LOVE ISN'T AIR

LOVE ISN'T AIR
Membuat Janji



Hata tersenyum seraya mengangguk-angguk. Senyum sang bos yang baru Naura lihat setelah bekerja satu tahun ini. Naura pun terpesona melihat senyum bosnya. Ia tak menyangka jika sang bos memiliki senyum semenawan ini.


Harusnya dia selalu tersenyum seperti ini. Jadi aku nggak dag-dig-dug karena takut dipecat.


"Kalau kau mau, aku bisa mengajukan cerita ini ke produser untuk difilmkan. Kelihatannya kisahmu menarik. Tapi karena ringkas hanya dapat dijadikan FTV saja. Sejenis film lepas yang satu kali tayang dan langsung closing." Hata menerangkan kepada Naura.


Naura pun tersenyum manis. Ia merasa senang dengan kabar itu. Ia langsung berandai-andai mendapatkan uang besar dari hasil ceritanya. Dan tentu saja balasan senyum itu membuat sang bos bergantian terpesona dengan anak buahnya. Hata juga tidak pernah melihat Naura tersenyum semanis ini.


"Ehm!"


Hata memecahkan suasana. Naura pun tersadar dari angan-angannya.


Hata memberi Naura selembar kertas. "Baiklah, Naura. Nanti malam kita bisa bertemu dengan produser FTV. Kau ada waktu?" Hata segera menanyakannya.


Sontak Naura kaget bukan kepalang. Ia bingung harus berkata apa.


"Sekalian kita makan malam. Aku tunggu jam tujuh di kafe cinta. Bagaimana?" tanya Hata kepada Naura.


Naura pun segera teringat jika ada kuliah nanti malam. "Em, maaf, Pak. Aku ada kuliah sampai jam setengah sepuluh nanti," jawab Naura tidak enak hati.


Hata pun seakan mengerti. "Baiklah kalau begitu. Sabtu malam kutunggu kau di sana," kata Hata lagi.


Ap-apa?!


Saat itu juga Naura merasa bingung dengan ajakan bosnya. Ia merasa sang bos sangat mengharapkannya bisa makan malam bersama.


Apakah dia sungguhan?


Naura pun dirundung rasa bingung sekaligus curiga pada hatinya. Dan pada akhirnya ia pun mencoba menghindarinya.


"Tapi Pak—" Naura ingin menolaknya. Namun...


"Tidak ada kata tapi, Naura. Ini perintah."


Saat itu juga Naura menyadari keinginan bosnya. Mau tak mau Naura pun menuruti keinginan bosnya.


Malam harinya, di kampus Naura...


"Siapa ya dia? Kenapa aku teringat padanya?"


Naura bertanya-tanya sambil berjalan ke parkiran kampus. Tampak suasana kampus Naura yang sudah mulai sepi. Hanya ada mahasiswa yang mengikuti ekstensi.


"Naura!" Tiba-tiba seorang pemuda bersweter kuning memanggil Naura dari seberang jalan.


"Eh? Nara sudah datang?" Naura pun segera menghampiri Nara.


"Naura, minggu depan kau ikut denganku, ya?" ajak Nara.


"Ada apa memangnya?" tanya Naura sambil masuk ke dalam mobil Nara.


Nara pun masuk ke dalam mobilnya. Ia segera menghidupkan mesin mobil lalu melaju.


"Temanku ada yang menikah, Naura." Nara menjawabnya.


Naura bingung. "Lho, bukannya kau akan datang bersama Nita? Dia kan pacarmu?" tanya Naura sambil memakai sabuk pengaman di dalam mobil.


Nara terkekeh.


"Nita juga ikut. Maksudku kalau kau ikut, siapa tau ada yang tertarik denganmu," jawab Nara sambil tertawa.


Sontak Naura refleks menjitak kepala Nara. "Apa kau bilang?! Kau pikir aku tidak laku apa?!" Naura memasang wajah kesalnya.


"Aduh ... sakit! Kau seenaknya saja menjitak kepala orang!" Nara pun memegangi kepalanya dengan tangan kiri, sedang tangan kanannya tetap memegang setir mobil.


"Ya, maaf. Aku terbawa emosi." Naura pun jujur kepada sepupunya.


"Hahaha. Sudahlah, ikut saja. Siapa tahu jodohmu ada di sana." Nara menimpali. Seketika Naura pun menoleh ke arahnya.


..........


...Nara...