LOVE ISN'T AIR

LOVE ISN'T AIR
Kafe Romantis



Benarkah apa yang dikatakan Nara?


Naura terdiam. Ia mengangguk pelan. Sedang Nara berusaha tersenyum untuk menutupi sesuatu di dalam hatinya.


Aku harus cepat-cepat mengenalkan dirinya pada pria. Jika tidak, selamanya dia akan bergantung padaku. Dan aku tidak bisa leluasa pergi malam bersama Nita karena harus menjemputnya kuliah. Oh, Naura. Lekaslah punya pacar! Jangan selalu menyusahkan aku!


Ternyata dibalik permintaan Nara itu ada maksudnya. Nara ingin Naura cepat mempunyai kekasih agar tidak merepotkannya lagi. Karena Nara juga mempunyai kehidupan sendiri. Sedang jika Naura sendiri, Nara masih harus bertanggung jawab padanya. Nara harus menjemput Naura pulang kuliah.


Lantas malam ini Nara kembali mengantarkan Naura pulang ke rumahnya. Rumah kecil titipan ayahnya. Naura pun melambaikan tangannya kepada Nara seraya berucap terima kasih. Terima kasih karena telah diantarkan pulang malam ini. Keduanya saling menyayangi bak saudara kandung sendiri.


Sabtu, pukul tujuh malam waktu ibu kota dan sekitarnya...


Seorang gadis berlari tergesa-gesa memasuki sebuah kafe romantis yang ada di tengah kota. Ia mengenakan gaun berwarna hitam setinggi lutut. Matanya mencari-cari seseorang di sekeliling kafe yang sudah mulai ramai. Hingga akhirnya ia menemukan seorang pria tengah duduk sambil menyeruput kopinya. Ia pun lekas berlari ke arah pria tersebut.


"Maaf, Pak. Aku terlambat lima menit," ucapnya sambil menaruh tas di atas meja.


Ialah Naura yang malam ini menemui bosnya. Ia tampak tergesa-gesa masuk ke dalam kafe karena hampir lupa dengan janjinya bersama sang bos. Naura pun melihat keadaan sekitarnya. Sedang sang bos...


"Kau ini, tidak di kantor, tidak dimana-mana, selalu saja telat." Hata pun mengomeli Naura.


"Em, maaf. Aku hampir lupa janji." Naura pun nyengir tak karuan di depan bosnya.


Hata menatap Naura. Ia perhatikan baik-baik seorang gadis yang ada di hadapannya. Cantik, imut dan juga memesona. Tubuh Naura yang langsing seperti mempunyai daya tarik tersendiri. Naura bak putri kerajaan saat memakai gaun seperti ini. Pada akhirnya Hata pun memaafkan Naura.


"Eh?!" Seketika itu juga Naura jadi menyesal karena telah berdandan rapi.


Harusnya aku dandan biasa saja. Tapi kenapa malah seperti ini. Aduh, Naura. Kau terlalu berharap naskahmu difilmkan. Sampai tak ingat bagaimana jika produser itu tidak datang.


Jujur saja Naura malu. Biasanya ia hanya berdandan ala kadarnya untuk bekerja. Tapi malam ini Naura berdandan cantik sekali. Yang mana hal itu membuat Hata terpesona. Naluri sebagai seorang lelaki pun keluar saat melihat Naura. Bos redaksi itu tampak tertarik dengan penulisnya. Siapa lagi kalau bukan Naura seorang.


Sepulang makan malam...


Karena tidak jadi menemui produser film, akhirnya selepas makan malam Naura meminta pulang. Dan ya, Hata mengantarkan Naura sampai di depan gang rumahnya. Hata pun ingin mengantarkan Naura sampai di depan rumah. Namun...


"Sampai di sini saja ya, Pak. Terima kasih." Naura mencegahnya.


"Kenapa?" tanya Hata yang bingung.


Naura tampak cemas. Ia akhirnya jujur. "Nanti aku dikira sudah punya pacar. Terima kasih, Pak. Selamat malam." Naura pun lekas berpamitan.


Dikira sudah punya pacar? Jadi selama ini?


"Naura!"


Hata pun ingin memanggil Naura kembali. Tapi gadis itu lekas-lekas pergi. Naura pun berjalan sedikit menanjak untuk sampai ke rumahnya. Sedang Hata hanya bisa terdiam di dalam mobilnya. Ia baru tahu jika Naura belum mempunyai pacar. Hata pun tiba-tiba tersenyum karenanya.