LOVE ISN'T AIR

LOVE ISN'T AIR
Jalan-Jalan



Sesampainya di tempat wisata...


Hata mengajak Naura mengunjungi tempat wisata yang bisa dibilang lengkap dengan berbagai macam fasilitas dan area. Selain terdapat kebun binatangnya, di tempat itu juga terdapat penginapan dan kolam renangnya. Di salah satu sudut tempat itu juga terdapat area bermain anak-anak. Ada komedi putar, jembatan rajut dan lain sebagainya. Sehingga tempat itu ramai diperbincangkan orang-orang.


Tempat itu sendiri berada di kawasan barat ibu kota. Dekat dengan perbatasan kabupaten. Dan Naura tampak terkejut saat Hata mengajaknya ke sana. Ia tidak mempunyai persiapan sama sekali sebelumnya.


"Kita sudah sampai. Maaf tidak bilang terlebih dahulu." Hata mematikan mesin mobilnya.


Naura diam. Ia berusaha berpikir positif jika bosnya itu akan mengajaknya menemui produser film. Lantas ia pun keluar dari mobil lalu melihat keadaan sekitarnya. Pepohonan tinggi masih terlihat di kanan dan kirinya. Hata memilih memarkirkan mobilnya di dekat area kebun binatang.


"Di sini ada taman bunga yang sangat indah. Kau sudah pernah ke sini sebelumnya, Naura?" tanya Hata seraya berjalan bersama Naura yang masih diam.


Naura celingak-celinguk ke kanan dan ke kiri. "Aku malah baru tahu ada tempat ini, Pak." Naura masih memanggil Hata dengan sebutan pak walau sudah di luar jam kerja.


Hata tersenyum. Ia merasa geli dengan panggilan Naura tersebut. Mereka kemudian melanjutkan perjalanan menuju kebun bunga yang tak jauh dari sana.


"Tempat ini baru dua atau tiga bulan ini dibuka. Awal-awalnya banyak diskon jika berbelanja di sini." Hata menuturkan.


"Diskon?"


Seketika itu juga Naura menoleh cepat ke arah Hata yang berjalan di sisi kanannya. Hata pun menyadari jika Naura tertarik dengan diskon yang dimaksud.


"Nanti kita ke sana, ya. Sekarang kita ke taman bunga dulu," ajak Hata agar hati Naura senang.


Tak lama mereka pun sampai di kebun bunga yang dimaksud. Saat itu juga Naura terpana melihatnya. Bak taman seribu bunga, warna-warni bunga di sana membuat Naura takjub. Ia pun segera mendekati semak mawar biru yang ada di sana. Namun...


"Aduh!" Tiba-tiba Naura kesakitan.


Kenapa aku merasa aneh sekali?


Sementara Hata terus menghisap jari Naura yang terluka lalu membuang darahnya. "Sudah." Akhirnya jari Naura pun sudah tidak mengeluarkan darah lagi. Saat itu juga Naura hanya terdiam dan merona malu di hadapan Hata.


Dia imut sekali.


Hata mulai diselimuti oleh perasaan yang sama. Rasa ketertarikan itu tumbuh perlahan-lahan di dalam hatinya. Terlebih Naura memang cantik dan imut di matanya. Ia harus mengakui jika tertarik pada penulisnya.


"Naura, kau tidak perlu begitu di depanku. Bukankah kita telah lama mengenal?" tanya Hata.


"Tapi, Pak. Aku—"


"Sudah, ini bukan jam kerja. Anggap saja aku temanmu. Dan satu hal lagi. Saat diluar jam kerja, jangan panggil aku dengan sebutan pak. Kau mengerti, Naura?" tanya Hata sambil menatap Naura yang tertunduk malu.


Saat itu juga Naura hanya mengangguk. Ia bingung harus berkata apa. Pada akhirnya mereka melanjutkan perjalanan untuk mengelilingi kebun bunga tersebut. Dan entah mengapa Naura mulai merasa nyaman saat berjalan bersama bosnya.


.........


...Naura...



...Hata...