ia tertarik pada penulisnya sendiri, Naura.
Hata mengangguk. Ia kemudian diam saja karena merasa tidak enak hati kepada Naura. Tak lama mereka pun sampai di depan gang Naura.
"Terima kasih atas jalan-jalannya, Pak. Permisi."
Naura pun segera berpamitan. Ia keluar dari mobil. Saat itu juga Hata ingin menahan kepergian Naura. Tapi tak sempat karena Naura terburu pergi. Hata pun tersadar jika Naura bukanlah gadis yang mudah untuk ditaklukkan.
Naura ....
Lantas apa yang akan Hata lakukan untuk Naura? Akankah ia pelan-pelan mendekati Naura untuk mendapatkan hatinya?
Beberapa menit kemudian, sesampainya di rumah...
Naura segera menutup pintu. Ia pun berdiri menyandar pada pintu masuk rumahnya. Ia menatap langit-langit rumah sambil memegangi kepalanya.
"Oh, ya ampun, apa yang aku lakukan tadi?" Ia merasa bersalah. Tidak seharusnya sampai berpelukan dengan bosnya. Naura merasa malu sendiri.
Baru kali ini Naura merasakan kehangatan tubuh seorang pria yang memeluknya. Dan ia sama sekali tidak menyangka jika akan dipeluk oleh bosnya. Bos redaksi tempatnya bekerja mengais rezeki. Perjalanan hari ini sungguh tak terduga sama sekali. Naura pun jadi bertanya-tanya dengan maksud Hata mengajaknya jalan hari ini.
"Seusia dia harusnya sudah mempunyai pacar. Atau mungkin juga sudah bertunangan. Tapi mengapa dia seperti pertama kali jalan bersama seorang perempuan? Apakah dia sedang bersandiwara untuk mendapatkan aku?" Naura dibuat bertanya-tanya.
Lain Naura, lain Hata. Hata yang sedang mengendarai mobilnya pulang itu pun memikirkan Naura di sepanjang perjalanan. Bagaimana gadis cantik, imut itu selalu terbayang di alam pikirannya. Hata pun mulai terganggu dengan perasaannya sendiri. Namun, ia belum dapat memastikan bagaimana isi hatinya terhadap Naura. Benarkah jatuh cinta atau hanya sebatas kagum saja.
Aku masih butuh waktu untuk mengenal diriku sendiri.
Lantas Hata pun mengganti gigi mobilnya. Ia menekan pedal gas mobilnya. Ia melaju cepat ke rumahnya. Hata ingin beristirahat segera. Ia ingin menenangkan diri dari perasaan yang datang tiba-tiba. Tentang Naura, tentang seorang gadis yang terbayang-bayang di ingatannya.