
Pada akhirnya Yin dan Yan menyerahkan selembar surat perjanjian kepada keduanya. Sepasang suami istri yang bergelut di bidang perfilman itu ingin segera menyelesaikan urusannya. Naura dan Hata pun membaca selembar surat itu secara bergantian.
Akhirnya, ada yang tertarik juga.
Pada akhirnya Naura menandatangani kontrak yang telah diberikan. Dengan Hata sebagai saksinya. Lantas apakah setelah ini Naura akan lebih tertarik untuk terus dekat dengan bosnya? Tak lain tak bukan agar keuntungan itu selalu didapatkannya.
Malam harinya, sepulang kuliah...
Naura mengajak Nara untuk menemaninya mengambil uang di ATM terdekat. Nara pun menemani Naura sampai menjaganya di pintu masuk. Dan setelah uang di ATM itu berhasil diambil, Naura pun mengajak Nara untuk makan bersama. Malam ini Naura yang akan mentraktirnya.
"Tumben Naura, malam ini kau yang mentraktir aku. Biasanya aku yang selalu mentraktimu." Nara ceplos begitu saja.
"Sudah, jangan menghancurkan suasana hatiku yang sedang senang, Nara!" Naura pun sedikit kesal.
"Hehe, maaf-maaf." Nara pun tertawa kecil. Ia merasa Naura tidak bisa diajak bercanda malam ini.
Naura mengajak sepupunya makan di restoran cepat saji terkenal di ibu kota. Baik Naura maupun Nara sama-sama menyantapnya dengan lahap. Keduanya kebetulan saja baru pulang dari beraktivitas. Nara yang baru pulang bekerja, sedang Naura yang baru pulang kuliah. Mereka pun bercengkerama sambil makan bersama sampai selesai.
"Berapa jumlah utangku selama ini padamu?" tanya Naura kemudian.
"Ap-apa?! Uhuk-uhuk!"
Nara pun tiba-tiba tersedak makanannya sendiri. Ia terkejut mendengar Naura menanyakan hal itu. Lantas Nara pun lekas-lekas meminum soda ringannya.
"Nara, jangan grogi seperti itu. Aku hanya ingin membayar utangku," goda Naura.
Nara menarik napas panjang-panjang. "Aku bukan grogi, Naura. Aku hanya kaget kau menanyakannya," terang Nara.
"Memangnya?" tanya Naura lagi.
Naura terkekeh. "Maaf. Aku baru dapat uang sekarang. Jadi berapa total utangku padamu?" tanya Naura lagi.
"Tidak tahu. Aku sudah lupa." Nara benar-benar lupa utang Naura.
Naura menghela napas. Ia kemudian menyerahkan segepok uang kepada Nara. "Ini kubayar utangku selama ini. Menurut perhitunganku, utangku ada dua juta tujuh ratus lima puluh ribu. Ini kubayar pas. Lunas, ya!" Naura pun dengan senang hati membayarkannya.
Nara terperangah di tempatnya.
"Sudah terima! Mulai sekarang aku tidak punya utang lagi padamu," kata Naura yang semakin membuat Nara bertanya-tanya.
"Naura, dari mana kau mendapatkan uang sebanyak ini? Apa jangan-jangan kau menjual dirimu?" tanya Nara yang seketika itu juga membuat Naura merah padam. Ia marah karena ucapan sepupunya itu.
"Naaaraaaa!!!"
Dan saat itu juga Nara tahu jika sudah tiba bagi dirinya untuk melarikan diri. Nara pun menghindari Naura yang marah. Tak lupa ia juga mengambil uangnya terlebih dahulu.
"Nara! Awas kau ya!!!"
Pada akhirnya Naura pun mengejar Nara untuk memukulnya. Ia kesal dengan ucapan Nara yang semakin didiamkan semakin menyakitkan hatinya. Nara pun segera ke parkiran untuk menghindari Naura. Tapi sayangnya ia malah kehilangan jejak Naura. Nara pun kembali menemui Naura. Tapi saat itu juga...
"Terimalah ini!!!"
Naura ternyata bersembunyi untuk memukul Nara. Nara pun akhirnya menerima bogem mentah dari Naura. Gadis cantik nan imut itu seperti sudah tidak lagi bisa menahan amarahnya. Pada akhirnya Nara menjadi bulan-bulanan Naura. Nara kalah dengan sepupu wanitanya.
"Ampun, Naura! Ampun!" Nara pun terus dipukuli Naura.
"Mulutmu itu jahat, Nara! Maka harus kuberi pelajaran!" Naura terus memukul sepupunya.